Panen perdana padi di lokasi Brigade Pangan (BP) Dewa Harapan di Desa Ujung, Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone, Kamis (4/9/2025). Foto: Dok. Humas Pemkab Bone untuk Media
Kabupaten Bone mengukuhkan posisinya sebagai lumbung beras utama di Sulawesi Selatan sepanjang tahun 2025. Kerja keras petani, kehadiran Brigade Pangan, hingga peran strategis Pupuk Indonesia bersatu dalam derap langkah meningkatkan produktivitas di sektor pertanian.
WATAMPONE – Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat menerima kabar bahwa daerah yang dinakhodainya itu sukses mencatatkan prestasi sebagai kabupaten dengan produksi beras tertinggi di Sulawesi Selatan. Kabar baik itu tersiar melalui Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Ketahanan Pangan yang dilaksanakan di Jakarta, Rabu (29/10/2025).
Dalam daftar kabupaten dengan produksi beras tertinggi periode Januari – November 2025 hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS), Kabupaten Bone berada di peringkat kelima nasional dengan produksi beras 524.910 ton. Kabupaten Indramayu di Provinsi Jawa Barat masih mencatatkan produksi beras tertinggi nasional sebanyak 860.974 ton, menyusul Banyuasin dengan produksi 671.114 ton, Karawang 604.713 ton, dan Subang di posisi keempat dengan 589.813 ton.
Pencapaian lima besar nasional dalam produktivitas produksi beras disambut suka cita Andi Asman. Sebagai mantan Kepala Dinas Pertanian sebelum dirinya terpilih menjadi Bupati Bone, dia paham betul pencapaian tersebut tak lepas dari kerja keras petani yang tersebar di 27 kecamatan.
Menurut Andi Asman, pencapaian Bone dalam sektor ketahanan pangan itu turut berdampak pada kesejahteraan petani setempat sekaligus menjadi penopang utama perekonomian daerah.
“Alhamdulillah, kerja keras petani kita membuahkan hasil yang menggembirakan. Ini menjadi bukti Bone bisa menjadi lumbung pangan Sulawesi Selatan,” kata Andi Asman menanggapi sukses Kabupaten Bone masuk lima besar produksi beras tertinggi nasional tahun 2025.
Dia menyatakan, pencapaian Kabupaten Bone sebagai daerah penghasil beras tertinggi di Sulsel dan peringkat lima nasional itu menjadi bukti kebijakan pertanian yang diterapkan Pemkab Bone sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.
“Ini tonggak penting dalam sejarah ketahanan pangan kita (Kabupaten Bone). Ini bukti kebijakan pertanian yang kita terapkan sejalan dengan arahan Menteri Pertanian,” imbuh Andi Asman, penuh semangat.
Senada dengan Bupati Bone, Wakil Bupati Andi Akmal Pasluddin menuturkan, keberhasilan Bone mencatatkan produksi beras tertinggi di Sulsel dan peringkat kelima nasional berkat kerja keras seluruh pihak mulai dari petani, penyuluh pertanian, Brigade Pangan, dukungan strategis Pupuk Indonesia, hingga kebijakan pemerintah daerah yang sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat.
“Kami sampaikan terima kasih ke Kementerian Pertanian atas perhatiannya terhadap Kabupaten Bone. Berbagai bantuan (yang disalurkan) tentu menjadi motivasi petani untuk lebih meningkatkan produksinya. Kami optimis, Bone akan tetap menjadi penopang ketahanan pangan di Sulsel, bahkan nasional,” ujar Wabup Bone.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Tanaman Pangan di Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Bone, Nuraqidah mengungkapkan, kesuksesan Kabupaten Bone mencatatkan produksi beras tertinggi di Sulawesi Selatan di tahun 2025 berkat dukungan dan program pemerintah di bidang pertanian, baik dari pemerintah pusat maupun Pemkab Bone.
Nuraqidah menyebut, salah satunya dengan kehadiran Brigade Pangan yang merupakan program Kementerian Pertanian dan diimplementasikan di daerah-daerah. Dengan melibatkan anak muda milenial, Brigade Pangan turut terlibat dan berperan dalam peningkatan produktivitas pertanian di Kabupaten Bone.
“Kehadiran Brigade Pangan turut berkontribusi pada penambahan luas lahan pertanian Kabupaten Bone yang kini seluas 119.296 hektare melalui Optimasi Lahan Rawa. Yang tadinya lahan tidur, kini bisa ditanami dan berproduksi,” kata Nuraqidah ditemui di ruang kerjanya, Selasa (23/12/2025).
Di samping perluasan lahan pertanian melalui Oplah Rawa, lanjut dia, Brigade Pangan bersama penyuluh pertanian menjadi motor penggerak di lapangan dalam melakukan pendampingan ke petani, mulai dari penyediaan benih, penjadwalan menanam, pemanfaatan alat dan mesin pertanian (Alsintan) hingga pascapanen.
“Dukungan sarana dan prasarana pertanian yang memadai, ketersediaan dan kelancaran distribusi pupuk bersubsidi ke petani turut mendorong peningkatan Indeks Pertanaman. Dari yang tadinya IP 100 menjadi IP 300, yang mana beberapa petani di Bone mampu panen dalam tiga kali setahun,” ujar Nuraqidah.
Kiprah Brigade Pangan
Jumardi, Anggota Brigade Pangan Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone, menuturkan pengalamannya saat mulai bergabung dan dilakukan perekrutan Brigade Pangan pada Oktober 2024. Bersama 13 anggota Brigade Pangan lainnya di wilayah Kecamatan Dua Boccoe, dia berhasil mengoptimalkan lahan tidur sekira 1.900 hektare yang berdampak pada meningkatnya produktivitas pertanian.
Tak hanya itu, melalui pemanfaatan alat-alat dan mesin pertanian, Brigade Pangan melakukan pendampingan ke petani dalam penerapan modernisasi pertanian serta percepatan olah dan tanam. Menurut Jumardi, petani yang dulunya kadang terlambat karena keterbatasan Alsintan, kini bisa melakukan pengolahan lahan pertanian dengan cepat, efisien, dan efektif.
“Kami sebagai Brigade Pangan dibekali dengan Alsintan mulai dari pompa air, traktor roda dua, traktor roda empat, rotavator, combine harvester, dan bekerja sama dengan petani. Mereka cukup terbantu, yang tadinya harus menunggu alat pertanian dari luar daerah saat hendak panen, kini bisa melakukan lebih cepat tanpa harus menunggu alat dari luar,” kata Jumardi.
Tak sampai di situ, lanjut dia, Brigade Pangan bersama Babinsa juga mendampingi para petani saat proses penjualan gabah untuk memastikan harga stabil.
“Pendampingan dan kerja sama dengan petani ini kita lakukan dari hulu ke hilir, mulai dari penyediaan benih sampai pada penjualan,” tutur Jumardi.
Sementara itu, Koordinator Lapangan Brigade Pangan Sulsel Kartika Ekasari, tak menampik kehadiran Brigade Pangan turut mendorong meningkatnya produktivitas di sektor pertanian. Mantan Wakil Direktur 1 Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa ini mengatakan, setiap anggota Brigade Pangan ditugaskan melakukan pendampingan pada petani dengan total luas lahan 200 hektare.
Dia menambahkan, pihaknya terus memacu Brigade Pangan dalam menjalankan tugas dan fungsi membantu petani meningkatkan swasembada pangan melalui pemanfaatan alat-alat dan mesin pertanian dan optimalisasi lahan.
“Tentu, kami terus memacu Brigade Pangan ini lebih optimal dalam bekerja melakukan pendampingan kepada para petani. Kami juga terus mendorong mereka untuk mengembangkan unit usaha guna mewujudkan kemandirian Brigade Pangan. Seperti saat ini, memberikan perlengkapan sekaligus bantuan berupa tray semai padi yang bisa digunakan untuk menjual bibit ke petani,” jelas Kartika, di sela-sela penyerahan bantuan Alsintan kepada Brigade Pangan Kabupaten Bone, Selasa (23/12/2025).
Dia mengurai, tercatat sebanyak 27 Brigade Pangan Optimalisasi Lahan Rawa (Oplah Rawa) di Kabupaten Bone yang direkrut pada Oktober 2024. Setiap Brigade Pangan beranggotakan 15 orang.
Selanjutnya, pada tahun 2025, kembali direkrut sebanyak 12 Brigade Pangan Oplah Rawa, 56 Brigade Pangan Oplah Non-rawa, dan 6 Brigade Pangan Cetak Sawah Rakyat (CSR). Adapun total Brigade Pangan di Kabupaten Bone yang sudah terbentuk sebanyak 101 Brigade Pangan yang tersebar di 27 kecamatan.
Rembuk Tani hingga Dorong Penggunaan Pupuk Organik
Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bertanggung jawab atas produksi, ketersediaan, dan distribusi pupuk bersubsidi, Pupuk Indonesia memiliki peran krusial dalam keberhasilan pertanian di Kabupaten Bone. Di antaranya menjamin ketersediaan pupuk bersubsidi sesuai kebutuhan petani, distribusi pupuk tepat waktu dan tepat sasaran hingga ke tingkat kios, dan edukasi dalam pemanfaatan pupuk organik bersubsidi.
Salah satunya, melalui kegiatan “Rembuk Tani” yang dihadiri ratusan petani di Kabupaten Bone pada Juli 2025. Dalam kesempatan itu, General Manager Regional 4 PT Pupuk Indonesia (Persero) Wisnu Ramadhani, memuji posisi Kabupaten Bone sebagai salah satu tulang punggung ketahanan pangan di Indonesia Timur. Dia juga mengapresiasi penyerapan pupuk bersubsidi di Kabupaten Bone yang cukup baik.
“Dengan potensi produksi yang mampu mencapai 1 juta ton per tahun, jauh melampaui kebutuhan lokal sebesar 90 ribu ton, Bone memiliki kontribusi yang sangat besar sebagai lumbung pangan,” kata Wisnu pada kegiatan yang dihadiri 800 peserta dari kalangan petani, kios, distributor, dan penyuluh pertanian ini.
Pada kesempatan berbeda, Senior Manager (SM) Pendukung Penjualan Regional 4 Pupuk Indonesia, Endah Wulandari, mendorong petani di Kabupaten Bone untuk menggunakan pupuk organik Petroganik melalui pemupukan berimbang dengan mengkombinasikan pupuk subsidi dan nonsubsidi sesuai rekomendasi Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK).
“Penggunaan Petroganik sangat penting dalam budidaya padi karena dapat memperbaiki kesuburan fisik tanah. Petroganik membuat tekstur tanah menjadi lebih gembur sehingga akar padi tumbuh optimal, serta meningkatkan kadar C-Organik tanah yang mendukung penyerapan hara lebih baik,” kata Endah pada seremoni panen pada lahan demplot PT Pupuk Indonesia (Persero) di Desa Mappesangka, Kecamatan Ponre, dalam siaran persnya, Jumat (11/9/2025).
Dia memastikan ketersediaan stok pupuk bersubsidi, termasuk Petroganik, di Kabupaten Bone sesuai dengan ketentuan pemerintah.
“Demplot ini merupakan bukti nyata manfaat pemupukan berimbang menggunakan produk Pupuk Indonesia. Kami berharap petani di Bone semakin termotivasi untuk menebus pupuk Petroganik bersubsidi yang telah dialokasikan pemerintah,” ucap Endah Wulandari.
Diketahui, alokasi pupuk bersubsidi untuk Kabupaten Bone mengalami penambahan pada tahun 2025, dengan rincian pupuk Urea 78.785 ton, NPK 64.372 ton, NPK Formula Khusus 1.340 ton, dan Organik 2.850 ton yang meliputi 5.671 kelompok tani. Penyaluran pupuk bersubsidi dari kios ke petani dilakukan melalui aplikasi Integrasi Pupuk Bersubsidi (iPubers) yang semakin memudahkan petani dalam menebus pupuk bersubsidi.
“Petani cukup datang ke kios dengan membawa KTP, untuk selanjutnya di-input di aplikasi iPubers,” pungkas Account Executive Perwakilan PT Pupuk Indonesia, Syarifuddin.
[Sapriadi]
Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Provinsi Sulawesi Selatan Reza Faisal Saleh melakukan kunjungan…
Mantan Penjabat Bupati Wajo Andi Bataralifu mengemban tugas baru di lingkup Kementerian Dalam Negeri.
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto memanggil Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Syahganda Nainggolan dan Wakil…
Pergantian Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) dari M Qodari kepada Syahganda Nainggolan pada Jumat (2/10)…
Sehari setelah dilantik sebagai Kepala Kepolisian RI pada Kamis (1/10) oleh Presiden Prabowo Subianto, Jenderal…
Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dalam hal akses layanan…