Ilustrasi buzzer politik. Sumber Foto: Kompasiana
Catatan: Adi Pallawalino
Pilkada serentak 2024 sudah berlalu. Rabu (27/11), menjadi hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia dengan kesuksesan melaksanakan pilkada serentak di seantero tanah air.
Gaung pesta demokrasi lima tahunan ini pun dirasakan di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Pada Pilkada Wajo 2024, dua pasangan calon bertarung.
Mereka yakni pasangan nomor urut 1 Andi Rosman-dr Baso Rahmanuddin (AR-Rahman). Pasangan ini diusung gabungan partai politik, yaitu Partai Gerindra, Golkar, Demokrat, PKB, PPP, NasDem, Gelora, PDIP, Hanura, Perindo, PSI, PBB, dan Partai Buruh.
Sementara pasangan nomor urut 2, Amran Mahmud-Amran SE, yang mengusung tagline “Pammase Berlanjut” diusung dua partai, yakni PAN dan PKS. Pasangan ini merupakan mantan Bupati dan Wakil Bupati Wajo periode 2019 – 2024.
Lazimnya kontestasi politik, Pilkada Wajo 2024 diwarnai tensi tinggi antarpendukung paslon. Kondisi head to head atau pilkada yang hanya diikuti dua paslon memicu tingginya polarisasi antara kedua pendukung pasangan calon.
Sejumlah platform media sosial, mulai dari grup-grup WhatsApp hingga Facebook, menjadi sarana bagi pendukung kedua pasangan calon untuk beradu argumen dan berdebat tentang paslon masing-masing.
Kendati demikian, media sosial Facebook kemudian banyak memunculkan akun-akun fake yang melakukan ujaran kebencian atau hate speech.
Mereka bertingkah polah sebagai buzzer yang lebih banyak melakukan kampanye negatif dan memojokkan pihak-pihak yang berbeda pilihan dengannya.
Di era media sosial saat ini, tak dipungkiri buzzer telah menjadi salah satu faktor penting dalam penggalangan opini di dunia maya. Namun demikian, buzzer ini bisa berdampak baik maupun memberikan citra buruk.
Jika dimaksimalkan dengan baik untuk melakukan kampanye positif, akan berdampak pada branding dan meningkatnya simpati ke pasangan calon yang didukungnya.
Di sisi lain, keberadaan buzzer juga akan merugikan paslon itu sendiri bila mana yang bersangkutan lebih banyak melakukan serangan terhadap pribadi dari pasangan calon yang menjadi rival paslon yang didukungnya.
Di Pilkada Wajo sendiri, ada beberapa buzzer yang memang punya kedekatan dengan paslon yang dijagokannya.
Namun, bukannya berperan dalam menaikkan engagement dan ketertarikan pengguna media sosial terhadap paslon yang didukungnya.
Justru, polah buzzer yang setiap hari melemparkan ujaran kebencian itu malah menjadi bumerang dan menurunkan simpati pemilih ke paslon yang didukungnya.
“Bagaimana tidak, saya yang tadinya respek ke paslon yang didukungnya, berubah menjadi antipati karena ulah buzzer yang cenderung memojokkan. Hanya karena lantaran berbeda pilihan,” kata salah seorang pengguna medsos berinisial SR.
“Kata-kata seperti pendukung sakit hati, atau cemoohan lainnya hanya karena berbeda pilihan sungguh di luar kewajaran. Padahal kalau mau dipikir, pilkada tidak akan bisa berjalan bila mana tidak ada perbedaan pilihan. Ini jadi pelajaran bagi para kandidat, untuk benar-benar selektif dalam memilih buzzer atau admin media sosial. Orang bisa kehilangan simpati, hanya karena ulah negatif si buzzer tadi,” pungkas dia.
=========
* Penulis merupakan pendiri KABARWAJO.id dan Pengurus Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulawesi Barat.
Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Provinsi Sulawesi Selatan Reza Faisal Saleh melakukan kunjungan…
Mantan Penjabat Bupati Wajo Andi Bataralifu mengemban tugas baru di lingkup Kementerian Dalam Negeri.
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto memanggil Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Syahganda Nainggolan dan Wakil…
Pergantian Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) dari M Qodari kepada Syahganda Nainggolan pada Jumat (2/10)…
Sehari setelah dilantik sebagai Kepala Kepolisian RI pada Kamis (1/10) oleh Presiden Prabowo Subianto, Jenderal…
Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dalam hal akses layanan…