WA Channel

JAKARTA – Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono menyesalkan aksi pencurian dan perusakan peralatan monitoring gempa dan peringatan dini tsunami yang terjadi di Desa Buae, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan.

Menurut Daryono, telah terjadi 12 kali kasus pencurian dan perusakan peralatan BMKG sejak tahun 2015, sedangkan khusus stasiun seismograf yang ada di Desa Buae, Sidrap, merupakan keempat kalinya.

“Pencuri mengambil enam aki dan dua panel surya. Ini kasus keempat kalinya pencurian dan perusakan peralatan BMKG di lokasi yang sama,” ungkap dia, Minggu (16/2).

Daryono menambahkan, aksi pencurian itu terjadi pada Rabu (12/2). Kata dia, pencuri membongkar shelter, mengambil seluruh baterai (aki) daya utama alat monitoring gempa.

BMKG memutuskan mencabut seluruh alat yang tersisa, termasuk sensor, digitizer dan komunikasi untuk hindari kerugian lebih besar.

Daryono menyebutkan, dalam catatan BMKG, Sidrap pernah diguncang gempa dahsyat 6 magnitudo pada 29 September 1997. Saat itu, 16 orang dilaporkan tewas, 35 orang luka berat, serta 250 rumah rusak.

“Sulsel juga terdampak tsunami Teluk Mandar 11 April 1967 yang menewaskan 58 orang,” imbuhnya.

Sesar Walanae termasuk zona patahan aktif yang bisa memicu gempa hingga kekuatan 7 magnitudo. Foto: Dok. Daryono

Daryono mengatakan, wilayah Kabupaten Sidrap dan sekitarnya secara tektonik merupakan daerah rawan gempa karena terletak di zona patahan aktif Sesar Walanae yang bisa memicu gempa hingga 7 magnitudo.

“Lokasi pencurian dan perusakan peralatan monitoring gempa dan tsunami di Sidrap secara tektonik merupakan daerah rawan gempa. Pinrang, Rappang, dan Parepare memiliki tingkat aktivitas kegempaan sangat tinggi dengan dampak ikutan longsor (landslide), runtuhan batu (rockfall), dan likuifaksi,” jelas Daryono.

Dia mengungkapkan, tidak mudah untuk segera mengganti peralatan yang hilang atau rusak karena peralatan tersebut menggunakan teknologi terkini yang canggih dengan biaya yang sangat tinggi.

“Kami memohon dengan sangat untuk tidak melakukan vandalisme, perusakan, pencurian peralatan BMKG. Jika belum bisa aktif terlibat dalam mitigasi bencana dan pengurangan risiko bencana, setidaknya jangan merusak alat yang bertujuan melindungi keselamatan masyarakat di Sulawesi Selatan,” seru Daryono.

“Kami juga meminta pemerintah daerah untuk ikut berperan dalam mengamankan peralatan BMKG yang telah dipasang di lokasi strategis demi kepentingan masyarakat,” pungkasnya. []