KABARWAJO.id – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan bersama Anggota Komisi IX DPR RI Hasnah Syam melaksanakan edukasi terkait stunting kepada sejumlah warga yang digelar di Gedung PGRI Kabupaten Wajo, Sabtu (29/7/2023).
Dalam kesempatan itu, Hasnah Syam mengatakan dengan adanya kolaborasi bersama BKKBN diharapkan upaya percepatan penurunan stunting khususnya di Kabupaten Wajo dapat lebih cepat menurun.
Menurut dia, melahirkan anak yang bebas stunting dibutuhkan keterlibatan seluruh anggota keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.
“Saya harapkan ibu-ibu untuk memperhatikan bagaimana asupan gizi anak agar stunting bisa dicegah. Selain itu remaja yang ingin menikah agar memperhatikan usia ideal menikah, wanita 21 tahun dan laki-laki 25 tahun,” kata Hasnah Syam.
Kepala BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan Shodiqin menyatakan stunting bukan merupakan sebuah penyakit. Namun merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan(HPK) yaitu saat mulai terbentuknya janin dalam kandungan hingga bayi berusia 2 tahun.
“Stunting dapat terjadi akibat ibu yang kekurangan nutrisi pada saat kehamilannya, anak kekurangan gizi dalam 2 tahun usianya, dan sanitasi yang buruk dengan akses air bersih yang tidak layak,” urai Shodiqin.
“Stunting dapat dicegah dan dikoreksi, oleh karena itu, keluarga menjadi kunci dalam pencegahan terjadinya stunting baru dengan menekankan pentingnya pola makan yang sehat dan bergizi dalam keluarga,” sambung dia.
Shodiqin menambahkan, stunting tidak hanya persoalan tinggi badan. Namun yang lebih buruk adalah dampaknya terhadap kualitas hidup individu akibat munculnya penyakit kronis maupun tingkat intelektual yang rendah.
Data SSGI tahun 2022, angka prevalensi stunting Sulawesi Selatan sebesar 27,2 persen. Angka ini masih di atas nasional yaitu 21,6 persen, sedangkan Kabupaten Wajo 22,4 persen. (*/dip)




Tinggalkan Balasan