Oleh : Adi Pallawalino
(Founder KABARWAJO.ID)
Pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2024 lalu menyisakan cerita tersendiri. Pada pilkada yang hanya diikuti dua pasangan calon, polarisasi nampak terlihat di semua lini.
Tak hanya di masyarakat, polarisasi ini pun terjadi pada penggiringan opini publik di media massa. Konon, petahana yang kembali bertarung di pilkada acap kali mendapatkan dukungan lebih banyak dari media partisan ketimbang pasangan penantang. Mengapa demikian?
Salah seorang kawan pernah berujar, media-media partisan tersebut loyal ke petahana karena sudah menikmati gelontoran dana kerja sama dari sang petahana.
“Itu sudah rahasia umum, kawan. Di sini, bahkan ada oknum pemilik media yang terkesan mendominasi anggaran kerja sama. Kita-kita ini hanya kebagian yang kecil-kecil saja. Entah apa kelebihan dia sampai mendominasi anggaran kerja sama media di sini,” cerita kawan tadi merujuk ke salah satu daerah.
“Jadi itu salah satu alasan mengapa dia loyal ke petahana?,” tanyaku, sambil berusaha menelisik lebih jauh.
“Yah, kamu lihat sendiri. Saat kampanye, dia kan cuma hadir pada satu paslon saja, itu sudah bukti nyata partisan. Beda halnya kan kalau terlihat di kampanye dua paslon yang bertarung,” imbuh kawan tadi, lalu memperlihatkan satu foto di ponselnya.
“Iya juga sih, jadi bagaimana kalau paslon yang didukungnya sampai kalah?” tanyaku kembali.
“Yah, pasti akan merapatlah. Kan incar “kue” dia,” seloroh kawan tadi.
Beberapa bulan setelah perbincangan di atas, apa yang dikatakan kawan tadi benar adanya. Pilkada usai, kepala daerah terpilih yang dilantik mulai bekerja.
Oknum jurnalis partisan pun mulai memainkan jurus andalannya, diam-diam merapat. Bermodal map yang dibawa ke mana-mana, dia berharap kembali kebagian “kue” sebagaimana yang dinikmati sebelumnya.
“Nah kan, dulu di seberang jalan sekarang pelan-pelan merapat, pasang muka manis dan narasi manis-manis,” ucap kawan tadi, sebut saja namanya Beddu, sembari terbahak-bahak. (*)




Tinggalkan Balasan