Salah satu peran Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dalam mewujudkan masyarakat melek ekonomi dan adaptif terhadap perubahan, yakni mendorong digitalisasi ekonomi. Di antaranya melalui transaksi digital dengan QRIS yang kini terus bertumbuh, baik jumlah pengguna maupun merchant.
Quick Response Code Indonesia Standard, disingkat QRIS, bukan lagi hal yang asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Sistem pembayaran digital yang merupakan inovasi Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral ini diluncurkan pada tahun 2019 yang memudahkan transaksi keuangan.
Bayangkan ketika Anda tak sempat membawa uang tunai sementara saldo memadai, Anda tinggal mengarahkan smartphone untuk melakukan pembayaran dengan cara memindai barcode QR yang biasa dipasang di meja kasir.
Cukup sekali pindai (scan), lalu melakukan transaksi sesuai dengan nominal tanpa konsumen merogoh uang tunai atau pemilik merchant direpotkan dengan mencari uang kembalian.
QRIS sebagai sarana pembayaran digital pertama kali diluncurkan Bank Indonesia bekerja sama dengan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) tepat pada 17 Agustus 2019, dan resmi diberlakukan pada 1 Januari 2020.
Ini sejalan dengan Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) yang diluncurkan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan masyarakat pada uang tunai dan memaksimalkan pembayaran digital.
Kala pandemi COVID-19 melanda yang membatasi kontak fisik pada awal 2020 hingga pertengahan 2021, transaksi nontunai mulai menjadi pilihan masyarakat dalam bertransaksi yang aman, cepat, dan mudah.
Merujuk data Bank Indonesia yang disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo, transaksi pembayaran digital melalui QRIS melonjak sebesar 151,70 persen secara tahunan (year on year) pada Mei 2025 yang didukung peningkatan jumlah pengguna dan merchant.
“Volume transaksi aplikasi mobile dan internet juga terus tumbuh masing-masing sebesar 29,32 persen year on year dan 7,54 persen year on year,” ungkap Perry Warjiyo dalam konferensi pers pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di Jakarta, Rabu (18/6/2025).
Sementara di Provinsi Sulawesi Selatan, BI Perwakilan Sulsel mencatat peningkatan penggunaan QRIS pada Februari 2025 sebanyak 7,87 juta transaksi atau tumbuh 134,42 persen secara tahunan (yoy).
Kepala Perwakilan BI Sulsel Rizki Ernadi Wimanda menyebutkan, peningkatan volume transaksi itu diikuti dengan nilai transaksi QRIS yakni Rp 967,3 miliar atau naik 111,46 persen (yoy). Menurutnya, volume dan nominal transaksi yang tumbuh signifikan tersebut mencerminkan semakin luasnya adopsi masyarakat tentang sistem pembayaran digital.
“Capaian yang diperoleh Sulsel ini sejalan dengan Implementasi QRIS sepanjang 2024 yang menunjukkan kinerja positif, dengan jumlah pengguna mencapai 55,42 juta dan merchant sebanyak 35,85 juta,” kata Rizki dalam paparannya di Makassar, Kamis (24/4/2025).

Kemudahan dalam Bertransaksi
Irwan, salah seorang pengusaha warung kopi di Kota Sengkang, Kabupaten Wajo, tak menampik kehadiran QRIS mempermudah transaksi keuangan dengan pelanggannya.
Di warung kopi miliknya, pelanggan bisa melakukan transaksi secara nontunai dengan menggunakan barcode QR yang dipajang di meja kasir.
“Biasa kan ada pelanggan yang tidak membawa uang tunai. Dengan adanya QRIS, ini lebih memudahkan dalam transaksi yang aman dan praktis,” kata Irwan alias Ato, saat ditemui di warkopnya, Minggu (22/6/2025).
Andi Chandra, salah seorang remaja gen Z di Kota Sengkang, mengaku dirinya kini jarang membawa uang tunai dalam jumlah yang banyak. Uang tunai di dompetnya hanya disiapkan untuk kebutuhan beli BBM.
“Paling Rp 50.000 hingga Rp 100.000, itu pun uang pembeli bensin karena beberapa penjual BBM eceran belum memiliki QRIS,” ujar dia.
“Selebihnya saya lebih banyak melakukan transaksi digital, apalagi QRIS sudah banyak digunakan pelaku UMKM di Kabupaten Wajo dan penjual-penjual lainnya,” sambung Andi Chandra.
QRIS Cegah Peredaran Uang Palsu
Kehadiran sistem pembayaran digital QRIS juga diharapkan bisa mencegah peredaran uang palsu. Kekhawatiran atas maraknya peredaran uang palsu yang terjadi di Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu turut menjadi perhatian Anggota Komisi XI DPR RI, Andi Yuliani Paris.

Menurut politisi yang akrab disapa AYP ini, perlu adanya edukasi ke masyarakat untuk mengenali ciri-ciri uang palsu dan perbedaannya dengan uang asli.
Dia juga mengimbau masyarakat lebih berhati-hati dalam bertransaksi sehingga peredaran uang palsu dapat diminimalisasi. Salah satunya, dengan melalui transaksi nontunai QRIS.
“Saya mengimbau masyarakat agar bisa mengenali perbedaan uang asli dan palsu. Bank Indonesia juga perlu lebih aktif melakukan edukasi dan sosialisasi tentang cara meraba, menerawang, serta melihat secara detail perbedaan antara uang asli dan palsu,” kata Andi Yuliani Paris, saat dikonfirmasi, beberapa waktu lalu.
Hal lain yang perlu menjadi perhatian konsumen yakni tetap cermat dan berhati-hati saat melakukan transaksi dengan menggunakan barcode QR untuk menghindari modus penipuan QRIS palsu.
Perlu diperhatikan di antaranya memeriksa informasi QRIS setelah dipindai serta memastikan nama penerima sama dengan nama merchant yang tertulis dalam lembar barcode QRIS.
Dan yang terpenting, tidak lupa mengonfirmasi ulang nama merchant dan nominal pembayaran serta status pembayaran berhasil kepada pemilik merchant.
Dengan demikian, kita bisa terhindar dari modus penipuan dengan menggunakan kode QR palsu dan melakukan transaksi dengan mudah, aman, dan praktis tanpa harus direpotkan lagi mencari uang kembalian.

(Penulis: Sapriadi)




Tinggalkan Balasan