JAKARTA – Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar mengajak masyarakat untuk lebih teliti dalam memilah informasi, terutama informasi hoaks yang tidak jelas kebenarannya dan berpotensi memecah-belah masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Menteri Agama usia dirinya diterpa hoaks terkait kasus kekerasan seksual di lingkungan pesantren yang dibuat menjadi konten disinformasi di media sosial. Hal itu disinyalir secara sengaja di-framing untuk menyerang Menteri Agama.
“Mari menjadi pemutus rantai hoaks dengan saring sebelum sharing. Cerdas bermedia sosial adalah cara kita menjaga kedamaian untuk sesama,” kata Menag dalam keterangan tertulis, Jumat (8/5).
Nasaruddin Umar menegaskan sikapnya tidak ada toleransi untuk tindak kekesaran dan pelecehan, baik fisik, verbal, maupun seksual.
“Sikap saya terkait tindak kekerasan seksual itu jelas dan tegas. Tidak ada toleransi untuk tindak kekerasan seksual. Saya tidak pernah menoleransi sedikit pun tindakan yang mencederai martabat kemanusiaan,” ujar Menag di Jakarta.
“Saya tidak hanya sebagai Menteri Agama, tapi sebagai seorang manusia juga menyatakan semua yang bertentangan dengan moralitas itu harus menjadi musuh bersama,” sambungnya.
Menag menekankan lembaga pendidikan harus menjadi ruang aman dan bermartabat bagi seluruh peserta didik. Menurut dia, Kementerian Agama sudah memperkuat regulasi dan mekanisme pembinaan di satuan pendidikan keagamaan yang akan mengawasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pondok pesantren dan mencegah penyimpangan-penyimpangan yang terjadi.
“Lembaga pendidikan agama harus menjadi tempat paling aman bagi anak-anak kita untuk belajar, harus menjadi contoh masyarakat yang ideal,” kata Menag.
“Ini akan menjadi concern kami, terutama masalah terkait pondok pesantren ya. Kami sudah membentuk satuan pembinaan Pondok Pesantren, yang mana pimpinan pondok pesantren berkolaborasi untuk mengawasi dan mencegah penyimpangan apapun yang terjadi di pondok pesantren,” pungkasnya.



