Kabar duka datang dari salah seorang wartawan senior di Kabupaten Wajo, Selasa (11/2/2025) subuh.
Bakri Remmang yang belakangan fokus menjalani profesi sebagai advokat mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar.
Beberapa hari sebelumnya, Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sulawesi Selatan ini memang dikabarkan mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit karena penyakit yang dideritanya.
Saya mulai mengenal sosok Bakri Remmang melalui Surat Kabar Umum (SKU) Wajo Mesra yang mulai dirintisnya di masa pemerintahan Bupati Wajo, Naharuddin Tinulu.
Saya yang masih duduk di bangku SMA Negeri 1 Maniangpajo kala itu sering kali membaca media cetak lokal tersebut di perpustakaan sekolah.
“Ini sesuatu yang menarik karena dengan membaca Wajo Mesra, saya bisa lebih banyak mendapatkan informasi lebih banyak tentang Wajo,” pikirku saat itu.
Dalam rentang 2001 – 2005, arus informasi tentu belum semasif sekarang di tengah era digitalisasi.
Selain melahap bacaan buku-buku di perpustakaan di kala senggang, nyaris setiap hari saya membaca Harian Fajar yang saat itu satu-satunya koran harian langganan di sekolah. Sesekali, membaca SKU Wajo Mesra yang terbit bulanan saat itu.
Beberapa tahun berselang, sebagai wartawan pemula, saya pun kerap bertemu dengan Bakri Remmang. Dari perkenalan ini, saya melihat antusiasme yang tinggi sosok asal Kecamatan Belawa itu dalam dunia jurnalistik.
Sekira tahun 2010 atau 2011, dia mengutarakan niatnya untuk merintis sebuah media online. Saat itu, saya bekerja di Majalah Makassar Terkini serta aktif sebagai blogger dan kerap menuangkan tulisan di kompasiana.com.
Dari diskusi melalui pesan singkat berupa SMS itu, Bakri Remmang menyatakan akan menggunakan nama “Wajo Terkini” untuk media online yang dirintisnya karena lebih mengena.
Pelan-pelan, dia menanggalkan nama “Wajo Mesra”. Jika kemudian dia sukses merintis jaringan media online dengan kantor pusat di Wajo, bukan sesuatu yang mengherankan bagi saya.
Dari awal merintis media online Wajo Terkini, Bakri Remmang beberapa kali menyatakan ketertarikan untuk mengembangkan jaringan media online nasional yang berkantor pusat di Wajo.
“Mungkin ini bagus kalau kita bisa buka biro di setiap provinsi,” ucapnya, kala itu.
Selepas itu, saya lebih banyak berkiprah di luar Kabupaten Wajo. Pernah di Harian Radar Bone, Harian Amanah di Makassar, hingga terpilih sebagai partner media nasional kumparan untuk wilayah Sulawesi Barat.
Dari “kejauhan”, saya tetap menyimak pergerakan Bakri Remmang dalam mengembangkan jaringan media online-nya di tengah aktivitas lainnya sebagai advokat.
“Hebat juga ini orang, dia betul-betul mewujudkan impiannya,” gumamku, yang merasa takjub dengan kiprahnya membangun jaringan media online yang dirintisnya.
Selain di dunia jurnalistik, Bakri Remmang juga berhasil menapaki karier sebagai advokat dengan mendirikan Perhimpunan Advokat Republik Indonesia (Peradri), organisasi advokat pertama yang berkedudukan di luar Pulau Jawa.
Dia juga sukses merintis Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bhakti Keadilan yang merupakan cikal bakal Pos Bantuan Hukum LBH-BK di berbagai Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama.
“Sedih rasanya, banyak juga kisah bersama almarhum. Sama-sama mengurusi Partai NasDem Wajo, media online Wajo Terkini, hingga bentuk LBH Bhakti Keadilan dan Peradri,” kata Andi Gusti Makkarodda, sebagai salah seorang sahabat mendiang Bakri Remmang.
“Semua dirintis dari bawah. Awal karier sebagai jurnalis di masa pemerintahan Bupati Wajo Naharuddin Tinulu,” pungkasnya.
* Catatan : Adi Pallawalino (Founder KABARWAJO.ID, Pengurus AMSI Sulawesi Barat)




Tinggalkan Balasan