Makassar – Sebanyak 50 penceramah atau Da’i dan Da’iyah se-Sulawesi Selatan yang berasal dari berbagai unsur organisasi keagamaan mengikuti seremoni pembukaan Bimbingan Tekhnis (Bimtek) Peningkatan Kompetensi Penceramah yang digelar di Hotel Best Western Beach Makassar, Jl. Bontolempangan, Jumat 23 Juni 2023.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bidang Penerangan Agama Islam dan Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan ini dibuka langsung oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI Prof. Kamaruddin Amin.
Dalam arahannya, Kamaruddin Amin yang juga merupakan Ketua Umum Majelis Da’i Kebangsaan mengungkapkan terdapat 12 ribuan Da’i saat ini di Indonesia, dan salah satu program yang akan dilaksanakan pada tahun ini adalah mengirim 500 Da’i ke daerah-daerah, bahkan keluar negeri mengingat tingginya permintaan dai Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.
Lebih lanjut Kamaruddin Amin membeberkan, bahwa secara sosiologis Indenesia yang merupakan negara bangsa yang sangat majemuk di dunia atau yang ia juluki most diverse country in the world, memiliki potensi konflik yang sangat besar karena adanya perbedaan tersebut.
“Semakin kita banyak perbedaan semakin besar potensi konflik. Olehnya itu urusan agama tidak bisa dihandle sendiri oleh pemerintah, tidak bisa diurus sendiri, harus bersama masyarakat atau civil society yang berbasis agama, dan itulah kehebatan indonesia karena mampu melakukan itu,” kata alumni Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang ini.
Kamaruddin Amin yang hingga saat ini masih aktif berceramah kemudian menceramahi 50 penceramah yang hadir pada acara pembukaan ini. Dirinya mengibau kepada para Da’i dan Da’i agar senantiasa memperdalam ilmu agama dan terus belajar karena kontestasi di era digital saat ini sangat ketat.
“Di era globalisasi, di era digilitassi, ilmu bisa diakses dari mana saja. Olehnya itu seorang penceramah harus memiliki ilmu yang luas, ilmu yang dalam, memiliki communication skills yang bagus, artikulasi yang bagus dan bisa membaca kebutuhan umat,” tegas mantan Wakil Rektor Bidang Kerjasama Universitas Islam Negeri Alauddin Makasar periode 2007 – 2012 ini.
Mengakhiri “ceramahnya”, Kamaruddin Amin menyoal tentang devenisi moderasi beragama, dimana menurutnya esensi dari moderasi beragama adalah saling menghormati dan saling menghargai.
“Moderasi beragama saya gambarkan seperti ini, saya sebagai orang islam, saya yakin agamaku paling benar dan secara akidah tidak ada lagi diskusi atau perdebatan tentang ini, akan tetapi saya memiliki tetangga, ada kolega, ada saudara sebangsa setanah air yang berbeda agama dengan saya dan juga yakin agamanya benar. Sebagai warga negara kita punya hak dan kewajiban yang sama, namun sebagai umat beragama kita punya keyakinan yang berbeda. Tugas kita hanya saling menghormati dan menghargai,” pungkasnya.
Sebelumnya, PLH Kepala Kanwil Kemenag Sulsel Ali Yafid dalam sambutannya mengatakan Bimtek bagi para penceramah ini penting dilaksakan, terutama dalam menggaungkan moderasi beragama demi merawat kebinaekaan dan menciptakan harmonisasi di Sulawesi Selatan.
Olehnya itu, Ali Yafid berharap agar kegiatan bimtek Peningkatan Kompetensi Penceramah ini dapat dilaksanakan secara berkesinambungan untuk memberikan pemmbekalan dan pembinaan kepada para Da’i dan Da’iyah se Sulsel.
“Kami berharap kegiatan seperti ini kembali dilaksanakan dan jika perlu kegiatan-kegiatan Dirjen Bimas Islam lainnya juga bisa dibawa ke Makassar. Kami butuh dukungan moril dan meteril dari Bapak Dirjen,” pintanya.
Hal senada disampaikan Kepala Bidang Penerangan Agama Islam dan Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kanwil Kemenag Sulsel, Abdul Gaffar. Dirinya juga berharap kegiatan Bimtek ini bukan hanya dilakukan kali ini saja, tapi dilaksanakan secara berkelanjutan dengan jumlah peeerta yang lebih banyak lagi.
“Kami mohon bisa diprogramkan untuk dilaksanakan dilain kesempatan dengan peserta yang lebih banyak lagi,” harapnya. (hms)




Tinggalkan Balasan