Solusi konkret dalam membantu petani di Kabupaten Wajo menghadapi kekeringan yakni dengan menghadirkan armada pemadam kebakaran untuk membantu menyuplai air ke areal persawahan yang dilanda kekeringan.
Sengkang, KABARWAJO.ID – Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Wajo, Herman Arif, menyatakan solusi konkret dalam membantu petani di Kabupaten Wajo menghadapi kekeringan yakni dengan menghadirkan armada pemadam kebakaran untuk membantu menyuplai air ke areal persawahan yang dilanda kekeringan.
“Ini jadi solusi terakhir. Banyak bantuan (pompanisasi) turun, tapi tanpa air semua tidak berarti,” ungkap Herman Arif kepada KABARWAJO.ID, Senin (10/8) malam.
Ia menyebutkan, saat ini terdapat sebanyak 166 titik bor dangkal untuk membantu pengairan sawah yang sudah berjalan sejak awal tahun 2026 serta sebanyak 75 pompa irigasi.
“Saat ini juga tengah diusulkan pompa 3 inchi sebanyak 244 unit. Namun, itu tidak akan maksimal tanpa (bantuan) air,” ujar Herman Arif.
Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Wajo Sulhan bergerak cepat dengan mendatangkan armada pemadam kebakaran untuk membantu suplai air ke areal persawahan yang mengalami kekeringan.
Legislator Partai Golkar ini berharap hal itu menjadi solusi di tengah kemarau panjang yang berdampak krisis air untuk pertanian.
“Semoga ini bisa menjadi solusi sementara dalam menghadapi kekeringan,” kata Sulhan.
Sebelumnya diberitakan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV memperkirakan wilayah Sulawesi Selatan, termasuk Kabupaten Wajo, akan memasuki tren penurunan curah hujan secara bertahap mulai Juli hingga puncaknya pada September 2026.
Mengutip rilis Pusdalops-PB BPBD Kabupaten Wajo, prakiraan BMKG itu berdasarkan hasil analisis kondisi fisis dan dinamis atmosfer. Sifat hujan selama periode Juli – September 2026 didominasi kategori Bawah Normal hingga Normal, yang menandakan kesiapan penuh terhadap potensi dampak kekeringan.
Pada bulan Juli 2026, analisis BMKG Wilayah IV menyebutkan wilayah Kabupaten Wajo mulai mengalami masa transisi menuju musim kemarau. Curah hujan bervariasi namun cenderung menurun dibanding bulan-bulan sebelumnya.
Bulan Agustus 2026, BMKG memprediksi curah hujan akan menurun signifikan dengan sifat hujan bawah normal hingga normal. Imbas penurunan curah hujan yang tajam, sebagian besar wilayah akan mulai merasakan dampak cuaca kering, dengan intensitas hujan yang sangat rendah (kategori rendah).
Pada September 2026, analisis BMKG menyebutkan sebagai puncak fase kering dalam periode triwulan tersebut. Curah hujan sangat minim di seluruh wilayah, meningkatkan risiko defisit air meteorologis secara signifikan.
Untuk itu, sebagai langkah mitigasi, BMKG menyarankan adanya manajemen sumber daya air dan koordinasi dengan Dinas Pertanian maupun PDAM untuk mengantisipasi potensi kekeringan pasokan air bersih warga dan pengairan sawah. Selain itu, warga juga diingatkan untuk mewaspadai kebakaran lahan. []
Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Provinsi Sulawesi Selatan Reza Faisal Saleh melakukan kunjungan…
Mantan Penjabat Bupati Wajo Andi Bataralifu mengemban tugas baru di lingkup Kementerian Dalam Negeri.
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto memanggil Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Syahganda Nainggolan dan Wakil…
Pergantian Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) dari M Qodari kepada Syahganda Nainggolan pada Jumat (2/10)…
Sehari setelah dilantik sebagai Kepala Kepolisian RI pada Kamis (1/10) oleh Presiden Prabowo Subianto, Jenderal…
Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dalam hal akses layanan…