Categories: Pemilu 2024

KPU RI Undang Pemantau Asing Amati Pemilu 2024

Pemantau asing pada pemilu dinilai sangat penting untuk dapat mengamplifikasi jika ada persoalan di dalam penyelenggaraan pesta demokrasi itu. Mengapa pemantau asing kurang antusias mengamati pemilu di Indonesia?

JAKARTA (VOA) — Pemantauan proses penyelenggaraan pemilu oleh berbagai pihak, termasuk negara atau badan pemantau asing, dinilai sebagai bagian penting dalam proses berdemokrasi.

Kehadiran pemantau pemilu dapat menambah kredibilitas dan legitimasi proses dan hasil pemilu, yang sekaligus dapat mencegah atau setidaknya meminimalisir terjadinya kecurangan.

Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Lolly Suhenty mengatakan, hingga satu minggu menjelang pemungutan suara 14 Februari nanti, ada 161 badan pemantau pemilu yang sudah terakreditasi, termasuk tiga pemantau asing.

Yaitu Friedrich Naumann Foundation for Freedom (FNF), Asian Network for Free Election (ANFREL Foundation) dan Melanisian Spearhead Group (MSG).

Ditemui VOA Indonesia pada Kamis (8/2), Lolly menjelaskan syarat-syarat badan asing menjadi pemantau pemilu di Indonesia.

“Pertama harus ada surat pernyataan dari organisasi pemantau yang bersangkutan atau dari pemerintah negara lain tempat yang bersangkutan pernah melakukan pemantauan mengenai kompetensi dan pengalaman sebagai pemantau pemilu di negara lain itu . Yang kedua, tentu harus ada visa untuk menjadi pemantau pemilu dari perwakilan Republik Indonesia di luar negeri,” ujarnya.

Mereka yang sudah terakreditasi menjadi pemantau pemilu dapat melakukan observasi, riset maupun peliputan. Khusus untuk pemantau asing akan didampingi oleh Bawaslu.

“Ketika mereka melakukan di provinsi A misalnya, maka Bawaslu provinsi A lah yang akan mendampingi termasuk ketika mereka melakukan pemantauan di kabupaten tertentu,” papar Lolly.

KPU Undang Pemantau Asing

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengundang puluhan duta besar negara sahabat, badan-badan penyelenggara pemilu negara lain dan organisasi internasional untuk ikut memantau pemilu Indonesia.

Bersama KPU, para undangan ini akan mendatangi TPS-TPS yang sudah ditunjuk. Anggota KPU Mochammad Afifuddin menjelaskan lebih jauh program yang dikenal sebagai “Indonesia’s Election Visit” ini.

“KPU senantiasa menggelar apa yang biasanya dinamakan program Indonesia’s Election Visit. Akan ada semacam konferensi, ada juga yang datang ke TPS yang kita dedikasikan. Kita mengundang para KPU luar negeri yang biasanya juga saling berhubungan dengan kita. Kemudian juga para duta besar negara sahabat dan organisasi-organisasi internasional,” ujarnya.

“Indonesia’s Election Visit” akan dilaksanakan di Jakarta pada 12-15 Februari 2024, di mana para pemantau asing akan diajak mendatangi beberapa TPS di Jakarta, Jawa Barat dan Banten.

Sejauh ini dari 31 KPU negara sahabat yang diundang, sudah delapan KPU yang telah mengkonfirmasi kedatangan mereka. Sementara dari 45 kedutaan asing yang diajak, 17 diantaranya sudah menyampaikan kesediaan datang.

Dari kalangan kampus asing, ada satu kampus dari Amerika yang juga siap datang. Demikian pula tiga dari enam lembaga internasional, dan tujuh dari 14 LSM internasional bidang pemilu sudah menyatakan kesiapan mereka untuk datang ke Indonesia.

Afifuddin tidak merinci nama-nama KPU, lembaga internasional, kedutaan negara sahabat, kampus dan lembaga internasional yang disebutnya itu.

Pemantau Asing Kurang Antusias

Kahfi Adlan Hafidz di Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) menyayangkan kurangnya antusias lembaga asing untuk ikut memantau Pemilu 2024 ini.

Padahal pemantau asing ini penting untuk bisa mengamplifikasi jika ada persoalan di dalam pemilu.

“Dengan banyaknya kondisi regresi demokrasi yang hari ini terjadi justru pemantau internasional dari banyak negara itu kalau kita melihatnya tidak terlalu antusias karena Indonesia ini bagi mereka dianggap sebagai negara yang sudah berhasil demokrasinya ketika berkaca pada Pemilu sebelumnya dimana penyelenggaran Pemilu kita termasuk salah satu yang terbaik setidaknya di level Asia.Jadi gara-gara itu mereka tidak terlalu antusias,” ungkap Kahfi.

Ia lebih jauh memaparkan banyaknya masalah yang membelit pemilu tahun ini, mulai dari politik dinasti, imparsialitas Mahkamah Konstitusi dan laporan kecurangan sejak masa kampanye.

Kehadiran pemantau asing, tambahnya, akan memberi pesan kuat kepada seluruh peserta pemilu untuk bertarung dengan jujur karena dipantau luas dunia. [fw/em]

(Konten Affiliasi VOA Indonesia)

Sapriadi PW

Sapriadi, yang lebih akrab dikenal dengan nama pena Adi Pallawalino, adalah seorang jurnalis, penulis, dan traveler. Ia adalah pendiri media online KABARWAJO.ID dan Sulbarkini.com, berkiprah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar).

Share
Published by
Sapriadi PW

Recent Posts

Jelang Porprov Sulsel 2026, Kepala BKAD Sulsel Tinjau Kesiapan Venue di Bone

Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Provinsi Sulawesi Selatan Reza Faisal Saleh melakukan kunjungan…

4 jam ago

Mantan Penjabat Bupati Wajo Andi Bataralifu Jabat Sekretaris Inspektorat Jenderal Kemendagri

Mantan Penjabat Bupati Wajo Andi Bataralifu mengemban tugas baru di lingkup Kementerian Dalam Negeri.

3 hari ago

Badan Komunikasi Diminta Sampaikan Masukan dan Kritikan Masyarakat ke Presiden

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto memanggil Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Syahganda Nainggolan dan Wakil…

4 hari ago

Pergantian Kepala Badan Komunikasi RI, DIR Ungkap Hasil Analisis di Media Mainstream dan Media Sosial

Pergantian Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) dari M Qodari kepada Syahganda Nainggolan pada Jumat (2/10)…

4 hari ago

“Gaspol” Usai Dilantik: Kapolri Suyudi Rombak Total Kapolda di Jawa, Ganti Empat Kapolda di Sulawesi

Sehari setelah dilantik sebagai Kepala Kepolisian RI pada Kamis (1/10) oleh Presiden Prabowo Subianto, Jenderal…

4 hari ago

Wagub Dorong Perbankan Dekatkan Pelayanan ke Masyarakat, Literasi Keuangan Sulsel di Angka 61 Persen

Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dalam hal akses layanan…

4 hari ago