Oleh: Dr. Sudarto, M.Pd
(Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)
Dari alam Wajo, lahirlah generasi ilmuwan muda yang mencintai lingkungannya.
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau Sains di sekolah seharusnya tidak hanya berhenti pada penguasaan konsep-konsep ilmiah di dalam buku teks.
Di era Kurikulum Merdeka, IPA mestinya menjadi sarana bagi peserta didik untuk memahami fenomena alam di sekitar mereka secara langsung dan menyenangkan.
Pendekatan inilah yang disebut pembelajaran berbasis alam sekitar, dan Kabupaten Wajo memiliki potensi besar untuk menerapkannya secara luas.
Kabupaten Wajo dikenal sebagai daerah agraris dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah – dari Danau Tempe yang legendaris, hamparan persawahan yang luas, hingga berbagai ekosistem daratan dan perairan yang unik. Semua itu dapat dijadikan “laboratorium alam” bagi peserta didik untuk belajar sains secara kontekstual.
Misalnya, siswa dapat mempelajari konsep ekosistem, rantai makanan, atau daur air melalui pengamatan langsung di lingkungan danau atau sawah sekitar sekolah atau sekitar tempat tinggal siswa.
Pendekatan berbasis alam sekitar bukan hanya menjadikan pembelajaran Sains lebih menarik, tetapi juga menumbuhkan kepekaan ekologis dan rasa cinta siswa terhadap lingkungan.
Siswa yang diajak belajar langsung di alam akan lebih memahami keterkaitan antara manusia dan alam, sehingga tumbuh kesadaran menjaga kelestarian lingkungannya.
Inilah hakikat pendidikan sains yang sejati: mengajarkan bukan sekadar “apa” tetapi juga “mengapa” dan “bagaimana” manusia hidup berdampingan dengan alam.
Namun, implementasi pembelajaran berbasis alam di Wajo masih menghadapi tantangan. Sebagian guru masih terpaku pada metode konvensional di dalam kelas, dengan bahan ajar yang bersumber dari buku teks semata. Padahal, guru memiliki peran kunci dalam memanfaatkan potensi lingkungan sebagai sumber belajar.
Guru yang kreatif dapat mengubah kegiatan sehari-hari masyarakat – seperti bertani, menangkap ikan, atau mengelola air – menjadi pengalaman belajar ilmiah yang bermakna bagi siswa.
Pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan perlu mendukung langkah ini melalui pelatihan guru, penyediaan media pembelajaran kontekstual, serta kebijakan yang mendorong sekolah untuk menjalin kerja sama dengan masyarakat sekitar.
Kolaborasi antara sekolah, pemerintah desa, dan lembaga lingkungan sangat penting tercipta agar kegiatan belajar berbasis alam berjalan berkelanjutan dan berdampak.
Dengan memanfaatkan kekayaan alam Kabupaten Wajo sebagai sumber belajar IPA, kita tidak hanya mencerdaskan anak-anak secara akademik, tetapi juga menumbuhkan karakter peduli lingkungan dan semangat mencintai daerahnya.
Wajo bisa menjadi salah satu daerah yang dapat dengan mudah menghidupkan pembelajaran sains yang memanfaatkan lingkungan sekitar dengan nuansa humanistis, kontekstual, dan membumi. (*)



