WA Channel

Catatan : Adi Pallawalino
(Founder KABARWAJO.ID, pengurus AMSI Sulbar)

Sekitar tahun 2009, saya mengawali petualangan di dunia jurnalistik di Kota Makassar setelah bergabung dengan majalah terkemuka di ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan saat itu, Makassar Terkini yang kini bertransformasi menjadi media online terkini.id.

Seangkatan dengan Suriani Echal Panca yang lebih dikenal di medsos dengan nama Echa Panrita Lopi, kami berdua ditugaskan “menggawangi” majalah Pecinan Terkini yang kala itu khusus mengupas kehidupan masyarakat Tionghoa di Makassar.

Jadilah, saya lebih banyak menghabiskan waktu di kawasan Pecinan Makassar di bilangan Jalan Nusantara, Jalan Jampea, dan sekitarnya.

Berinteraksi dengan komunitas Tionghoa, keluar masuk liputan di wihara, kelenteng, hingga merasakan meriahnya perayaan Imlek serta arak-arakan dewa pada perayaan Cap Go Meh.

Suatu waktu, Rabu (9/9/2009) pagi, saya tidak memiliki agenda liputan dan memilih stand by di kantor di bilangan Jalan Mappaodang. Sepintas, saya melirik ke papan agenda liputan sembari menyelesaikan ketikan.

Koordinator liputan Grace Masinambow atau akrab disapa Kak Ghe lalu berujar, “Adi, kamu isi liputan peresmian Menara Bosowa oleh pak JK sebentar yah.”

Spontan, saya kembali menoleh ke papan agenda liputan dan melihat peresmian Menara Bosowa dijadwalkan pukul 10.00 WITA seusai JK yang saat itu merupakan Wakil Presiden pasangan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) meresmikan Trans Studio.

Sementara, jam dinding di kantor sudah menunjukkan pukul 09.00 WITA. Yang jadi masalah, saat itu saya hanya berpakaian kasual dengan setelan baju kaus distro dan celana jins.

Di pikiranku saat itu, ini kan liputan RI 2 yang tentunya prosedur pengamanan oleh Paspampres terbilang ketat dan mungkin juga pakaian harus sopan dan rapi.

“Masa saya pergi liputan pakai baju kaus, dan kalau saya pulang ke rumah berganti baju khawatirnya dapat macet dan terlambat ke lokasi liputan,” pikirku saat itu sembari mencari opsi terbaik.

Lalu, saya memilih nothing to lose atau tanpa beban. Hitung-hitung, saya berkesempatan meliput RI 2 yang bisa menjadi kesempatan langka. Saya lalu bergegas menuju Menara Bosowa dengan menggeber motor Honda Supra Fit milikku.

Setiba di lokasi, saya melihat sudah ramai dengan para tamu undangan dan sejumlah wartawan. Yang saya kenali saat itu yakni Ramah Praeska yang merupakan wartawan Harian Fajar dan ada Dahlan Dahi yang merupakan dedengkot Tribun Network.

“Waduh, mereka pada rapi pakai kemeja. Sementara saya hanya pakai baju kaus distro,” batinku rada-rada cemas.

Nyaliku agak ciut saat itu, lalu memilih duduk di samping Ramah Praeska. Saya memerhatikan personel Paspampres dengan alat detektor memeriksa satu per satu tamu undangan yang hendak masuk ke ruangan peresmian Menara Bosowa.

“Bagaimana kalau saya nanti ditegur kenapa hanya pakai baju kaus lalu disuruh pulang,” pikirku.

Lalu, Ramah Praeska berdiri dan menuju pintu masuk. Saya menyusul di belakang. Akhirnya pikiran saya lega dan plong setelah berhasil melalui pemeriksaan detektor dan tanpa teguran apapun dari Paspampres.

“Aman nih, meskipun liputan hanya pakai baju kaus,” batinku sambil melepas segala kekhawatiran yang membebani.

Helikopter JK mendarat di Stadion Andi Ninnong. Foto: Dok. Adi Pallawalino

Kunjungan ke Danau Tempe

Kesempatan kedua meliput kegiatan JK saat dia melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Wajo pada Sabtu (6/6/2015).

JK yang menjadi wakil presiden untuk kedua kalinya (berpasangan dengan Joko Widodo) kala itu meninjau Danau Tempe.

Dalam kunjungannya, JK mewacanakan pembangunan pulau di tengah Danau Tempe dengan memanfaatkan tanah dari dasar danau. Danau akan dikeruk dan tanah hasil kerukan itu akan dijadikan pulau.

Disebutkan, pengerukan danau itu diharapkan dapat mengurangi tinggi muka air danau pada saat musim hujan.

Jika di kesempatan liputan pertama saya waswas karena liputan bermodal baju kaus, kali ini saya lebih siap bahkan berkesempatan memotret JK dari dekat saat helikopter yang dikendarainya mendarat di Stadion Andi Ninnong.

Hadir saat itu istri JK, Mufidah, Syahrul Yasin Limpo yang kala itu menjabat Gubernur Sulsel, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, mendiang mantan Bupati Wajo Andi Burhanuddin Unru bersama istrinya Andi Faikah.

Baca Juga: Kisahku Dua Kali Berkesempatan Meliput Presiden Jokowi