WA Channel

dr. Fox, seorang dokter Inggris di Straits Settlements, mengatakan bahwa mengamuk adalah fenomena khas ras Melayu, dan tidak selalu seperti yang sering diklaim, akibat penyelundupan opium.

Orang yang mengamuk biasanya mementingkan diri sendiri dan sedih untuk beberapa saat sebelum meledak; dia menganggap dirinya telah dibunuh oleh semua orang, bahkan oleh kerabat sendiri dan sahabatnya.

Naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace, yang pernah berada di lokasi amuk mencatat hal seperti ini lazim terjadi. Dalam The Malay Archipelago ia menyebut “amuk” (jallo, bahasa Bugis) terjadi di sejumlah tempat di Nusantara terutama di Sulawesi.

Saat itu, banyak dari mereka yang terkungkung persoalan pelik memilih jalan “amuk” untuk mengakhiri hidup. Mengamuk sejadi-jadinya dengan menerkam siapa pun yang ditemui. Aksi brutal ini akan terhenti jika si pengamuk tertangkap atau tumpas diamuk warga.

Amuk di Kampung Galesong, Makassar 28 Oktober 1931

Kampung Galesong tadi malam dikejutkan oleh pembuat amukan. Warga kampung Galesong di Makassar, yang tinggal bersama dua pribumi lainnya, tiba-tiba menjadi mata gelap, dan menikam salah satu penghuninya, yang sedang tidur, dengan pisau-belati.

Warga kedua yang juga sedang tidur terbangun oleh teriakan korban luka dan berusaha melarikan diri. Namun, dia disusul dan juga ditusuk. Setelah itu, pembuat amok lari ke jalan.

Seorang pembantu rumah tangga, yang mencoba menghentikan pria itu, juga ditikam. Setelah itu, pembuat amukan itu dihadang oleh seorang pribumi dan seorang polisi yang sementara itu datang dan dibawa ke rumah kantor polisi.

Dua orang pertama sudah meninggal. Houseboy memiliki kesempatan untuk pulih. Peristiwa itu, bisa dimaklumi, menimbulkan kehebohan besar di kampung yang padat itu.

Amuk di Bone 22 Juli 1922

Di sebuah pesta pernikahan telah usai dan orang-orang bersiap istirahat dan tidur pada malam hari, tiba-tiba seorang tamu kentut dengan suara keras. Orang-orang yang hadir dan mendengar suara buang angin itu tertawa. Sontak saja, tamu yang membuang angin itu malu.

Akhirnya dalam keadaan gelap, sang tamu yang kentut mengeluarkan badik dan melakukan amuk (jallo). Tentu saja orang itu melakukannya dengan cara membabi buta.

Akhirnya delapan orang meninggal dunia dan beberapa lainnya mengalami luka. Asisten residen yang mendengar laporan itu dari kontrolir berkata, “yang mengamuk itu sebetulnya tidak perlu malu, sebab tidak seorang pun tahu siapa yang kentut.”

Amuk di Soppeng tahun 1977

Seorang laki-laki tanpa sengaja melepaskan kentut (nakelo ettu) di hadapan orang banyak. Merasa malu, pria itu seketika menghunus keris. Tapi, tak ada seorang pun yang mendengarkan suara kentut menengadahkan wajah. Semua orang terntunduk dan diam.

Sesampainya di rumah, sang pria berkata, “Sayang sekali, tidak ada seorang pun mengangkat wajahnya, kalau ada pasti kutikam.”

Tapi anehnya, di rumah pun si pria belum bisa membendung rasa malunya. Untuk itu, dia meminta istrinya menumbuk lada sebanyak mungkin dan kemudian diulaskannya ke dubur.

Tradisi “amuk” awalnya tak sesederhana itu. Ada nilai dan keyakinan yang dipertahankan sehingga orang rela mati dalam hunusan pedang lawan. Tapi keberanian di luar nalar itu memang sering muncul dalam detik-detik kebuntuan.

Claude de Forbin utusan Raja Louis XIV merekam perlawanan mengerikan sekelompok warga Makassar yang terkepung ribuan personel gabungan kerajaan Siam, Prancis, Inggris dan Portugis di pedalaman Thailand, 23 September 1686.

Bernard Dorleans merangkum kisah heroik ini dalam Orang Indonesia & Orang Prancis dari Abad XVI sampai XX.

Dalam perang tak seimbang itu Daeng Mangalle tahu betul ia dan kerabatnnya pasti kalah. Namun ia telah bersumpah akan memberi perlawanan setimpal yang takkan dilupakan Thailand sampai kapaupun.

Baginya lebih baik tumbang daripada menjadi budak di negeri orang.

Sumber : Bataviaasch nieuwsblad – 15 Agustus 1895 | Abbas Daming
Rujukan : Historia-KITLV-Indische Letteren. Jaargang.