MAKASSAR, KABARWAJO.ID – Pondok Pesantren As’adiyah di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, akan menjadi tuan rumah pelaksanaan Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) tingkat nasional dan Asia Tenggara pada Oktober 2025 mendatang.
Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Amien Suyitno, pelaksanaan MQKN ke-8 bukan hanya sekadar perhelatan keilmuan pesantren, melainkan juga momentum strategis untuk melompat lebih jauh dalam transformasi digital dan pemberdayaan kelembagaan pesantren.
“Digitalisasi bukan hal baru bagi kita. Kita sudah lama menerapkannya, termasuk di lingkungan pendidikan pesantren,” kata Amien Suyitno pada rapat koordinasi pelaksanaan MQKN dan Asia Tenggara 2025 di Makassar, Selasa (29/4).
Diketahui, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seleksi MQKN akan diselenggarakan berbasis digital secara penuh. Ajang ini juga menandai edisi perdana Musabaqah Qiraatil Kutub tingkat Asia Tenggara dengan tuan rumah Pondok Pesantren As’adiyah di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.
Suyitno menambahkan, digitalisasi dalam MQKN tak cukup hanya sebatas sistem administrasi, tetapi harus menjangkau seluruh ekosistem pelaksanaan.
Ia menekankan pentingnya tampilan aplikasi yang modern, fungsional, dan menyentuh aspek pengalaman pengguna. Digitalisasi ini tentu diharapkan agar mempermudah siapapun dalam mendaftar dan berpartisipasi.
“Tampilan dashboard harus kekinian—mulai dari registrasi, informasi event, transportasi, hingga aspek pendukung seperti wisata lokal. Semuanya harus masuk dalam satu sistem digital yang terintegrasi,” jelasnya.
Suyitno menyebut bahwa seluruh pihak, termasuk dewan hakim, harus dibekali kecakapan digital melalui video tutorial dan panduan teknis yang memadai.
Dia juga menegaskan bahwa digitalisasi ini harus sejalan dengan agenda besar lainnya, yaitu pemberdayaan pesantren.
“Kita bicara dua hal besar di sini: digitalisasi dan pemberdayaan pesantren. Keduanya harus berjalan beriringan,” ujar dia.
Sementara itu, Direktur Pesantren Kementerian Agama RI Basnang Said menyatakan pentingnya pelibatan kawasan timur Indonesia dalam MQKN tahun ini.
“Dengan rencana pelaksanaan MQKN-AT 2025 di Kabupaten Wajo, kita ingin menegaskan bahwa literasi kitab kuning adalah warisan umat Islam di seluruh Nusantara, bukan hanya di Jawa,” ucap Basnang.
Pondok Pesantren As’adiyah di Kabupaten Wajo merupakan sebuah lembaga pendidikan Islam klasik yang telah berdiri sejak 1930 dan dikenal luas sebagai pusat pengkajian kitab kuning.
(Sumber: Humas Kemenag RI)




Tinggalkan Balasan