Sengkang, KABARWAJO.id – Debat publik pertama pasangan calon (paslon) di Pilkada Wajo 2024 yang dilaksanakan di Hotel Sallo, Sengkang, pada Minggu (3/11) menarik perhatian masyarakat Kabupaten Wajo.
Debat yang disiarkan langsung dan secara streaming oleh TVRI Sulsel itu menjadi wadah bagi para paslon untuk memaparkan visi dan misi serta program unggulan masing-masing.
Pada debat ini, performa Calon Wakil Bupati Wajo nomor urut 1, dr Baso Rahmanuddin (DBR), terlihat fleksibel dengan penguasaan materi yang matang.
Baik dalam memberikan jawaban terhadap pertanyaan panelis serta dalam sesi tanya jawab antarpaslon. Salah satunya, saat DBR memaparkan tentang program dan strategi pasangan AR-Rahman dalam menekan Angka Tidak Sekolah (ATS) yang terbilang tinggi di Kabupaten Wajo.
Permasalahan ini dibarengi dengan rendahnya kesadaran masyarakat terkait pentingnya pendidikan bagi anak usia sekolah.
Menurut DBR, pasangan AR-Rahman telah menyusun program untuk menekan angka ATS di Wajo melalui program Manusia Maradeka.
“Jadi, penguatan pendidikan ke depannya tidak hanya melalui pendidikan formal, akan tetapi memberikan penguatan terhadap pendidikan informal dan nonformal. Saya kira ini salah satu solusi terbaik untuk Wajo,” ujar DBR.
Momen lain ketika DBR menanggapi pernyataan Calon Bupati Wajo nomor urut 2 Amran Mahmud terkait program pondok tahfidz (penghafal Al-Quran) yang digaungkan paslon Pammase di periode 2019 – 2024 sebagai Bupati dan Wakil Bupati Wajo.
Dalam sesi tersebut, Amran Mahmud mempertanyakan terkait strategi pasangan AR-Rahman dalam menjaga moralitas di kalangan anak muda.
Hal itu dijawab Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Wajo ini tentang penguatan pendidikan tidak hanya melalui sektor formal, tetap melalui pendidikan informal dan nonformal.
“Ini selaras dengan apa yang saya sampaikan tadi. Saya mau jelaskan ini supaya dipahami pasangan sebelah (Pammase). Pendidikan formal itu pendidikan berjenjang, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah, sampai sekolah tinggi,” kata DBR.
“Pendidikan informal itu sekolah dengan orang tua, dengan lingkungan, dengan keluarga. Pendidikan nonformal itu, seperti yang Bapak sampaikan, tahfidz, bimbingan belajar, kemudian bimbingan-bimbingan teknis dan pelatihan-pelatihan keterampilan lain yang mendukung munculnya atau hadirnya sumber-sumber daya manusia Kabupaten Wajo yang unggul, cerdas, berkarakter, dan berakhlak,” urai dr Baso Rahmanuddin.
Terbantu dengan Secarik Catatan
Sementara itu, Cawabup Wajo nomor urut 2 Amran SE tampak beberapa kali melihat catatan-catatan yang dibawanya saat menjawab pertanyaan yang diajukan panelis maupun saat sesi tanya jawab antarpaslon.
Salah satunya saat paslon Pammase menjawab pertanyaan panelis dengan sub tema di bidang kesehatan.
“Kesehatan ini merupakan kebutuhan dasar masyarakat, tentu ini yang wajib kami berikan kepada masyarakat Kabupaten Wajo,” sebut Amran.
“Di bidang kesehatan, tentu diharapkan memiliki kualitas kesehatan yang cukup memadai sehingga bisa bersaing di segala bidang di masa yang akan datang,” lanjut dia sembari melihat catatan yang dibawanya. []




Tinggalkan Balasan