Persebaya Surabaya berhasil menjuarai Piala Presiden 2026. Turnamen pramusim yang digelar sejak tahun 2015 itu, sukses menyuguhkan tontonan sepak bola berkualitas sekaligus penggerak ekonomi kerakyatan. Nilai-nilai kepedulian pada lingkungan dan sesama jadi teladan.
—–
PERSEBAYA Surabaya sukses keluar sebagai juara 1 Piala Presiden 2026 usai mengalahkan Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (Persib) melalui drama adu penalti pada laga yang digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Kamis (6/8). Dalam laga normal hingga babak perpanjangan waktu, kedua tim bermain imbang 1-1.
Persebaya sempat unggul 1-0 melalui gol yang dicetak Ramadhan Sananta di menit ke-20 yang kemudian berhasil disamakan oleh pemain Persib Patricio Matricardi di menit ke-24. Usai bermain selama 120 menit, juara Piala Presiden edisi kedelapan ini harus ditentukan melalui drama adu penalti. Mantan kiper PSM Makassar yang kini memperkuat Persebaya, Reza Arya Pratama, tampil sebagai pahlawan setelah sukses menepis dua tendangan penalti pemain Persib. Skor 6-5 untuk kemenangan Persebaya.
Hasil ini menjadi gelar pertama tim “Bajul Ijo” di ajang turnamen pramusim Piala Presiden sekaligus memperoleh hadiah sebesar Rp8 miliar. Sukses menjuarai Piala Presiden 2026 juga menjadi kado bagi Persebaya menjelang satu abad dan modal berharga dalam mengarungi kompetisi Liga 1 Indonesia Super League musim 2026/2027. Persib sebagai runner up memperoleh hadiah Rp3,5 miliar, Persija Jakarta di peringkat ketiga dengan hadiah Rp2,5 miliar, dan Arema Malang sebagai peringkat keempat dengan hadiah Rp1,5 miliar.
Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait mengatakan, kesuksesan penyelengaraan Piala Presiden 2026 sebagai bukti konsistensi dan keberlanjutan turnamen tanpa menggunakan APBN dan terlaksana berkat dukungan sponsor. Selain hadiah fantastis bagi pemenang, Piala Presiden 2026 juga sukses mencatatkan rating siaran televisi yang tinggi dengan kenaikan 16 persen dari perhelatan Piala Presiden 2025.
“Dari data Nielsen, 172 juta penonton Piala Presiden 2026 melalui televisi. Ratingnya ada kenaikan 16 persen dari Piala Presiden 2025. Untuk UMKM, sebanyak 165 yang berpartisipasi di Stadion Si Jalak Harupat dan Stadion Gelora Bung Tomo,” kata Maruarar Sirait membacakan sambutannya usai laga final Piala Presiden 2026.
Ia mengungkapkan komitmennya sejak awal melibatkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam setiap penyelenggaraan Piala Presiden. Maruarar berkeinginan, manfaat turnamen tidak hanya dirasakan oleh klub dan suporter, tetapi juga para pelaku usaha kecil yang mendapat kesempatan untuk berkembang, memperluas pasar, dan meningkatkan pendapatan.
“Sejak penyelenggaraan Piala Presiden di Bandung, Surabaya, hingga Bali, antusiasme para pelaku UMKM sangat luar biasa. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa sepak bola bukan hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian masyarakat,” kata Maruarar di sela-sela mengunjungi beberapa UMKM yang hadir di Stadion I Wayan Dipta Bali sesaat sebelum laga final Piala Presiden 2026.
Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan pelaksanaan Piala Presiden dibangun di atas nilai-nilai yang dipegang teguh. Mulai dari transparansi keuangan, tidak menggunakan uang negara, menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan UMKM, serta kepedulian terhadap lingkungan. Menurut Ara, nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan dilaksanakan melalui gerakan “Datang Bersih, Pulang Bersih” dengan cara menjaga kebersihan stadion penyelenggara yang bekerja sama komunitas lingkungan dan ratusan relawan kebersihan.
“Nilai-nilai kepedulian lingkungan ini melalui kerja sama komunitas lokal dalam menjaga kebersihan, seperti Metamorfosa dan Nol Sampah Surabaya. Para relawan menyisir sampah sebelum pertandingan, saat jeda paruh waktu, dan saat pertandingan usai,” ungkapnya.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman ini menegaskan, kesuksesan pelaksanaan Piala Presiden 2026 merupakan hasil kerja seluruh elemen yang terlibat dalam penyelenggaraan turnamen.
“Tidak ada Superman, yang ada Superteam dalam penyelenggaraan Piala Presiden. Semua bekerja keras, mulai panitia, petugas keamanan, kebersihan, pemerintah daerah, sponsor, hingga media. Kesuksesan ini adalah hasil kerja bersama,” ujarnya.
Di samping nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan, pelaksanaan Piala Presiden 2026 juga memberikan teladan dalam hal nilai-nilai kepedulian kepada para tokoh sepak bola Indonesia yang telah sepuh melalui penyaluran tali asih. Di antaranya kepada keluarga mendiang pelatih legenda Mochammad Basri, Bertje Matulapelwa, dan Sinyo Aliandoe. Tak hanya itu, penyelenggara Piala Presiden 2026 juga memberikan apresiasi kepada tiga mantan pemain masing-masing Rp100 juta kepada Boaz Solossa, Ferril Raymond Hattu, dan Herry Kiswanto.

Gemuruh di Stadion, Euforia hingga ke Daerah
Antusiasme masyarakat terhadap gelaran Piala Presiden 2026 juga merambah hingga ke daerah. Tak hanya suporter yang datang langsung di stadion, baik di Stadion Gelora Bung Tomo maupun di Stadion Si Jalak Harupat, gaung Piala Presiden 2026 juga dirasakan hingga ke penjuru tanah air. Ini terbukti melalui raihan rating penonton Indosiar dan vidio selaku official broadcaster yang mencatatkan prestasi luar biasa.
Menurut Direktur Emtek Media, Harsiwi Achmad, bahwa berdasarkan data Nielsen menunjukkan adanya lonjakan rating siaran Piala Presiden 2026 dibanding tahun lalu dengan peningkatan sekitar 15-16 persen.
“Piala Presiden kali ini sangat luar biasa. Bukan hanya penonton di stadion yang terus bertambah, tetapi penonton di televisi juga terus mengalami peningkatan,” ungkapnya dalam sesi konferensi pers di Balai Kota Surabaya pada Sabtu, 1 Agustus 2026.
Harsiwi menambahkan, dalam 10 pertandingan babak penyisihan grup, rata-rata rating sebesar 4,2 persen dengan audience share mencapai 23,9 persen.
“Dan itu menjadi program nomor satu, tadi bukan hanya di antara (program) sport, tetapi di antara seluruh program yang tayang di semua TV. Tadi kan 23,9 persen, artinya 23,9 persen orang yang nonton TV saat itu nontonnya adalah Piala Presiden,” jelas dia.
“Dan dari semua pertandingan kemarin (penyisihan grup), yang paling tinggi adalah antara Persebaya melawan Persija meraih rating 7, dan ini belum pernah dicapai oleh Liga 1 yah. Ini yang menyaingi adalah timnas saja,” imbuh Harsiwi Achmad.
Junjung Sportivitas, Tekankan Transparansi
Meski bertajuk turnamen pramusim, Piala Presiden 2026 tetap menjunjung tinggi sportivitas dan fair play baik di dalam maupun di luar lapangan. Salah satu hal yang krusial, saat penyelenggara memutuskan laga semifinal dan final dilaksanakan di Bali tanpa kehadiran penonton untuk mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak diinginkan.
“Kita putuskan, semifinal dan final Piala Presiden 2026 digelar di Bali. Tentu pertimbangan keamanan adalah pertimbangan nomor satu karena keselamatan dan keamanan itu penting sekali,” ujar Maruarar di Balai Kota Surabaya.
Hal senada diungkapkan Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga. Ia menyebut, masalah keamanan tidak hanya di stadion, akan tetapi saat dalam perjalanan pulang ke rumah masing-masing suporter.
“Mungkin Anda tidak suka (laga tanpa penonton), tapi keamanan dan keselamatan suporter adalah salah satu prioritas kami,” imbuh Arya Sinulingga di akun Instagram.
Dalam hal transparansi, Piala Presiden melibatkan Pricewaterhouse Coopers (PwC) sebagai auditor independen untuk memastikan akuntabilitas dalam pengelolaan dana sponsor.

Pembinaan Sepak Bola dari Akar Rumput
Sebelum sukses melaksanakan Piala Presiden Elit 2026, Piala Presiden Liga 4 2026 juga sukses mempertemukan 64 klub daerah dari 38 provinsi di seluruh Indonesia. Menurut Ketua Umum PSSI Erick Thohir, kompetisi ini menjadi bagian dari program pembinaan pemain dari akar rumput (grassroot).
Pasuruan United yang berhasil keluar sebagai juara Liga Piala Presiden 2025-2026 sekaligus promosi ke Liga 3 (Liga Nusantara) bersama klub lainnya yakni Persinga Ngawi, Pesik Kuningan, PSN Ngada, Persipani Paniai, dan Persibangga Purbalingga.
“Piala Presiden Liga 4 2026 akan menjadi semangat baru untuk pembangunan grassroots sepak bola dari seluruh provinsi di Indonesia,” kata Erick Thohir.
Turnamen lain yang bertajuk Piala Presiden, yakni gelaran Festival Grassroots Nasional U-10 dan U-12 yang digelar di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Juli 2026. Turnamen sepak bola untuk usia dini tersebut diikuti puluhan tim terbaik dari berbagai provinsi di Indonesia.
Erick Thohir menekankan, sepak bola Indonesia harus dibangun dari akar rumput. Dengan keterlibatan klub dari seluruh provinsi, ia berharap Piala Presiden 2026 Grassroots membuka kesempatan lebih luas bagi talenta muda dari berbagai daerah menunjukkan kemampuan di tingkat nasional.
“Sepak bola Indonesia harus tumbuh dengan fondasi kuat, sistem yang sehat, dan mimpi yang besar,” ujarnya.
Dengan pembinaan sepak bola berkelanjutan dari akar rumput dan sejak usia dini, maka harapan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan Indonesia lolos ke Piala Dunia 2030 bukan lagi sekadar mimpi. Dengan demikian, gelaran Piala Presiden baik kategori Elit, Liga 4, hingga U-10 dan U-12, tak sekadar menjadi hiburan rakyat di tengah jeda kompetisi resmi. Tetapi, juga menjadi ajang pembinaan prestasi untuk kemajuan sepak bola Indonesia.
(Penulis : SAPRIADI)



