WA Channel

JAKARTA – Deep Inteligence Research (DIR), lembaga riset media dan digital berbasis Artificial Intelligence (AI) merilis hasil riset bertajuk “Rapor Setahun Pemerintah Daerah Provinsi 2026”.

Hasil riset tersebut, menempatkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebagai gubernur paling menyedot perhatian publik sepanjang satu tahun pertama masa jabatan. Dedi memuncaki kategori publikasi media sekaligus engagement media sosial, mengungguli sejumlah kepala daerah lain di Indonesia.

Menurut Direktur Komunikasi Deep Intelligence Research (DIR), Neni Nur Hayati, satu tahun pertama merupakan fase krusial. Hasil riset DIR menunjukkan bahwa publik memberikan perhatian sangat tinggi dan harapan besar kepada pemimpin daerah dalam mengeksekusi janji-janji kampanye, program pusat di daerah, dan ketangkasan saat bencana melanda.

“Kami menggunakan metodologi Media Intelligence yang menggabungkan analisis media massa dan digital listening untuk melihat sejauh mana legitimasi publik terbentuk di era keterbukaan informasi ini. Mesin artifical intelligence kami bekerja meng-crawling data untuk menarik seluruh data pemberitaan dan percakapan publik di media sosial dari para gubernur, tentang gubernur dan yang mempercakapkan gubernur,” kata Neni di Jakarta, Minggu (22/2/2026).

Merujuk penelitian Mike Walsh (2019), Neni menekankan pentingnya kepemimpinan berbasis data dan algoritma.

“Kepala daerah ke depan tidak bisa hanya bekerja secara administratif. Mereka harus memberikan kebijakan solutif atas permasalahan yang terjadi dan mampu membaca emosi publik di media sosial serta mampu mengomunikasikan kebijakan secara massif, transparan, dan akuntabel,” ujar dia.

Mengutip apa yang disampaikan oleh Rhenald Kasali (2025), para kepala daerah terutama gubernur bekerja bukan berdasarkan asumsi lama, tetapi men-challange asumsi tersebut dengan gagasan baru.

“Karena saat ini, realitas sudah berbeda sehingga harus cepat beradaptasi dengan perubahan. Selain itu, harmonisasi dengan legislatif adalah kunci menjaga stabilitas pemerintahan,” tambah Neni.

Hasil riset DIR memperlihatkan satu kesimpulan: legitimasi publik di era digital tak lagi hanya ditentukan oleh kebijakan substantif, melainkan juga oleh kemampuan membaca percakapan dan mengelola narasi.

“Dalam lanskap itu, Dedi Mulyadi tampil sebagai figur yang paling berhasil menyedot, sekaligus mengelola perhatian publik sepanjang tahun pertamanya menjabat. Selain itu, harmonisasi dengan legislatif adalah kunci menjaga stabilitas pemerintahan,” pungkas Neni. []