Piala Presiden ke depannya diharapkan tak sekadar turnamen sepak bola pramusim. Selain menggerakkan ekonomi kerakyatan, konsep “host city” bisa menjadi pintu promosi pariwisata dan keragaman budaya Nusantara di mata dunia.
Tahun 2025 menandai satu dekade Piala Presiden sebagai turnamen pramusim yang telah menjadi bagian penting dari kalender sepak bola Indonesia. Digagas pertama kali pada 2015 oleh Maruarar Sirait di saat sepak bola Indonesia dilanda krisis dan terpuruk imbas sanksi FIFA , kehadiran turnamen ini bak oase di tengah persepakbolaan nasional yang sedang mati suri.
Tak sekadar menghidupkan kembali euforia di stadion, perhelatan Piala Presiden kala itu yang sedari awal tidak mengandalkan dana negara ini juga membangkitkan semangat pemain, klub, dan suporter yang rindu akan tontonan sepak bola dalam negeri yang menghibur.
Piala Presiden yang lahir dari masa-masa krisis sepak bola tanah air menjadi simbol kebangkitan dari mati suri menuju gairah baru yang terus menyala hingga kini. Dalam enam kali edisi (2015, 2017, 2018, 2019, 2022, 2024), Piala Presiden mempertemukan klub-klub sepak bola dalam negeri yang berkompetisi di Liga 1 (Divisi Utama) dan sejumlah klub Liga 2 (Divisi Dua).
Tepat satu dekade, Piala Presiden 2025 hadir dengan format baru. Untuk pertama kalinya, Piala Presiden diikuti klub asing dalam format yang lebih kompetitif. Dua tim undangan, Oxford United yang merupakan klub Divisi Championship di Liga Inggris dan Port FC yang merupakan salah satu klub kuat dari Thailand, sukses menarik perhatian sekaligus melaju ke final.
Kehadiran klub asing ini menjadi penanda Piala Presiden tengah berevolusi menjadi turnamen pramusim bergengsi secara global. Hal ini membuka jalan bagi Piala Presiden untuk menjangkau pasar sepak bola internasional, serta memberi warna dan tantangan baru bagi klub-klub Indonesia.
Selain Oxford United dan Port FC, empat kontestan lainnya pada Piala Presiden 2025 yakni Arema FC selaku juara bertahan Piala Presiden 2024, Persib Bandung sebagai juara Liga 1 2024/2025, Dewa United sebagai runner-up Liga 1 2024/2025, dan tim Liga Indonesia All Stars yang terdiri dari 30 pemain terbaik Liga 1 dan dipilih langsung suporter melalui voting secara publik.
Partai final sekaligus mencatatkan sejarah dengan mempertemukan Oxford United melawan Port FC pada laga yang digelar di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Minggu (13/7). Dalam pertandingan yang berlangsung seru dan disaksikan 15.358 penonton yang memadati stadion, Port FC keluar sebagai juara setelah menang 2-1 atas Oxford United.
Pesta juara tak hanya milik Port FC. Laga pamungkas Piala Presiden 2025 itu juga menjadi pertunjukan hiburan rakyat bagi puluhan ribu suporter yang hadir di Stadion Si Jalak Harupat serta jutaan penonton melalui siaran TV dan streaming. Pecinta sepak bola dan masyarakat Indonesia dihibur dengan penampilan elegan Isyana Sarasvati, performa apik penyanyi cilik Prince Poetiray, hingga kehadiran Rayyan Dhika yang tengah viral dan fenomenal dengan aksi “Aura Farming” khas lomba Pacu Jalur.
Gerakan lincah Rayyan di atas jalur (sebutan untuk perahu dayung di Riau) yang melaju cepat, tak hanya menghibur tapi menginspirasi secara global. Aksinya diikuti dan diparodikan sederet atlet internasional, influencer, selebgram luar negeri, hingga sejumlah pemain dan klub papan atas Eropa yang kepincut memperagakan “tarian” khas Pacu Jalur tersebut. Piala Presiden 2025 sekaligus berhasil mengangkat budaya lokal menjadi tontonan yang menghibur.
Format baru Piala Presiden 2025 yang menghadirkan dua klub asing menjadi tonggak penting dalam transformasi turnamen ini menuju ajang pramusim kelas dunia. Kehadiran Oxford United dan Port FC tak hanya sekadar variasi peserta, tetapi cerminan dari ambisi besar untuk mengangkat kualitas dan daya tarik Piala Presiden secara global.

Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden 2025, Maruarar Sirait, menegaskan bahwa perubahan format Piala Presiden itu menjadi awal dari visi yang lebih besar. Menurut Menteri Perumahan dan Permukiman ini, ke depan tidak menutup kemungkinan Piala Presiden akan mengundang klub-klub raksasa Eropa seperti Real Madrid, Liverpool, atau Manchester United untuk ambil bagian. Dengan dukungan suporter yang besar, Indonesia memiliki daya tarik menjadi tuan rumah turnamen pramusim klub-klub top Eropa.
“Ini pertama kali klub-klub asing hadir (di Piala Presiden). Doakan suatu saat kita bisa hadirkan klub lebih besar. Yang kalian mau siapa? Real Madrid, Liverpool, MU? Doakan saja ya. Makanya kita harus perbaikan semua,” kata Maruarar Sirait yang akrab disapa Ara, kepada wartawan di Stadion Si Jalak Harupat, Sabtu (12/7).
Rencana itu bukan sesuatu yang mustahil direalisasikan. Bagi klub-klub raksasa Eropa, keikutsertaan mereka di turnamen pramusim di berbagai belahan dunia tak sekadar untuk menguji kedalaman skuat mereka, tetapi juga untuk membangun koneksi emosional dengan suporter lintas negara. Indonesia, dengan populasi penggemar sepak bola yang sangat besar dan fanatik, layak masuk dalam radar destinasi pramusim klub-klub elite Eropa.
Wacana menghadirkan klub-klub elite Eropa dalam gelaran Piala Presiden di masa-masa mendatang juga disampaikan Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Erick Thohir. Mantan Presiden Internazionale Milan ini berkeyakinan, Piala Presiden bisa menjadi turnamen pramusim bergengsi kelas dunia.
Menurut Erick Thohir, tak sekadar menghadirkan laga-laga pemain bertabur bintang, Piala Presiden juga menjadi ajang bagi pemain-pemain Indonesia untuk dilirik klub-klub mancanegara.
“Ya, itu salah satu ya, karena kita inginkan juga bahwa banyak pemain kita tidak hanya bisa berkarier di dalam negeri, tapi juga bisa berkarir di luar negeri,” kata Erick Thohir dalam sesi konferensi pers di Jakarta, Jumat (4/7).
Menjadikan Piala Presiden sebagai turnamen pramusim berkelas dunia tentu perlu dibarengi dengan kesiapan menyeluruh, mulai dari infrastruktur stadion yang memadai, penyempurnaan sistem manajemen pertandingan, penerapan standar keamanan FIFA, hingga penyiaran dengan kualitas internasional. Pelaksanaan Piala Presiden di masa-masa mendatang juga berpotensi besar sebagai media promosi wisata dan budaya Nusantara.
Salah satunya, dengan cara melakukan rotasi kota tuan rumah di setiap edisi. Dengan menggelar turnamen di kota-kota berbeda, seperti Palembang, Yogyakarta, Bali, Medan, Manado, atau Makassar, penyelenggara bisa menonjolkan kekayaan budaya lokal sebagai daya tarik tambahan bagi pemain dan suporter Internasional.
Ini selaras dengan konsep host city pada perhelatan Piala Dunia yang mana tiap kota tidak hanya menjadi venue pertandingan, tetapi menjadi etalase budaya dan pariwisata. Tak sekadar menyajikan pertandingan sepak bola, kehadiran wartawan peliput yang mendampingi klub-klub top Eropa sekaligus bisa menjadi pintu promosi pariwisata dan mengenalkan keragaman budaya khas Indonesia.
Berkah bagi UMKM dan Penggerak Ekonomi Kerakyatan
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan pertandingan sepak bola seolah sudah menjadi sesuatu yang tak terpisahkan. Tidak hanya di ajang sekelas Piala Presiden, kehadiran penonton pada lingkup turnamen sepak bola antarkampung selalu menjadi berkah ekonomi bagi para pelaku UMKM yang memang identik dengan keramaian.
Maruarar Sirait mengatakan, perhelatan Piala Presiden 2025 sudah dirancang tak sekadar menghibur dan menghadirkan laga seru di lapangan hijau, tetapi juga mewadahi pelaku UMKM dan menggerakkan ekonomi kerakyatan dengan menyediakan lapak secara gratis.
Ara menyebut, hal itu sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto bahwa dalam setiap ajang harus ada UMKM sebagai penggerak ekonomi kerakyatan. Di balik serunya laga di lapangan hijau, turut berdampak positif pada penjualan kuliner, merchandise, hingga layanan transportasi lokal yang melonjak seiring banyaknya penonton yang datang.
Sopir ojek, pemulung plastik, hingga pengangkut sampah turut merasakan dampak ekonomi dari gelaran Piala Presiden 2025.
“UMKM kita happy, artinya rakyat mendapatkan manfaat langsung dari event ini. Ini bukti nyata kalau negara hadir lewat sepak bola,” imbuh Maruarar Sirait.
Salah seorang pelaku UMKM, Opi Novianti, mengaku omzet naik selama pelaksanaan Piala Presiden 2025 di Stadion Si Jalak Harupat yang bisa mencapai Rp 2-3 juta dalam sehari.
“Jualan cumi bakar, chicken, dan minuman. Omzet ada peningkatan, apalagi ketika ada bobotoh datang menonton,” kata dia.
Pelaku UMKM lainnya, Robi Candra, mengaku gelaran Piala Presiden 2025 yang menyediakan lapak gratis sangat membantu bagi pedagang kecil.
“Kalau bisa event-nya jangan lama-lama, maksudnya jangan setiap setahun sekali atau menunggu liga berakhir. Harusnya 3 bulan sekali,” harap dia.

Transparansi dan Fair Play, Kunci Menuju Ajang Pramusim Kelas Dunia
Tak sekadar menghadirkan format baru dengan peserta klub luar negeri, Piala Presiden 2025 ini juga sukses menarik atensi sponsor dengan nilai fantastis mencapai Rp 68 miliar tanpa menggunakan dana APBN dan APBD. Menurut Maruarar Sirait, hal itu sebagai bentuk kepercayaan sponsor terhadap pelaksanaan kompetisi, kualitas kompetisi, hingga animo publik terhadap gelaran Piala Presiden 2025.
Dia menyatakan bahwa sejak awal penyelenggaraan Piala Presiden tidak pernah menggunakan uang negara demi memajukan persepakbolaan di tanah air.
“Selama Piala Presiden, kita tidak pernah menggunakan uang negara. Tidak ada APBN dan tidak ada BUMN. Kita tidak pernah mendapat sponsor dari BUMN, APBN, dan BUMN,” katanya dalam sesi konferensi pers.
Untuk mewujudkan transparansi, Piala Presiden melibatkan Pricewaterhouse Coopers (PwC) sebagai auditor independen untuk memastikan akuntabilitas dalam pengelolaan dana sponsor Piala Presiden. Tak hanya itu, nilai-nilai fair play juga menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan Piala Presiden 2025. Hal ini penting untuk menjaga integritas dan profesionalisme dalam setiap pertandingan.
Erick Thohir mengatakan, keterlibatan wasit asing dalam Piala Presiden 2025 bertujuan mendorong pembinaan wasit nasional sehingga Indonesia ke depannya memiliki perangkat pertandingan yang berpegang teguh pada nilai-nilai fair play dan berstandar internasional.
“Industri sepakbola bisa berjalan baik kalau pertandingan bersih. Sampai kapan kita tidak punya wasit sendiri yang bisa dipercaya? Kita libatkan wasit asing sekaligus membina wasit Indonesia,” seru Erick.
Konsistensi dalam menjaga nilai-nilai transparansi, akuntabilitas, dan fair play selama penyelenggaraan turnamen menjadi fondasi utama yang mengokohkan reputasi Piala Presiden. Ini menjadi modal besar yang bisa memperkuat posisi Piala Presiden untuk melangkah ke level berikutnya: menjadi turnamen pramusim kelas dunia.
Role Model Turnamen Sepak Bola di Daerah
Kesuksesan Piala Presiden 2025 yang sekaligus menggerakkan ekonomi kerakyatan seharusnya menjadi role model dalam penyelenggaraan turnamen sepak bola skala lokal di daerah. Piala Presiden bisa menjadi contoh dalam menggalang sponsor, memberdayakan pelaku UMKM, menerapkan transparansi serta menjunjung tinggi nilai-nilai fair play dan sportivitas dalam pelaksanaan turnamen.
Saat Piala Presiden sukses menjadi ajang pramusim bergengsi, bisa menjadi inspirasi di daerah-daerah dalam menggelar turnamen bertajuk Gubernur Cup, Wali Kota Cup, hingga Bupati Cup yang diikuti klub-klub sepak bola setempat. Piala Presiden semestinya bisa menjadi acuan bahwa turnamen sepak bola sekaligus bisa menjadi penggerak ekonomi kerakyatan.
Pemerintah daerah, klub lokal, hingga asosiasi PSSI di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota bisa mengadopsi kesuksesan Piala Presiden dengan mengadakan turnamen yang menggabungkan pertandingan sepak bola dibarengi festival UMKM, pertunjukan budaya, hingga ajang promosi pariwisata lokal.
Dengan demikian, turnamen sepak bola lokal di daerah bisa menciptakan efek berganda: pembinaan atlet sepak bola, ajang prestasi, panggung hiburan rakyat, sekaligus penggerak ekonomi kerakyatan.
Dengan menjadi acuan, Piala Presiden tak sekadar menjadi ajang pramusim bagi klub-klub Eropa di masa-masa mendatang. Akan tetapi, menjelma menjadi model pembangunan sepak bola berkelanjutan berbasis partisipasi masyarakat yang berdampak positif pada ekonomi kerakyatan.
(Penulis: Sapriadi)




Tinggalkan Balasan