WA Channel

Sengkang, KABARWAJO.id – Koordinator Media dan Juru Bicara pasangan Andi Rosman dan dr Baso Rahmanuddin (AR-Rahman), Andi Gusti Makkarodda, menyorot gaya komunikasi pasangan Amran Mahmud-Amran SE (Pammase) di sela-sela pelaksanaan kampanye dialogis.

Menurut AGM, gaya komunikasi pasangan nomor urut 2 itu bisa menjadi ancaman proses demokrasi dan merusak tatanan sosial politik di Wajo.

“Pilkada Wajo sudah sering berlangsung, dan tak pernah ada kandidat yang sampai mengeluarkan diksi yang merendahkan atau bersifat intimidatif terhadap masyarakat,” kata Andi Gusti, Rabu (13/11).

Diketahui, dalam video pendek yang viral di media sosial, Amran Mahmud terdengar merespons kritikan masyarakat terkait janji-janji yang belum terealisasi, termasuk Kartu Pammase yang tidak kunjung digunakan.

Dalam video tersebut, mantan Bupati Wajo periode 2019 – 2024 ini mengeluarkan pernyataan dalam Bahasa Bugis “alena matongko, alena de napahangngi,” (Dia yang bodoh, dia yang tidak paham).

“Pernyataan itu disampaikan Amran Mahmud saat menanggapi kritik soal kartu Pammase yang dijanjikan,” ujar AGM.

Di kesempatan lain, pasangan Amran Mahmud, Amran SE, mengeluarkan pernyataan yang bernada provokatif dan viral di media sosial.

“Poko’na ko engka carita ja’i Pammase, meloi sigajang,” (Intinya, kalau ada yang menceritakan keburukan Pammase, siap saling tikam)

Andi Gusti menilai, pernyataan merendahkan dan provokatif itu kemungkinan merupakan luapan emosi pasangan Pammase karena merasa sudah kehilangan dukungan masyarakat Wajo yang kini banyak beralih mendukung paslon AR-Rahman.

“Mungkin beliau kehilangan semangat karena telah mengetahui hasil survei yang sesungguhnya, yakni mayoritas masyarakat Wajo memilih AR-Rahman. Beliau lelah,” lanjut AGM, sembari tersenyum.

Ia menyesalkan pernyataan semacam itu disampaikan di ruang publik dan di depan ratusan masyarakat yang kemudian viral di media sosial dan bisa merusak iklim demokrasi di Wajo.

“Saya menyayangkan diksi semacam itu, apalagi ini diumbar di ruang publik dan dibagikan di sosial media. Hal ini bisa jadi ancaman bagi demokrasi di Wajo,” imbuhnya.

Andi Gusti mengatakan, seharusnya pasangan Pammase sebagai mantan Bupati dan Wakil Bupati Wajo bisa memahami karakter masyarakat Wajo.

Jika Soppeng identik dengan kepintaran atau macca dan Bone identik dengan keberanian atau warani, maka orang Wajo identik sebagai pedagang atau saudagar.

“Masyarakat Wajo pada umumnya memiliki karakter pedagang atau saudagar yang terbiasa dengan praktik jual beli dan tawar-menawar. Jadi, hati-hati dalam menawarkan sesuatu kepada orang Wajo. Jangan sampai menjanjikan sesuatu yang tidak dapat dipenuhi, karena itu hanya akan berujung pada kekecewaan,” ujar Andi Gusti.

“Jangan menawarkan sesuatu yang tidak ada, jangan menawarkan sesuatu terlalu mahal, apalagi menawarkan sesuatu terlalu murah,” pungkasnya. []