WA Channel

Semifinal Piala Presiden 2026 jadi panggung empat tim legendaris Indonesia. Berstatus turnamen pramusim, gelaran Piala Presiden sukses menarik animo masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi kerakyatan. Siapa pun juaranya, fair play dan sportivitas jadi prioritas.

—–

SENIN, 20 Juli 2026, gelaran Piala Dunia resmi berakhir dengan Spanyol keluar sebagai juara usai mengalahkan juara bertahan Argentina. Spanyol yang dilatih pelatih kawakan Luis de la Fuente sukses meredam permainan Lionel Messi dan kawan-kawan, sekaligus mengandaskan asa gelar juara dunia dua kali berturut-turut pelatih Argentina Lionel Scaloni.

Menjelang gelaran Piala Dunia 2026 usai, Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir bersama penggagas Piala Presiden Maruarar Sirait mengumumkan pelaksanaan turnamen pramusim Piala Presiden 2026. Kali ini, Stadion Si Jalak Harupat di Bandung, Jawa Barat, dan Stadion Gelora Bung Tomo di Surabaya, Jawa Timur, dipercayakan sebagai tuan rumah babak penyisihan grup.

Pada penyelenggaraan edisi kedelapan, diikuti delapan klub yang terbagi ke dalam dua grup. Di Grup A yang diselenggarakan di Stadion Si Jalak Harupat, ada Persib Bandung, Arema FC, DPMM FC asal Brunei Darussalam, dan Tampines Rovers asal Singapura. Sedangkan di Grup B, ada Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, PSMS Medan, serta juara bertahan Port FC asal Tailan.

“Turnamen ini akan sangat menarik karena mempertemukan klub-klub besar Indonesia dengan klub-klub terbaik dari Asia Tenggara. Kita akan melihat apakah klub-klub Indonesia mampu menjaga prestasi dan bersaing menghadapi tim-tim kuat, termasuk juara bertahan dari Tailan, Port FC,” kata Erick Thohir dalam sesi konferensi pers di Studio Emtek, SCTV Tower, Jakarta Pusat, Senin (6/7), dua pekan sebelum turnamen digelar.

Harapan Erick Thohir terbukti. Di Grup A, Persib Bandung berhasil keluar sebagai juara grup dengan tiga kali kemenangan dan mengumpulkan 9 poin didampingi Arema FC sebagai runner up dengan 6 poin. Di Grup B, Persebaya Surabaya tampil sebagai pemuncak klasemen dengan 9 poin diikuti Persija Jakarta yang mengumpulkan 4 poin. Persija unggul produktivitas gol dari Port FC yang mengumpulkan poin yang sama.

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir. Foto: Dokumentasi PSSI

Alhasil, semifinal Piala Presiden 2026 menjadi pentas klub elit Indonesia sekaligus memastikan gelar juara yang sebelumnya direngkuh Port FC asal Tailan bakal menjadi milik salah satu klub legendaris Indonesia. Duel panas dan penuh tensi tak terhindarkan. Persib Bandung berhadapan dengan Persija Jakarta, lalu derby Jatim antara Persebaya Surabaya melawan Arema Malang. Ketatnya laga semifinal Piala Presiden 2026 ini mengingatkan kembali pada gelaran Piala Dunia 2026 yang diisi empat negara peringkat empat besar FIFA. Inggris bersua Argentina, Prancis melawan Spanyol.

Fair Play dan Sportivitas Jadi Prioritas

Minggu, 2 Agustus 2026, jelang laga semifinal dan final, pihak penyelenggara Piala Presiden 2026 bersama pihak Indosiar selaku official broadcaster menggelar konferensi pers di Balai Kota Surabaya yang disiarkan secara live melalui Indosiar dan platform vidio. Sementara itu, di media sosial suporter dan netizen terlanjur gaduh. Mulai dari kabar semifinal ditiadakan dan langsung digelar laga final, hingga menanti kepastian tuan rumah laga semifinal dan final Piala Presiden 2026.

Kegaduhan suporter di media sosial sekaligus menandakan tingginya animo suporter dan penonton terhadap gelaran Piala Presiden 2026. Di lain sisi, laga “El Classico” yang mempertemukan empat klub yang sudah eksis sejak era perserikatan menjadi laga yang ditunggu-tunggu. Persib, Persija, Persebaya, dan Arema adalah klub dengan sejarah panjang serta basis suporter yang fanatik dan militan.

Dalam konferensi pers, Maruarar Sirait selaku Ketua Steering Commitee (SC) Piala Presiden 2026 menegaskan laga semifinal dan final digelar di Bali yang dianggap sebagai tempat netral. Ia tak menampik, faktor keamanan, keselamatan pemain maupun suporter, dan kondusivitas pelaksanaan pertandingan sehingga memilih Bali sebagai tuan rumah laga semifinal dan final Piala Presiden 2026. Dipilihnya Bali setelah melalui diskusi dengan Ketua Umum PSSI, Erick Thohir. Ara menilai, Bali sebagai venue memberikan atmosfer yang positif bagi pemain untuk bertanding sekaligus kesempatan berlibur menjelang kompetisi resmi Liga 1.

“Kita putuskan, semifinal dan final Piala Presiden 2026 digelar di Bali. Tentu pertimbangan keamanan adalah pertimbangan nomor satu karena keselamatan dan keamanan itu penting sekali,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Arya Sinulingga melalui unggahan di akun Instagram miliknya. Ia menyebut, masalah keamanan tidak hanya di stadion, akan tetapi saat dalam perjalanan pulang ke rumah masing-masing suporter.

“Mohon maaf. Selama masih ada rasis dan pemukulan serta tidak ada perdamaian antarsuporter, maka sepak bola kita akan tetap seperti ini. Masalah keamanan bukan hanya di stadion, tapi di jalan sampai ke rumah suporter. Jangan lagi ada jatuh korban karena permusuhan di sepak bola,” ungkap Arya Sinulingga.

Keputusan panitia menggelar laga semifinal Piala Presiden 2026 di Stadion Wayan Dipta Bali tanpa penonton cukup beralasan. Belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya, laga antara Persib Bandung dengan Persija Jakarta serta Persebaya Surabaya dengan Arema Malang kerap diwarnai kericuhan hingga bentrok antarsuporter. Kedewasaan suporter dalam menyikapi hasil pertandingan serta kepemimpinan wasit yang terkadang menjadi sorotan masih menjadi pekerjaan rumah persepakbolaan di tanah air.

“Mungkin Anda tidak suka (laga tanpa penonton), tapi keamanan dan keselamatan suporter adalah salah satu prioritas kami,” imbuh Arya Sinulingga di akun Instagram.

Sebagai turnamen pramusim sebelum memasuki kompetisi resmi, memang sudah sepantasnya penyelenggaraan Piala Presiden 2026 memprioritaskan keamanan suporter dan pemain serta mengedepankan sportivitas dan fair play. Bagi klub-klub peserta, perhelatan Piala Presiden menjadi kesempatan uji tanding sekaligus meramu strategi dan mengukur kekuatan tim sebelum menjalani kompetisi resmi.

Di sisi lain, kehadiran Piala Presiden menjadi hiburan rakyat baik bagi suporter yang datang langsung di stadion maupun yang menyaksikan melalui siaran langsung Indosiar dan live streaming vidio. Selain momentum menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui lapak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di kawasan stadion penyelenggara, Piala Presiden 2026 memberi tontonan sepak bola di tengah jeda kompetisi.

Laga semifinal Piala Presiden 2026 antara Persib Bandung melawan Persija Jakarta dalam siaran langsung. Foto: Sapriadi/kabarwajo.id

Gaung Piala Presiden 2026 Menjalar ke Daerah

Gemuruh Piala Presiden 2026 sejak babak penyisihan grup tak hanya dinikmati oleh suporter yang hadir langsung menonton di stadion, baik di Stadion Gelora Bung Tomo maupun di Stadion Si Jalak Harupat. Gaung Piala Presiden 2026 juga dirasakan hingga ke daerah.

Seperti yang disampaikan Direktur Emtek Media, Harsiwi Achmad. Ia menyebut, adanya lonjakan rating siaran Piala Presiden 2026 dibanding tahun lalu dengan peningkatan sekitar 15 persen.

“Piala Presiden kali ini sangat luar biasa. Bukan hanya penonton di stadion yang terus bertambah, tetapi penonton di televisi juga terus mengalami peningkatan,” ungkapnya dalam sesi konferensi pers pada Sabtu, 1 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, rating secara overall selama 10 pertandingan mencatatkan rata-rata 4,2 persen dengan audiencer 23,9 persen.

“Dan itu menjadi program nomor satu, tadi bukan hanya di antara (program) sport, tetapi di antara seluruh program yang tayang di semua TV. Tadi kan 23,9 persen, artinya 23,9 persen orang yang nonton TV saat itu nontonnya adalah Piala Presiden,” ungkap Harsiwi Achmad.

“Dan dari semua pertandingan kemarin (penyisihan grup), yang paling tinggi adalah antara Persebaya melawan Persija meraih rating 7, dan ini belum pernah dicapai oleh Liga 1 yah. Ini yang menyaingi adalah timnas saja,” imbuhnya.

Kendati demikian, sebagai bahan evaluasi untuk pelaksanaan di tahun-tahun mendatang, jadwal perhelatan Piala Presiden sudah seharusnya disiapkan dari jauh-jauh hari serta jarak pertandingan antara laga semifinal dan final yang tidak berdekatan.

Seperti yang disampaikan pemain Persebaya Surabaya Tony Firmansyah dan pemain Persija Jakarta Rio Fahmi yang berharap jadwal turnamen Piala Presiden ke depannya dipersiapkan sejak awal dan jeda antara laga semifinal dan final yang tidak berdekatan untuk memberi recovery bagi pemain.

(Penulis: Sapriadi)