MAKASSAR – Duta Besar Swiss untuk Indonesia Konstantin Obolensky menyambut baik kerja sama dengan Sulawesi Selatan, khususnya dalam pengembangan sektor rumput laut yang sudah terjalin dalam beberapa tahun terakhir.
Tak haknya rumput laut, Konstantin juga melihat peluang untuk memperluas kerja sama pada komoditas unggulan lainnya, yakni kopi dan kakao.
“Saya sangat bangga melihat bahwa kita bekerja sama dengan sangat erat dalam dimensi rumput laut ini. Saya sangat berharap para importir dan produsen asal Swiss dapat menemukan mitra dialog untuk membahas apakah mereka bisa mengambil lebih banyak pasokan bahan baku dari provinsi Anda yang indah ini,” kata Dubes Swiss dalam pertemuan dengan Wakil Gubernur Sulsel, Fatmawati Rusdi, di Makassar, Rabu (23/9).
Konstantin menekankan pentingnya menjaga sumber daya alam Sulawesi Selatan. Menurut dia, pelestarian sumber daya alam berkaitan dengan keberlanjutan lingkungan sekaligus kesehatan dan masa depan generasi mendatang.
“Sumber daya alam perlu diselamatkan dan dilindungi, bukan hanya karena keindahannya, tetapi juga demi kesehatan anak-anak, cucu-cucu dari masyarakat yang tinggal di sana,” ujar dia.
Dalam kesempatan yang sama, Country Director ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste Simrin Singh mengatakan ILO melihat peluang pengembangan kerja sama yang lebih luas di Sulawesi Selatan, khususnya dalam bidang ketenagakerjaan, UMKM, pariwisata, dan pengembangan rantai nilai rumput laut.
Ia menyebut program tersebut saat ini telah mendampingi 200 petani rumput laut dan membuka peluang perluasan jangkauan pendampingan hingga 2.000 petani.
“Tujuannya adalah melahirkan sektor rumput laut yang lebih sejahtera, lebih baik dan lebih berdaya saing melalui instrumen serta pengetahuan yang dimiliki,” ujarnya.
Sementara itu, Wagub Sulsel Fatmawati Rusdi menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Swiss melalui State Secretariat for Economic Affairs (SECO) dan International Labour Organization (ILO) dalam pengembangan sektor rumput laut di Sulawesi Selatan.
“Terima kasih atas dukungan dan bantuan yang telah diberikan kepada 200 petani rumput laut lokal kami. Kontribusi ini tidak hanya memperkuat mata pencaharian masyarakat, tetapi juga menjadi landasan untuk mempererat persahabatan dan kerja sama berorientasi masa depan antara Swiss dan Sulawesi Selatan,” kata Fatmawati.
Menurut dia, Sulawesi Selatan memiliki potensi ekonomi pada sejumlah sektor, antara lain kelautan, pertanian, pariwisata, serta energi baru dan terbarukan. Sulawesi Selatan merupakan provinsi penghasil rumput laut terbesar di Indonesia.
Pada 2024, produksi rumput laut Sulsel mencapai 180.432 ton yang tersebar di sejumlah wilayah pesisir, di antaranya Kabupaten Luwu, Takalar, dan Wajo. Pemerintah Provinsi Sulsel juga mendorong hilirisasi rumput laut agar komoditas tersebut tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
Pengembangan diarahkan pada produk bernilai tambah, seperti karagenan, agar-agar, bahan farmasi, hingga bioplastik, disertai pembangunan fasilitas pengolahan dan penyediaan rantai dingin.
Selain rumput laut, Fatmawati memperkenalkan sejumlah komoditas unggulan Sulawesi Selatan kepada delegasi Swiss, antara lain kakao, kopi, dan garam. Produksi kakao Sulsel pada 2025 tercatat 79.740 ton, sedangkan produksi kopi mencapai 30.665 ton.
Kopi antara lain dihasilkan di Kabupaten Enrekang, Toraja Utara, dan Tana Toraja. Adapun produksi garam mencapai lebih dari 30.900 ton, dengan Kabupaten Jeneponto sebagai salah satu sentra utama.
“Seluruh potensi besar ini akan semakin memberikan dampak nyata jika didorong oleh investasi dan kemitraan yang tepat. Melalui Dinas PMPTSP, kami siap mempermudah proses perizinan dan memberikan kenyamanan bagi para investor asal Swiss untuk berinvestasi di Sulawesi Selatan,” tegasnya. [*]



