PENYERANG Norwegia Alexander Sorloth dilaporkan menerima ancaman pembunuhan di media sosial usai gagal memanfaatkan salah satu momen krusial pada laga melawan Inggris di babak perempat final Piala Dunia 2026.
Dalam laporannya, RMC Sport menulis adanya gelombang pesan kebencian terhadap Sorloth di media sosial. Penyerang Atletico Madrid itu dianggap menyia-nyiakan peluang emas Norwegia, yang dianggap sebagai satu momen yang bisa saja mengubah total jalannya pertandingan.
“Itu adalah momen yang bisa mengubah segalanya bagi Norwegia. Setelah berhasil merebut kembali penguasaan bola dan mengalirkannya dari lini tengah, harapan Norwegia bertumpu pada Alexander Sorloth dan Erling Haaland saat mereka menghadapi John Stones dalam situasi dua lawan satu. Penyerang Atletico itu berhadapan dengan mantan bek Manchester City tersebut, namun tidak pernah mengoper bola kepada rekan setimnya, sehingga pada akhirnya tembakannya berhasil diblokir,” tulis RMC Sport, Senin (13/7).
Momen tersebut menjadi peluang emas Norwegia untuk menggandakan keunggulan menjadi 2-0. Pada akhirnya, Inggris berhasil menyamakan skor beberapa menit kemudian dan memenangkan laga melalui gol Jude Bellingham.
“Rasanya berat. Ada hal-hal yang saya harap bisa saya lakukan dengan lebih baik, tetapi saya tahu akan ada kesempatan lain yang datang. Tentu saja, sulit rasanya ketika itu adalah pertandingan yang begitu penting,” kata Sorloth usai pertandingan.
Lena Selnas yang merupakan pasangan Alexander Sorloth angkat suara. Secara terbuka, dia mengecam gelombang pesan kebencian terhadap Sorloth.
“Piala Dunia dan sepak bola membawa banyak kegembiraan, tetapi juga banyak kebencian. Saya sebenarnya lebih memilih untuk tidak memedulikannya, namun menghadapi komentar-komentar seperti ini, saya tidak punya pilihan lain,” kata Lena Selnas.
Ancaman pembunuhan bahkan desakan agar Sorloth bunuh diri ditujukan kepada sang penyerang.
“Itulah sebabnya saya menyarankan para pemain untuk menjauhi media sosial. Terutama pemain-pemain seperti mereka,” kata pelatih asal Norwegia, Stale Solbakken, menanggapi fenomena yang kian marak terjadi setelah kekalahan-kekalahan besar. []



