MAKASSAR – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan di bawah kepemimpinan ketua baru Suwardi Thahir mulai melakukan sejumlah langkah untuk menata kembali organisasi kewartawanan tertua di Indonesia itu.
Beberapa hal yang menjadi perhatian serius pengurus PWI Sulsel, yakni pembenahan struktur kepengurusan di tingkat kabupaten/kota, upaya memperkuat administrasi, menertibkan data keanggotaan, serta menyiapkan regenerasi kepemimpinan di daerah.
“Dari laporan di lapangan, ada beberapa persoalan mendasar yang harus segera kita selesaikan. Mulai dari Plt Ketua, penataan data anggota, pengurusan KTA, hingga regenerasi kepemimpinan di daerah,” kata Suwardi Thahir dalam rapat evaluasi internal PWI Sulsel di Makassar, Rabu (12/8).
Rapat itu dihadiri sejumlah pengurus Harian PWI Sulsel, di antaranya Wakil Ketua Bidang Organisasi Mappiar HS, Iksan Dj, FAS Rahmat, Ardiansyah Bandoe, Abdullah Rattingan, dan Iga K. Sementara Abdul Razak Arsyad dan Ade Cahyadi mengikuti rapat secara daring.
Rapat internal tersebut sekaligus menjadi ruang untuk menyatukan langkah sekaligus menindaklanjuti hasil kunjungan lapangan FAS Rahmat selaku Sekretaris Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI Sulsel ke sejumlah daerah.
Menurut Suwardi Thahir, hasil kunjungan lapangan menemukan sejumlah persoalan mendasar yang perlu segera dibenahi. Beberapa daerah yang menjadi perhatian PWI Sulsel antara lain Wajo, Bone, Soppeng, Enrekang, Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara, dan Toraja.

Khusus PWI Kabupaten Wajo, yang menjadi pembahasan mencakup usulan anggota terkait perubahan nama media pada Kartu Tanda Anggota (KTA) sesuai dengan tempat kerja saat ini agar keanggotaan yang bersangkutan dapat kembali aktif. Data keanggotaan PWI di Wajo juga akan diverifikasi ulang.
Sementara di Bone, PWI Sulsel berencana segera menunjuk Pelaksana Tugas (PLT) Ketua yang baru. Adapun kondisi di Enrekang menjadi perhatian tersendiri karena jumlah anggota aktif disebut hanya tersisa sekitar tiga orang.
“Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa regenerasi merupakan pekerjaan rumah yang tidak dapat ditunda. Organisasi tidak hanya membutuhkan struktur yang tertata, tetapi juga generasi baru yang mampu menjaga kesinambungan perjuangan dan marwah kewartawanan,” ungkap Suwardi Thahir.
Pembenahan Tidak Setengah-Setengah
Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Sulsel, Mappiar HS, menambahkan, pembenahan organisasi tidak boleh dilakukan secara setengah-setengah.
“Dalam satu tahun ke depan, penertiban data anggota, percepatan KTA, reaktivasi keanggotaan, dan regenerasi harus menjadi kerja bersama. Kita ingin tata kelola PWI di daerah lebih transparan, profesional, dan punya marwah,” kata Mappiar.
PWI Sulsel juga akan berkoordinasi dengan Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) untuk memastikan setiap penyesuaian kepengurusan dan keanggotaan tetap berjalan sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi.
Pembenahan itu bukan sekadar merapikan administrasi. Akan tetapi, menjadi upaya merawat rumah besar kewartawanan agar tetap berdiri kokoh di tengah perubahan zaman.
Dengan semangat kebersamaan, PWI Sulsel berharap organisasi wartawan tertua di Indonesia tersebut semakin kuat di daerah, mampu menjaga profesionalisme anggotanya, serta terus bersinergi dengan berbagai pihak dalam menjalankan fungsi pers bagi masyarakat. []



