Sengkang, KABARWAJO.ID – Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi memberikan apresiasi terhadap keberhasilan Pemerintah Kabupaten Wajo menurunkan angka stunting hingga 20,5 persen. Pencapaian tersebut berada di bawah rata-rata provinsi.
“Capaian ini menjadi indikator positif dari kolaborasi lintas sektor dalam penanganan stunting di daerah,” ungkap Wagub Sulsel di sela-sela kunjungannya di Kabupaten Wajo, Rabu (8/4/2026).
Fatmawati menekankan upaya tersebut terus diperkuat melalui intervensi berkelanjutan, termasuk edukasi gizi dan peningkatan layanan kesehatan masyarakat. Di sisi lain, Wagub Sulsel menyoroti masih tingginya angka pernikahan usia dini di Wajo sebagai tantangan dalam peningkatan indeks pemberdayaan gender.
Dia meminta pemerintah daerah bersama PKK dan instansi terkait untuk meningkatkan edukasi serta pendampingan kepada masyarakat.
Dalam kunjungannya di Kabupaten Wajo, Fatmawati Rusdi juga menyampaikan perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga. Dia menilai pelatihan keterampilan seperti pembuatan bosara tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Selain penguatan ekonomi, Fatmawati turut mendorong implementasi Program ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) sebagai gerakan bersama dalam menjaga lingkungan. Dia meminta pemerintah daerah hingga tingkat desa mengaktifkan bank sampah dan TPS 3R, serta membangun kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah secara berkelanjutan.
“Budaya bersih harus dimulai dari individu. Pemerintah akan hadir dengan dukungan sarana, tetapi kesadaran masyarakat menjadi kunci utama,” ujar dia.
Dalam kesempatan itu, Fatmawati Rusdi juga menyerahkan bantuan secara simbolis berupa puluhan paket peralatan pembuatan bosara, alat cup sealer, dan cooler box untuk mendukung pengembangan UMKM perempuan.
Ia turut meninjau pojok ramah anak serta melihat langsung proses pembuatan bosara oleh peserta pelatihan sebagai bagian dari penguatan keterampilan berbasis budaya lokal.



