Sengkang, KABARWAJO.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV memperkirakan wilayah Sulawesi Selatan, termasuk Kabupaten Wajo, akan memasuki tren penurunan curah hujan secara bertahap mulai Juli hingga puncaknya pada September 2026.
Mengutip rilis Pusdalops-PB BPBD Kabupaten Wajo, prakiraan BMKG itu berdasarkan hasil analisis kondisi fisis dan dinamis atmosfer. Sifat hujan selama periode Juli – September 2026 didominasi kategori Bawah Normal hingga Normal, yang menandakan kesiapan penuh terhadap potensi dampak kekeringan.
Pada bulan Juli 2026, analisis BMKG Wilayah IV menyebutkan wilayah Kabupaten Wajo mulai mengalami masa transisi menuju musim kemarau. Curah hujan bervariasi namun cenderung menurun dibanding bulan-bulan sebelumnya.
Bulan Agustus 2026, BMKG memprediksi curah hujan akan menurun signifikan dengan sifat hujan bawah normal hingga normal. Imbas penurunan curah hujan yang tajam, sebagian besar wilayah akan mulai merasakan dampak cuaca kering, dengan intensitas hujan yang sangat rendah (kategori rendah).
Pada September 2026, analisis BMKG menyebutkan sebagai puncak fase kering dalam periode triwulan tersebut. Curah hujan sangat minim di seluruh wilayah, meningkatkan risiko defisit air meteorologis secara signifikan.
Untuk itu, sebagai langkah mitigasi, BMKG menyarankan adanya manajemen sumber daya air dan koordinasi dengan Dinas Pertanian maupun PDAM untuk mengantisipasi potensi kekeringan pasokan air bersih warga dan pengairan sawah. Selain itu, warga juga diingatkan untuk mewaspadai kebakaran lahan.
Salah seorang warga Kecamatan Belawa, Anwar, dalam unggahannya di media sosial menyebutkan, petani di daerah itu terancam dua kali gagal panen imbas kekeringan panjang.
“Sawah retak, saluran air kering, dan padi mulai menguning sebelum waktunya,” ungkap Anwar.
Dampaknya, lanjut dia, mengakibatkan petani mengalami kerugian serta ancaman rawan pangan. Anwar meminta adanya perhatian Pemerintah Kabupaten Wajo berupa bantuan air darurat serta pengeboran sumur bor di titik-titik sawah kritis.
“Turun lapangan untuk mendata dan melihat langsung, kami yakin Pemkab Wajo tidak akan tinggal diam,” pungkasnya. []



