Categories: Ragam

Kisah Kampung Sutra Pakkanna dan Peran BNI Bangun Kemandirian Ekonomi Masyarakat

Melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) pada tahun 2011, BNI turut berperan dalam menata Desa Pakkanna sebagai “Kampung Sutra” sekaligus mendorong kemandirian para pelaku UMKM kerajinan kain tenun sutra setempat.

—–

DESA Pakkanna merupakan salah satu desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Desa ini merupakan hasil pemekaran dari Desa Nepo pada tahun 1992. Namun demikian, wilayah Desa Pakkanna yang berada di pesisir Danau Tempe ini telah lama dikenal sebagai pusat indutri kain sutra khas Wajo atau dikenal sebagai lipa sabbe Sengkang.

Bagi ibu-ibu rumah tangga di Desa Pakkanna, keterampilan menenun kain sutra merupakan warisan turun-temurun sekaligus menjadi penghasilan tambahan bagi perekonomian keluarga di sela-sela aktivitas keseharian mengurus rumah tangga. Rutinitas menenun secara tradisional itu dilakukan di kolong-kolong rumah panggung khas masyarakat Bugis Wajo dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Salah seorang perajin kain sutra, Megawati (55) menuturkan, keterampilan menenun diturunkan dari ibunya sejak Megawati duduk di bangku Sekolah Dasar sekitar tahun 1986. Menurut dia, para perajin kain sutra di Desa Pakkanna bekerja sama dengan toko atau pemilik galeri setempat dalam memasarkan hasil tenunan mereka.

“Kami di sini (Desa Pakkanna) digaji, tinggal menenun saja. Bahan baku dan motif, itu toko yang tentukan,” kata Megawati, saat ditemui, Sabtu (6/6/2026).

Dari Krisis, Desa Pakkanna Ditata Jadi Kampung Sutra

Tahun 2011, Bank Negara Indonesia (BNI) melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Wajo menata Desa Pakkanna sebagai “Kampung Sutra BNI”. Program itu digagas di masa pemerintahan Bupati Wajo, almarhum Andi Burhanuddin Unru.

Menurut Andi Muh Yusuf Baharuddin, pensiunan ASN Pemkab Wajo yang pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Tata Usaha di Dinas Pasar Kabupaten Wajo dan Kabag Administrasi SDA Sekretariat Daerah Kabupaten Wajo, program “Kampung Sutra BNI” tersebut lahir setelah para perajin kain sutra setempat dihantam krisis ekonomi sejak tahun 1998 yang berdampak pada menurunnya produksi kain sutra.

Melalui Silk Solution Center (SSC) yang didirikan pemerhati kain sutra Kabupaten Wajo yang bertujuan memajukan kembali produksi kain sutra Sengkang, mereka menjadi mediator antara Pemerintah Kabupaten Wajo dengan BNI dalam membangun “Kampung Sutra” di Desa Pakkanna. Melalui program ini, BNI turut langsung mendorong pengembangan UMKM, khususnya para perajin kain sutra dalam satu kawasan (klaster).

Dukungan tak hanya dalam bentuk modal berupa pinjaman kredit lunak serta bantuan bina lingkungan, BNI sekaligus memberikan pendampingan serta berbagai kegiatan inovatif bagi para perajin sutra di Desa Pakkanna. Di antaranya dukungan pemasaran kain tenun sutra melalui pameran, fashion show hingga pelaksanaan seminar untuk memberikan edukasi bagi mitra binaan. Di samping itu, BNI juga turut memberikan saran dalam hal desain tenun sutra khas Wajo sehingga bisa diterima pasar secara luas bahkan hingga mancanegara.

“Kampung Sutra di Desa Pakkanna diresmikan pada tahun 2011, pada masa pemerintahan Bupati Wajo Andi Burhanuddin Unru dengan bekerja sama BNI. Tujuannya saat itu, mendorong pengembangan kerajinan sutra dalam satu kawasan sekaligus menjadi destinasi wisata,” ungkap Andi Muh Yusuf, Selasa (23/6/2026).

Salah satu motif kain tenun sutra khas Sengkang, Kabupaten Wajo. Foto: Sapriadi/KABARWAJO.ID

Dia menyebutkan, dengan adanya program “Kampung Sutra Pakkanna” yang digagas BNI, Pemerintah Kabupaten Wajo bersama Silk Solution Centre (SSC), memberi dampak positif yang berkelanjutan bagi pelaku kerajinan kain tenun sutra setempat.

“Saat ada tamu (Pemda) yang datang ke Wajo, itu umumnya mereka datang berkunjung ke Desa Pakkanna untuk melihat langsung aktivitas menenun kain sutra secara tradisional sekaligus mereka membeli langsung di pusat industrinya,” kata Andi Muh Yusuf.

Tak hanya itu, melalui program “Kampung Sutra BNI” di Desa Pakkanna, para perajin kain sutra kini bisa lebih mandiri dengan membangun kemitraan para pemilik toko atau galeri kain sutra yang berada di kawasan tersebut untuk menjual hasil tenunan mereka.

“Para penenun tak lagi perlu jauh-jauh untuk menjual hasil tenun. Banyak yang kini bermitra dengan para pemilik toko atau galeri kain sutra yang selanjutnya memasarkan ke pembeli, baik yang datang langsung ke toko atau melalui pemasaran digital seperti saat ini,” imbuh Andi Muh Yusuf.

Catatan penulis, salah satu momen monumental “Kampung Sutra Pakkanna” kala dikunjungi langsung Presiden ke-6 RI, Soesilo Bambang Yudhoyono bersama istrinya, kala melakukan kunjungan kerja di Sulawesi Selatan, termasuk di Kabupaten Wajo pada Sabtu (22/2/2014).

Ikbal, salah seorang pemilik toko sutra di Desa Pakkanna menuturkan, selain melalui toko konvensional, kini dia memanfaatkan platform digital seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, hingga e-commerce dalam memasarkan produk kain sutra Wajo. Di samping itu, ada juga wisatawan yang datang berwisata langsung ke Desa Pakkanna dan membeli suvenir dari kain sutra.

“Usaha kami ini sudah dirintis sejak 1950-an oleh kakek buyut. Sekarang, kami teruskan dan bekerja sama dengan para penenun,” kata Ikbal.

Karyawan toko sutra lainnya di Desa Pakkanna, Wahyuni menuturkan, beberapa kali dia menerima pesanan dari berbagai daerah melalui pemasaran digital. Di antaranya dari Tangerang, Nunukan (Kalimantan Utara), Maluku, Manado, Papua, hingga Malaysia.

Apresiasi Kontribusi BNI

Sementara itu, Bupati Wajo Andi Rosman memberikan apresiasi atas kontribusi BNI yang terus berkomitmen membantu peningkatan perekonomian masyarakat melalui fasilitas pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta pengembangan UMKM di Kabupaten Wajo.

Menurut Andi Rosman, UMKM di Wajo memiliki potensi yang besar, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Di samping itu, Bupati Wajo menegaskan pihaknya akan menghadirkan pusat oleh-oleh khas Wajo.

“Ke depan, kita akan memikirkan bagaimana Kabupaten Wajo punya area pusat oleh-oleh. Dengan adanya sinergi Pemkab Wajo, BNI, dan dukungan legislator pusat, diharapkan akses permodalan, pembinaan, serta pemasaran UMKM semakin berkembang yang akan memperkuat struktur ekonomi masyarakat Wajo dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkas Andi Rosman.

(Penulis : Sapriadi)

Sapriadi PW

Sapriadi, yang lebih akrab dikenal dengan nama pena Adi Pallawalino, adalah seorang jurnalis, penulis, dan traveler. Ia adalah pendiri media online KABARWAJO.ID dan Sulbarkini.com, berkiprah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar).

Recent Posts

Jelang Porprov Sulsel 2026, Kepala BKAD Sulsel Tinjau Kesiapan Venue di Bone

Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Provinsi Sulawesi Selatan Reza Faisal Saleh melakukan kunjungan…

9 jam ago

Mantan Penjabat Bupati Wajo Andi Bataralifu Jabat Sekretaris Inspektorat Jenderal Kemendagri

Mantan Penjabat Bupati Wajo Andi Bataralifu mengemban tugas baru di lingkup Kementerian Dalam Negeri.

3 hari ago

Badan Komunikasi Diminta Sampaikan Masukan dan Kritikan Masyarakat ke Presiden

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto memanggil Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Syahganda Nainggolan dan Wakil…

4 hari ago

Pergantian Kepala Badan Komunikasi RI, DIR Ungkap Hasil Analisis di Media Mainstream dan Media Sosial

Pergantian Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) dari M Qodari kepada Syahganda Nainggolan pada Jumat (2/10)…

4 hari ago

“Gaspol” Usai Dilantik: Kapolri Suyudi Rombak Total Kapolda di Jawa, Ganti Empat Kapolda di Sulawesi

Sehari setelah dilantik sebagai Kepala Kepolisian RI pada Kamis (1/10) oleh Presiden Prabowo Subianto, Jenderal…

5 hari ago

Wagub Dorong Perbankan Dekatkan Pelayanan ke Masyarakat, Literasi Keuangan Sulsel di Angka 61 Persen

Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dalam hal akses layanan…

5 hari ago