KABARWAJO.ID – Mantan Bupati Wajo periode 2009-2014 dan 2014-2019, Andi Burhanuddin Unru, punya cerita tersendiri saat menghadapi banjir tahunan yang melanda wilayah pesisir Danau Tempe.
Saat sebagian warga mulai mengungsi dan tenda-tenda pengungsian didirikan di Lapangan Merdeka Sengkang, sosok yang akrab disapa Petta Bur itu dengan senang hati menyempatkan waktunya saat dimintai wawancara oleh wartawan TV saat banjir.
Ia berdalih, momen itu menjadi kesempatan mengabarkan terkait bencana banjir yang melanda Kabupaten Wajo secara nasional.
“Bencana itu tidak kita minta, sebagian besar warga juga memilih bertahan di rumahnya daripada pergi mengungsi. Kalau diliput televisi, bisa datang banyak bantuan yang kemudian disalurkan langsung ke warga yang mengungsi maupun yang memilih bertahan di rumahnya,” ujar mendiang Andi Burhanuddin Unru dalam sebuah kesempatan.
Diketahui, banjir yang kerap menerjang daerah di pesisir Danau Tempe merupakan banjir tahunan. Banjir ini dipicu sejumlah faktor, mulai dari pendangkalan danau akibat sedimentasi, intensitas hujan yang tinggi, serta sistem drainase yang tidak seimbang.
Pada masa pemerintahan Bupati Wajo Andi Asmidin, sempat diwacanakan merelokasi warga yang kerap terdampak banjir di pesisir Danau Tempe ke daerah Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) Bekkae di Kecamatan Gilireng.
Namun, sebagian besar warga yang sudah terbiasa tinggal di pesisir Danau Tempe dan berprofesi sebagai nelayan itu ada yang tidak bersedia bahkan tidak betah menetap.
Bagi mereka, banjir adalah siklus alam yang harus dihadapi meski terkadang mengancam keselamatan dan berdampak pada aktivitas keseharian. []



