WA Channel

KABARWAJO.id – Pada peringatan HUT ke-79 RI yang untuk pertama kali dilaksanakan di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Presiden Joko Widodo bersama Ibu Negara Iriana mengenakan pakaian adat khas Kesultanan Kutai Kartanegara, yakni baju adat Kustin.

Dilansir Biro Pers, Media, dan Informasi (BPMI) Sekretariat Presiden (Setpres), pakaian adat kustin memiliki makna dalam sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara, yang berlokasi di Provinsi Kalimantan Timur.

Kesultanan ini dikenal sebagai salah satu kerajaan tertua di Indonesia dan dianggap sebagai cikal bakal Nusantara.

Penamaan baju adat ini berasal dari kata “Kustin,” yang berarti “kebesaran,” menandakan bahwa pakaian ini memiliki kasta tertinggi dalam hierarki kerajaan.

Pada masa Kesultanan Kutai Kartanegara, baju adat Kustin hanya dikenakan oleh Aji Sultan, para pangeran, serta kakak perempuan Aji Sultan dan istri-istri pangeran.

Pakaian ini biasanya dipakai dalam upacara-upacara penting, termasuk Erau, sebuah perayaan besar dan megah yang diselenggarakan oleh Kesultanan Kutai Kartanegara.

Potret Sultan Aji Muhammad Idris, dinobatkan sebagai pahlawan nasional asal Kalimantan Timur. Ia berjuang melawan VOC bersama mertuanya, Lamaddukelleng, di Wajo. Foto: Istimewa/HO

Jejak Perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris

Dalam sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara, salah satu raja atau sultan yang terkenal yakni Sultan Aji Muhammad Idris.

Berkat perjuangannya melawan penjajahan Belanda bersama mertuanya yang juga merupakan Arung Matoa Wajo, Lamaddukelleng, dia dianugerahi Pahlawan Nasional pada November 2021 lalu.

Kedua tokoh ini sekaligus mengukir sejarah, mertua dan anak menantu yang sama-sama dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

Makam keduanya pun berada dalam satu kompleks di tengah-tengah Kota Sengkang, ibu kota Kabupaten Wajo. Seperti apa sosok dan perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris?

Menurut berbagai sumber, Sultan Aji Muhammad Idris merupakan Sultan ke-14 dari Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang memimpin sejak tahun 1735-1778.

Dia menjadi Sultan pertama yang memakai nama Islam sejak masuknya agama Islam di Kesultanan Kutai Kertanegara pada abad ke-17.

Semasa hidup, Sultan Aji Muhammad Idris menikah sebanyak dua kali dan memiliki 12 orang anak. Dia merupakan menantu dari Raja Wajo, Lamaddukelleng.

Menurut laman resmi Kabupaten Kutai Kertanegara, Sultan Aji Muhammad Idris pernah membantu sang mertua untuk melawan VOC di Wajo. Saat itu, pemerintahan dipegang Dewan Perwalian.

Pada tahun 1736, Sultan Aji Muhammad Idris disebut membawa 200 orang prajurit dari Kerajaan Kutai Kertanegara Ing Martadipura untuk melawan VOC.

Terkait penyebab wafatnya Sultan Aji Muhammad Idris terdapat beberapa versi, yakni dia disebutkan meninggal saat melakukan pertempuran melawan VOC di Wajo.

Lalu, ada yang menyebut Sultan Aji Muhammad Idris meninggal dunia saat dirawat karena terluka dalam peperangan. Sedangkan versi lainnya menyebut Idris dibunuh pascaperang di Wajo.

Pada tahun 2012, Pemkab Kutai Kertanegara memugar makam Sultan Aji Muhammad Idris di Sengkang, Wajo, Sulawesi Selatan.