KMP Kota Bumi, salah satu kapal feri jenis Roro yang beroperasi di rute Bajoe-Kolaka. Foto: Sapriadi/KABARWAJO.ID
Pelabuhan Bajoe di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, tak sekadar memperkuat konektivitas jalur transportasi laut dengan Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara. Tetapi, menjadi sumber penghidupan pelaku UMKM hingga sebagai destinasi wisata.
——-
KAMIS siang, 24 September 2026, terik matahari menyengat di kawasan Pelabuhan Penyeberangan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan. Semilir angin laut yang berembus menerbangkan rasa penat dan gerah.
Siang itu, puluhan truk dengan beragam muatan nampak berjejer di kawasan pelabuhan yang menghubungkan Kabupaten Bone dengan Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara, melalui perairan Teluk Bone. Di bagian lain pelabuhan, beberapa penumpang dengan sepeda motor bersiap naik ke Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Kota Bumi yang dijadwalkan berangkat sekitar pukul 13.30 WITA.
“Ini lagi siap-siap naik ke kapal,” kata Haerul, salah seorang penumpang dengan sepeda motor kepada KABARWAJO.ID.
Haerul menuturkan, dirinya merupakan asli Bone. Dia hendak menyeberang dengan kapal feri roll on-roll off (RoRo) menuju Kolaka, Sulawesi Tenggara, dan selanjutnya meneruskan perjalanan darat ke Morowali, Sulawesi Tengah.
“Sudah jalan setahun saya bekerja di Morowali. Lebih nyaman naik kapal Roro menyeberang ke Kolaka karena saya punya waktu beristirahat di kapal,” ujarnya.
Haerul membandingkan, jika melalui perjalanan darat dari Bone ke Morowali, dia harus menempuh perjalanan sekitar 750 kilometer atau 18 jam dengan mengendarai motor. Melalui jalur laut dengan kapal Roro, rute Bajoe-Kolaka ditempuh selama 8-9 jam perjalanan. Dari Pelabuhan Kolaka, Haerul melanjutkan perjalanan naik motor ke Morowali dengan waktu tempuh sekitar 8 jam.
Selain truk yang mengangkut bahan pangan, komoditas pertanian, kebutuhan pokok, perabot rumah tangga hingga material bangunan, Pelabuhan Bajoe juga menjadi jembatan laut bagi bus penumpang dari Bone dan sekitarnya menuju ke Kolaka dan kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara.
“Penumpang ada yang dari Sinjai dan Bulukumba. Tiba di Kolaka, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Kendari,” kata sopir bus, Rahman.
Menurut dia, sehari berselang, bus kembali membawa penumpang dari Pelabuhan Kolaka untuk menyeberang ke Pelabuhan Bajoe.
Memperkuat Konektivitas Dua Sulawesi
General Manager (GM) PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Bajoe, Hafiluddin Usman, mengatakan, Pelabuhan Bajoe memegang peranan penting dalam memperkuat konektivitas dua wilayah, yakni Provinsi Sulawesi Selatan dengan Provinsi Sulawesi Tenggara melalui perairan Teluk Bone.
Ia menyebut, rute penyeberangan Bajoe-Kolaka membuat jalur distribusi lebih singkat dibanding menempuh jalur darat. Pelabuhan Bajoe, lanjut Hafiluddin, menjadi jembatan laut yang mendukung mobilitas masyarakat, memperlancar distribusi logistik, bahan pangan, komoditas pertanian, serta kebutuhan pokok lainnya antara dua provinsi di Pulau Sulawesi.
“Tak hanya menjadi jalur lalu lintas penumpang, tetapi juga jalur distribusi logistik. Baik dari Pelabuhan Bajoe, maupun sebaliknya yang dari Kolaka,” kata Hafiluddin saat ditemui di ruang kerjanya.
Ia menambahkan, komoditas yang diseberangkan dari Bajoe ke Kolaka di antaranya sayur-sayuran, beras, telur, hingga perabot rumah tangga dan kendaraan bermotor.
“Sayur-sayuran dipasok dari Kabupaten Enrekang dan Bulukumba, beras dan telur dari Kabupaten Sidrap. Komoditi ini diseberangkan untuk memenuhi kebutuhan pokok di Sulawesi Tenggara melalui Pelabuhan Bajoe. Kalau melalui jalur darat, tentu perjalanan memutar dan melelahkan bagi para sopir,” ujar Hafiluddin.
Adapun perabot rumah tangga, material bangunan, hingga kendaraan bermotor, diangkut dari Makassar untuk selanjutnya diseberangkan ke Sulawesi Tenggara. Hafiluddin menuturkan, Pelabuhan Bajoe juga menjadi titik persinggahan bagi pengiriman komoditas dari berbagai daerah sekaligus menjadi jembatan penghubung jalur laut yang menghubungkan Jawa, Maluku, dan Papua.
“Beberapa kendaraan yang hendak menyeberang, ada juga dari Surabaya melalui Pelabuhan Makassar. Dari Makassar ke Bone menempuh perjalanan darat, dan selanjutnya ke Kolaka dan Kendari melalui Pelabuhan Bajoe,” ungkap Hafiluddin.
Sementara dari Kolaka, lanjut dia, komoditas yang diseberangkan berupa hasil-hasil pertanian dan perkebunan seperti kakao, kopi, cengkeh, kelapa, jagung, hingga ubi kayu. Dalam rangka memperkuat konektivitas penyeberangan Bajoe-Kolaka, lanjut Hafiluddin, ASDP melakukan revitalisasi dermaga serta peningkatan kapasitas jembatan penghubung dermaga dan kapal atau Moveable Bridge (MB) dari kapasitas 30 ton ditingkatkan menjadi maksimal 50 ton yang mulai dioperasikan sejak Mei 2026.
“Melalui pembenahan ini, tentu kami mengutamakan faktor keselamatan dan kenyamanan masyarakat pengguna jasa dengan up grade kapasitas MB dari 30 ton menjadi maksimal 50 ton,” ujar Hafiluddin.
Fahmi Kautsar selaku Marine Superintendent ASDP Cabang Bajoe menambahkan, terdapat tiga trip dalam sehari melalui rute pelayaran Bajoe-Kolaka dengan lima armada kapal milik ASDP. Kelima kapal tersebut yakni KMP Raja di Laut, KMP Fais, KMP Masagena, KMP Mishima, dan KMP Kota Bumi.
“Ada tiga trip atau jadwal keberangkatan setiap hari dari Bajoe. Yakni pukul 10.00 WITA, pukul 13.30 WITA, dan pukul 17.00 WITA. Begitu pun dari Pelabuhan Kolaka, juga ada tiga trip dalam sehari,” ujar Fahmi.
Ia menyebutkan, ASDP Cabang Bajoe juga membawahi penyeberangan melalui Pelabuhan Siwa di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, dengan Pelabuhan Tobaku, Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara. Adapun lintasan perintis yakni Maccini Baji-Pulau Sabutung dan Maccini Baji-Pulau Balanglompo yang masuk dalam wilayah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep).
Dari Dermaga Bajoe, Wujudkan Mimpi Berhaji ke Tanah Suci
Bagi Hajjah Risnawati, Pelabuhan Bajoe bukan sekadar jembatan laut yang menghubungkan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Pelabuhan penyeberangan yang beroperasi sejak tahun 2003 itu, telah menjadi tempat mencari rezeki bersama puluhan pedagang asongan lainnya.
“Saya mulai menjual di sini, yah sejak Pelabuhan Bajoe ini mulai beroperasi. Sudah puluhan tahun,” kata Hajjah Risnawati.
Berbekal keranjang plastik, dia menjajakan nasi kotak, air mineral, serta kacang goreng kepada penumpang hingga ke dek sebelum sebelum kapal berangkat.
“Saya tidak punya lapak berjualan. Setiap kapal mau berangkat, kami naik ke dek kapal menawarkan makanan atau air mineral ke penumpang. Nanti turun ke dermaga setelah awak kapal memberi tahu kapal segera berlayar,” ujarnya.
Dalam sehari, menurut Risnawati, pendapatannya tidak menentu. Rata-rata, penghasilan dari jualan asongan Rp100 ribu hingga Rp500 ribu bisa dia dapatkan dalam sehari.
“Tapi tidak setiap hari saya menjual di sini, karena ada shift dengan penjual lainnya. Ada sekitar 30 orang pedagang asongan di Pelabuhan Bajoe,” ungkapnya.
Dia bersyukur, dari hasil berjualan asongan di Pelabuhan Bajoe sebagian disisihkan untuk mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji ke tanah suci.
“Saya ke tanah suci naik haji, baru-baru tahun ini. Alhamdulillah, ada rezeki. Anak ada satu, sudah berkeluarga. Saya sempat menjanda, namun tetap berjualan di sini. Dan sekarang sudah dapat lagi jodohnya,” ujarnya.
Dulu Tertinggal, Kini Berperan Vital
Merunut ke belakang, Pelabuhan Bajoe yang bermula dari pelabuhan rakyat itu sempat tertinggal bila dibandingkan dengan pelabuhan di Makassar dan Parepare. Hal itu diakui salah seorang warga Kabupaten Bone, Muhammad Yusuf.
“Memang dulu sempat sepi, tapi sekarang sudah ramai sejak ASDP beroperasi. Bisa dibilang, Pelabuhan Bajoe ini menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Bone,” kata salah seorang wartawan senior di Kabupaten Bone ini.
Tak dipungkiri, seiring pembenahan berupa pengembangan fasilitas pelabuhan yang modern di bawah tata kelola ASDP, Pelabuhan Bajoe menjelma menjadi pelabuhan yang vital dan menjadi titik singgah yang strategis bagi pengiriman barang di berbagai daerah.
Aco, sopir ekspedisi yang hendak ke Kendari, mengaku kini memilih melalui jalur penyeberangan melalui Bajoe-Kolaka.
“Ini baru dua bulan menyeberang naik feri, dulu memutar lewat Malili (jalur darat). Karena kapasitas jembatan sudah dinaikkan maksimal 50 ton,” ujar Aco.
Salah seorang penumpang kapal, Haerul, mengaku pemesanan tiket kini lebih mudah dan praktis dengan adanya layanan sistem tiket online melalui Ferizy. Selain memberi kepastian jadwal keberangkatan, dia tak lagi harus berurusan dengan calo.
“Sekarang lebih praktis, bisa pesan tiket online sendiri dari rumah. Jadi kalau mau berangkat, tidak ribet lagi dan tak lagi diganggu calo,” kata Haerul.
Dukungan terhadap pengembangan Pelabuhan Bajoe juga menjadi perhatian pemerintah setempat. Rencana penambahan armada kapal rute penyeberangan Bajoe-Kolaka mendapat respons positif dari Pemerintah Kabupaten Bone.
Bupati Bone Andi Asman Sulaiman menilai, penambahan armada kapal dapat memperkuat konektivitas antardaerah dan antarprovinsi serta memperlancar mobilitas masyarakat, distribusi logistik, dan mendorong pemerataan pembangunan.
“Dengan adanya penambahan armada feri, bisa memacu pertumbuhan ekonomi di sektor transportasi. Distribusi pangan akan lebih mudah dan menghemat biaya sekaligus konektivitas transportasi laut dari dan menuju Kabupaten Bone semakin lancar,” ujar Andi Asman.
Rencana penambahan armada kapal rute Bajoe-Kolaka sejalan dengan tingginya pergerakan penumpang, barang, dan kendaraan di Pelabuhan Bajoe selama semester I 2026. GM ASDP Cabang Bajoe Hafiluddin Usman mengatakan, periode Januari hingga Juni 2026 mencatatkan jumlah penumpang menembus 26.582 orang.
Dengan rincian, jumlah penumpang yang naik sebanyak 10.128 orang dari kelompok penumpang dewasa dan anak, serta kategori penumpang lainnya yang tercatat dalam sistem produksi pelabuhan. Sementara jumlah penumpang yang turun di Pelabuhan Bajoe hingga Juni 2026 tercatat sebanyak 19.415 orang.
Pada periode yang sama, kendaraan yang menyeberang dari Bajoe ke Kolaka golongan I hingga IX tercatat sebanyak 26.582 unit. Adapun jumlah kendaraan yang turun atau dari Pelabuhan Kolaka ke Bajoe sebanyak 19.415 unit.
“Data ini merupakan akumulasi pelayaran kapal Roro rute Bajoe-Kolaka hingga Juni 2026 yang memperlihatkan tingginya mobilitas masyarakat, logistik, dan kendaraan melalui Pelabuhan Penyeberangan Bajoe,” ujar Hafiluddin.
Lokasi Sport Tourism hingga Wisata Senja
Tak sekadar menjadi jembatan laut yang menghubungkan dua Sulawesi, Pelabuhan Bajoe juga menjadi salah satu destinasi wisata favorit untuk healing bagi warga Kabupaten Bone dan sekitarnya. Posisinya di tengah laut dengan dermaga sepanjang 4 kilometer dari daratan, menjadikan kawasan Pelabuhan Bajoe tempat favorit berburu senja hingga bersepeda.
“Setiap sore, banyak warga yang datang ke sini. Ada yang bersepeda santai menyusuri dermaga, ada juga yang datang bersama teman dan keluarga untuk menikmati senja sembari menggelar tikar di sekitar area pelabuhan,” ungkap Marine Superintendent ASDP Cabang Bajoe, Fahmi Kautsar.
(Penulis : Sapriadi)
Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Provinsi Sulawesi Selatan Reza Faisal Saleh melakukan kunjungan…
Mantan Penjabat Bupati Wajo Andi Bataralifu mengemban tugas baru di lingkup Kementerian Dalam Negeri.
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto memanggil Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Syahganda Nainggolan dan Wakil…
Pergantian Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) dari M Qodari kepada Syahganda Nainggolan pada Jumat (2/10)…
Sehari setelah dilantik sebagai Kepala Kepolisian RI pada Kamis (1/10) oleh Presiden Prabowo Subianto, Jenderal…
Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dalam hal akses layanan…