Categories: Opini & Cerita

Tanah Wajo dan Potensinya (Bagian 1)

Catatan: Andi Gusti Makkarodda
(Pemerhati Kebijakan Publik)

Sebelum bergabung dengan negara Republik Indonesia, tanah Wajo dikenal sebagai salah satu kerajaan dengan sistem pemerintahan yang demokratis, yakni sistem monarki terpilih. Pemimpin diangkat melalui proses pemilihan. Sistem ini jauh berbeda dengan monarki heredite, yakni pemimpin diangkat karena garis keturunan atau pemimpin mewariskan tahta kepada keturunannya.

Tanah Wajo dikisahkan selalu berada pada masa kejayaan produksi pertanian yang berlimpah, mungkin karena itulah salah satu alasan para penjajah meliriknya. Produksi berasnya melimpah sejak masa penjajahan hingga awal abad ke 20 produksinya pernah dikirim ke Belanda.

Daerah yang mayoritas dihuni oleh suku Bugis ini, penduduknya dikenal sebagai saudagar handal dan pelaut ulung. Sungai Walennae dan Cenranae sebagai jalur transportasi utama pada masanya, menjadi penghubung menuju teluk Bone hingga ke samudra Hindia Timur.

Maka tidak mengherankan jika leluhur orang Wajo banyak yang berdagang hasil pertanian mengunakan perahu layar, mereka itulah yang kemudian berdomisili dipelbagai negara Asia, berbaur dan menikah dengan penduduk lokal, beranak pinak hingga membentuk perkampungan.

Di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung. Prinsip tersebut membuat perantau asal tanah Wajo lebih mudah diterima oleh penduduk negeri rantau. Mereka ikut membangun negeri rantau seperti membangun tanah kelahirannya, maka tidak heran jika keturunannya kelak, ada yang menjalankan pemerintahan di negeri rantau, seperti di negeri jiran, Malaysia.

Matoa Wajo Amanna Gappa adalah salah satu leluhur orang Wajo yang berdagang lintas pulau, ialah pencetus aturan pelayaran dan perdagangan “Ade’ allopi-loping bicaranna pa’balu-baluE” (etika pelayaran dan perdagangan), karyanya tersebut diadopsi sebagai bagian hukum pelayaran internasional.

Kini situasi berubah, alat transportasi berkembang sangat cepat. Perahu Phinisi kebanggaan leluhur orang Sulawesi telah tergantikan oleh perahu motor dan kapal motor. Dokar dan kereta yang ditarik oleh kuda, telah ditinggalkan. Kini, masyarakat dunia sangat familiar dengan sepeda motor dan mobil berbahan bakar minyak. Bukan hanya itu, kehadiran pesawat seolah telah mendekatkan jarak dan mempersingkat waktu tempuh.

Leluhur orang Wajo yang dikenal piawai bercocok tanam menggunakan sapi atau kerbau untuk menarik bajak. Kini, pemandangan serupa sulit kita jumpai. Para petani sekarang telah menggunakan alat pertanian bertenaga mesin, dari mengolah lahan, merawat tanaman, melakukan panen, hingga pengolahan produksi hasil pertanian.

Selain hasil pertanian, kain sutera adalah kerajinan tangan khas Wajo, kain sutera termasuk produk unggulan yang dipertukarkan dan diperjualbelikan hingga keluar negeri. Begitu tingginya nilai dari produk tersebut sehingga orang-orang Wajo diakhir diplomasinya akan memberikan sarung sutera sebagai pengikat kesepakatan atau perjanjian. Sayangnya, bertani murbei dan memelihara ulat sutera pun sangat sulit dijumpai lagi. Kini pengrajin membeli benang sutera import dari China.

Tahun 2017 Presiden Joko Widodo menjadi terlihat berwibawa mengenakan busana khas Bugis Makassar pada upacara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia di istana negara, dikabarkan busana tersebut sengaja dipesan khusus pada pengrajin di Makassar dengan harga ratusan juta rupiah.

Kunjungan para pejabat negara ke Sulawesi Selatan terkait urusan kabupaten Wajo pun selalu dilakukan, tentu karena ada potensi yang cukup besar di wilayah tersebut. Tercatat presiden Soekarno menginjakkan kaki di tanah Wajo tahun 1955, untuk meresmikan Masjid Raya Siengkang, sekaligus memastikan ikan air tawar dari danau Tempe dipasok ke Jakarta sebagai makanan di beberapa Lapas.

Tahun 1995 presiden Soeharto berkunjung ke Makassar untuk meresmikan Monumen Mandala pembebasan Irian Barat dan Bendungan Awo dan Kalola. Tahun 2014 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono malah menginap di rujab Bupati Wajo jalan Veteran Siengkang. Wapres Jusuf Kalla pun mengunjungi Kabupaten Wajo untuk urusan Bendung Gerak Tempe dan proyek revitalisasi Danau Tempe. Presiden Jokowi dua kali berkunjung untuk urusan bendung Paselloreng.

Dikabarkan, presiden Abdurrahman Wahid pernah dijadwalkan ke Tosora untuk bersiarah pada makam Syekh Djamaluddin Akbar Al-Husaini yang merupakan keturunan ke-20 Rasulullah Muhammad Sallallahu alaihi wasallam, Tosora adalah ibukota Wajo pada masa kerajaan dan merupakan pusat siar islam pada masa pemerintahan raja Wajo Arung Matoa Puang Ri Maggalatung.

Beberapa pejabat setingkat Gubernur di Malaysia tercatat pernah mengunjungi pekuburan leluhurnya di Tosora, hingga pemerintah kerajaan Malaysia, memberikan bantuan untuk kawasan pekuburan tua tersebut. Adalah Ketua DPD RI La Nyalla, beberapa minggu lalu dikabarkan mengunjungi Masjid Tua Tosora dan makam syech Djamaluddin Akbar Alhusaini.

Pendudukan oleh warga terhadap pengelolaan hulu Migas di kecamatan Gilireng, memaksa Wakapolri Yusuf Maggabarani untuk terbang ke Wajo dengan helikopter. Aksi tersebut berujung damai, pemerintah pusat menjanjikan Dana Bagi Hasil (DBH) sehingga Wajo kebagian 80 Milyar tahun pertama serta jatah pengelolaan migas 5 MMBTU, akan tetapi seiring berubahnya regulasi tentang perhitungan pembagian DBH maka bagian daerah penghasil semakin kecil. Tercatat tahun 2019, DBH Migas untuk Wajo hanya kebagian 18 Milyar. inilah salah satu potensi sumber daya alam Wajo.

Luas kabupaten Wajo mencapai 2.506 Kilometer bujur sangkar. Di bagian timur adalah laut dengan panjang pantai yang membentang dari utara ke selatan kisaran 100 Kilometer, pantai tersebut terletak dari kecamatan Pitum panua, keera, Sajoanging, Penrang dan Takkalalla. Sepanjang pantai itu pula adalah lahan tambak.

Sementara kisaran 38 danau dan rawa yang tersebar di beberapa kecamatan seperti kecamatan Bola, Majauleng, Pammana, Sabbangparu, Tempe, Tanasitolo dan Belawa.

Lahan persawahan kisaran 126 ribu Hektar. sementara ribuan hektar lahan perkebunan di kecamatan Gilireng, Maniangpajo, Keera, Pitumpanua, Sajoanging, Majauleng.

Danau Tempe yang terletak di sebelah barat ibukota kabupaten Wajo dengan luas genangan 26 ribu Hektar. jika intensitas dan curah hujan meningkat terus menerus maka area genangan diperkirakan hingga 47 ribu Hektar. Danau Tempe termasuk danau tektonik yang unik, karena airnya dipasok oleh dua sungai besar dari 28 anak sungai lainnya. Kedua sungai besar tersebut adalah sungai Walennae dari Kabupaten Soppeng dan sungai Bila dari Kabupaten Sidrap, sementara sungai Cenranae sebagai pembuangan ke teluk Bone.

37 danau dan rawa lainnya, terseber di beberapa kecamatan adalah potensi yang luar biasa untuk pengembangan perikanan air tawar dan dapat menjadi sumber pengairan pengembangan sektor pertanian dan perkebunan.

Potensi Wajo bukan hanya sumber daya alam, tetapi Wajo memiliki sumber daya manusia yang menguasai bidangnya masing-masing. Tidaklah sulit menemukan guru besar pada pelbagai kampus ternama di Kota Makassar, bahkan mereka berkiprah hingga tingkat nasional dan internasional.

Sayangnya keahlian mereka tidak mendapat ruang yang cukup, mereka tidak lagi menjadi prioritas yang dilibatkan secara khusus untuk mengarahkan pencapaian visi dan proses pembangunan tanah kelahirannya, seperti masa Bupati Radi A. Gany dan Bupati Dahlan Maulana.

Geliat pertanian modern di tanah Wajo dimulai oleh Bupati Wajo yang ketujuh, Professor Radi A Gany. keahliannya dalam bidang pertanian mampu mendorong peningkatan pendapatan petani. Beliaulah yang memperkenalkan pompanisasi untuk pengairan lahan pertanian. Sayangnya program tersebut tidak dilanjutkan menjadi program pemerintah daerah.

* Ditulis sebagai bahan diskusi pada forum diskusi Hipermawa

Sapriadi PW

Sapriadi, yang lebih akrab dikenal dengan nama pena Adi Pallawalino, adalah seorang jurnalis, penulis, dan traveler. Ia adalah pendiri media online KABARWAJO.ID dan Sulbarkini.com, berkiprah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar).

Share
Published by
Sapriadi PW

Recent Posts

Jelang Porprov Sulsel 2026, Kepala BKAD Sulsel Tinjau Kesiapan Venue di Bone

Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Provinsi Sulawesi Selatan Reza Faisal Saleh melakukan kunjungan…

9 jam ago

Mantan Penjabat Bupati Wajo Andi Bataralifu Jabat Sekretaris Inspektorat Jenderal Kemendagri

Mantan Penjabat Bupati Wajo Andi Bataralifu mengemban tugas baru di lingkup Kementerian Dalam Negeri.

3 hari ago

Badan Komunikasi Diminta Sampaikan Masukan dan Kritikan Masyarakat ke Presiden

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto memanggil Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Syahganda Nainggolan dan Wakil…

4 hari ago

Pergantian Kepala Badan Komunikasi RI, DIR Ungkap Hasil Analisis di Media Mainstream dan Media Sosial

Pergantian Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) dari M Qodari kepada Syahganda Nainggolan pada Jumat (2/10)…

4 hari ago

“Gaspol” Usai Dilantik: Kapolri Suyudi Rombak Total Kapolda di Jawa, Ganti Empat Kapolda di Sulawesi

Sehari setelah dilantik sebagai Kepala Kepolisian RI pada Kamis (1/10) oleh Presiden Prabowo Subianto, Jenderal…

5 hari ago

Wagub Dorong Perbankan Dekatkan Pelayanan ke Masyarakat, Literasi Keuangan Sulsel di Angka 61 Persen

Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dalam hal akses layanan…

5 hari ago