Bermula dari radio transistor “Tjawang” yang legendaris, Gobel Group menapaki perjalanan tujuh dekade. Thayeb-Rachmat Gobel mewariskan nilai dan filosofi kepemimpinan yang terus menginspirasi lintas generasi, dan jejak pengabdian untuk negeri.
Oleh : SAPRIADI
(Founder KABARWAJO.ID, Pengurus AMSI Sulbar)
SUATU ketika, Presiden pertama RI Soekarno melontarkan pernyataan ke sosok pemuda kelahiran Gorontalo, 12 September 1930, Thayeb Mohammad Gobel terkait alasannya memilih bisnis radio transistor yang mulai dirintis pada tahun 1956.
Saat merintis radio transistor pertama di Indonesia, Thayeb Mohammad Gobel kala itu masih berusia 26 tahun. Usia yang terbilang relatif muda untuk sesuatu yang visioner bagi sebuah negara yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945.
“Agar seluruh rakyat Indonesia di seluruh pelosok negeri dapat mendengar pidato-pidato Bapak,” demikian jawaban Thayeb Mohammad Gobel kepada Soekarno seperti yang tersemat dalam situs resmi Gobel Group (gobel.co.id).
Disebutkan, sang proklamator lalu menepuk pundak Gobel muda dan memuji semangatnya. Dalam buku “Gobel : Pelopor Industri Elektronika Indonesia dengan Falsafah Usaha Pohon Pisang” (Pustaka Sinar Harapan, 1994) yang ditulis Ramadhan KH, mengisahkan masa kecil hingga masa remaja Thayeb Mohammad Gobel ditempa dengan semangat dan kerja keras. Dari Gorontalo, Gobel muda sempat mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Makassar dan nyambi sebagai buruh pelabuhan. Pengalamannya bekerja di sebuah perusahaan perakitan radio bernama NV Behring, memantik semangat Thayeb Mohammad Gobel untuk merakit radio buatan sendiri.
Ia menyadari, masa awal-awal kemerdekaan, radio saat itu memiliki peran strategis sebagai sarana komunikasi yang efektif dalam memupuk semangat nasionalisme dan semangat rakyat untuk menapaki masa kemerdekaan. Di masa perjuangan kemerdekaan, radio telah menjadi salah satu senjata revolusi bagi bangsa Indonesia. Pidato yang membakar semangat nasionalisme kerap digaungkan para pahlawan dan pejuang melalui siaran radio untuk membangkitkan perlawanan terhadap penjajah Belanda maupun Jepang.
Begitu pun, kisah tentang penyebaran berita kemerdekaan usai proklamasi pada 17 Agustus 1945 yang penuh tantangan. Usai pembacaan proklamasi oleh Soekarno didampingi Mohammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta Pusat, kabar tentang kemerdekaan Indonesia tidak serta-merta tersebar luas ke daerah-daerah. Di seputaran Jakarta, kabar terkait kemerdekaan menyebar melalui mulut ke mulut serta telegram dan koran-koran.
Salah satu alat komunikasi yang berperan menyebarluaskan kabar kemerdekaan RI hingga ke daerah-daerah, tentu saja melalui siaran radio meski saat itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi mengingat Indonesia saat itu masih dalam pendudukan Jepang. Beberapa tahun setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1956, dilandasi semangat nasionalisme untuk membuat sebuah alat komunikasi bagi sebuah negara baru, Thayeb Mohammad Gobel lalu mendirikan perusahaan pabrik radio transistor pertama di Indonesia melalui PT Transistor Radio Manufacturing. Radio yang diproduksinya diberi merek “Tjawang” mengingat lokasi pabrik yang berada di Cawang, Jakarta Timur.
Kehadiran radio transistor yang dirintis Gobel tersebut menjadi titik awal kebangkitan produk radio lokal di Indonesia sekaligus tonggak awal industri elektronik dalam negeri. Dibekali kemampuan menangkap gelombang Short Wave (SW) dengan menggunakan tenaga baterai, membuat kehadiran radio Tjawang saat itu mampu menjadi sarana komunikasi penyebarluasan informasi ke berbagai daerah di tengah keterbatasan listrik dan infrastruktur.

Dalam buku “50 Great Bussines Ideas from Indonesia” (2010) yang ditulis M Ma’ruf, disebutkan radio Tjawang membukukan penjualan hingga satu juta unit dalam kurun waktu 1954-1964 karena masyarakat menyukai kejernihan suaranya. Melalui radio “Tjawang” yang diproduksinya, Thayeb Mohammad Gobel saat itu menunjukkan visi kemandirian di tengah keterbatasan sebuah bangsa yang baru merdeka. Indonesia yang saat itu baru satu dekade merasakan kemerdekaan, tak lagi sekadar menjadi penonton teknologi. Namun, mampu memproduksi radio transistor sendiri.
Pertemuan Bersejarah dengan Matsushita, Dua Filosofi Menyatu
Kesuksesan radio “Tjawang” tidak lantas membuat Thayeb Mohammad Gobel besar kepala dan berpuas diri. Setahun setelah merintis pabrik radio transistor pertama di Indonesia, program Colombo Plan membawanya belajar bisnis ke Jepang pada tahun 1957. Di negeri Sakura, Gobel bertemu sosok visioner Konosuke Matsushita yang merupakan pendiri Matsushita Electric Industrial. Pertemuan itu menjadi cikal-bakal kolaborasi bisnis dua sosok visioner dalam industri elektronik.
Tahun 1960, keduanya sepakat bekerja sama melalui perusahaan masing-masing. Thayeb Mohammad Gobel mewakili PT Transistor Radio Manufacturing, sementara Konosuke Matsushita mewakili Matsushita Electric Industrial yang menandai lahirnya kolaborasi National-Gobel yang kini dikenal sebagai PT Panasonic Gobel Indonesia.
Kolaborasi dua sahabat dan dua perusahaan lintas negara ini menemukan momentumnya di tahun 1962 seiring pelaksanaan Asian Games IV dengan Indonesia sebagai tuan rumah. Saat itu, perusahaan memproduksi 10 ribu unit televisi hitam-putih untuk mendukung kesuksesan pelaksanaan Asian Games sehingga masyarakat Indonesia bisa menikmati siaran pertandingan pesta olahraga se-Asia itu. Dari radio transistor, PT Panasonic Gobel Indonesia menghadirkan televisi hitam-putih sehingga masyarakat bisa menikmati informasi, hiburan, dan siaran olahraga melalui audio-visual.
Kolaborasi dua tokoh ini tidak hanya melahirkan persahabatan bisnis yang saling menguntungkan dan berkelanjutan. Tetapi juga menyatukan dua filosofi, yakni filosofi “Pohon Pisang” oleh Thayeb Mohammad Gobel dan “Falsafah Air” oleh Konosuke Matsushita. Bagi Gobel, perusahaan ibarat sebuah pohon pisang yang bisa tumbuh di mana-mana sehingga bisa memberi manfaat ke semua orang di mana saja.
Tak hanya itu, setiap bagian pohon pisang juga memberi manfaat, mulai dari buah yang dapat dimakan untuk memberikan gizi, daun serta bagian lainnya dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan. Tunas pohon pisang juga bisa memelihara kehidupan untuk generasi yang akan datang sebelum mati.
Sementara Matsushita melihat air sebagai bahan penting yang diperlukan untuk menjaga kehidupan manusia dan begitu bernilai. Air tersedia untuk semua orang dan tanpa batas karena produksinya yang melimpah. Kedua visi dan falsafah itu kemudian menyatu sekaligus menjadi tujuan dasar perusahaan yang diwariskan secara berkelanjutan.
Sepanjang hidupnya mengukir sejumlah pencapaian cemerlang, Thayeb Mohammad Gobel wafat pada 21 Juli 1984 di usia 53 tahun. Raganya pergi, namun ia telah mewariskan “tunas-tunas” perusahaan kepada generasi pewaris. Lebih dari itu, Thayeb Mohammad Gobel juga mewariskan nilai-nilai kepemimpinan dan filosofi yang abadi, tak pernah mati, dan terus menginspirasi lintas generasi.
Jejak Thayeb Mohammad Gobel semasa hidupnya tak sekadar sebagai pendiri Gobel Group dan pelopor industri elektronik nasional. Atas kontribusinya untuk negeri, ia dianugerahi penghargaan Satyalancana Pembangunan dari pemerintah Indonesia pada 25 Februari 1972 sebagai penghormatan atas kiprahnya mengembangkan industri elektronik di tanah air. Ia juga tercatat pernah menjadi Anggota DPR RI periode 1971-1987.
Pada tahun 1981, melalui kolaborasinya dengan Konosuke Matsushita, Kaisar Jepang menganugerahi Thayeb Mohammad Gobel penghargaan Third Class Order of the Sacred Heritage (Kun Santo Zuikoscho) atas jasanya dalam mempererat hubungan Indonesia-Jepang di bidang ekonomi.

Estafet Kepemimpinan dan Filosofi Perusahaan yang Terus Dijaga
Sepeninggal Thayeb Mohammad Gobel, anak kelima sekaligus putra laki-laki pertama, Rachmat Gobel, dipercayakan menjadi penerus bisnis keluarga yang dirintis dari tahun 1956 itu. Meski sebagai putra mahkota dari “kerajaan” bisnis yang dirintis ayahnya, tidak serta-merta Rachmat Gobel langsung menempati posisi strategis.
Selain mewarisi jiwa kepemimpinan ayahnya, Rachmat Gobel tetap menempa diri dan bekerja keras sejak muda hingga memilih berkuliah di Jepang. Ia bahkan sempat menimba ilmu dan pengalaman di kantor pusat Matsushita Group dengan menempati berbagai divisi sebelum kembali ke Indonesia untuk mengembangkan perusahaan keluarganya.
Menjadi chairman Gobel Group, Rachmat Gobel tetap mempertahankan warisan dan nilai kepemimpinan yang diwariskan ayahandanya Thayeb Mohammad Gobel. Salah satu yang terus ditekankan bahwa perusahaan seharusnya tetap memanusiakan manusia, bukan sekadar mempekerjakan manusia. Nilai-nilai kepemimpinan itu diwarisi dari ayahnya selaku pendiri perusahaan yang menggambarkan filosofi hubungan antara karyawan dan perusahaan di lingkungan Gobel Group.
“Tidak hanya mempekerjakan manusia, tapi industri harus memanusiakan manusia. Semuanya menjadi satu kesatuan sebagai satu keluarga,” katanya dalam beberapa kesempatan.
Hal lain yang terus dipertahankan dalam budaya perusahaan Gobel Group yakni konsep kesetaraan kedudukan antara pegawai level terbawah dengan jajaran direksi/manajemen. Rachmat Gobel menilai, filosofi itu juga berakar dari nilai-nilai Pancasila. Prinsip kesetaraan itu di antaranya tetap memastikan kesejahteraan karyawan dari level terbawah, mengadakan program-program pengembangan karier dan SDM, menghormati kesetaraan gender, hingga serikat pekerja yang diberi ruang untuk mengawasi dan memberikan evaluasi kepada direksi.
“Jika sekadar cari untung, pimpinan perusahaan bisa utak-atik buku keuangan, tapi kemudian perusahaan menjadi runtuh. Dengan prinsip ini, serikat pekerja akan benar-benar mengawasi kinerja pimpinannya. Saya sebagai owner bisa dimarahi oleh presiden serikat pekerja,” kata Rachmat Gobel, di sebuah kesempatan.
Melanjutkan perusahaan yang dirintis dari ketekunan dan kerja keras, Rachmat Gobel dihadapkan pada ujian saat krisis ekonomi melanda Indonesia pada tahun 1998. Dalam menghadapi krisis tersebut, ia tak serta-merta melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara massal untuk menyelamatkan keberlanjutan Gobel Group.
Dengan filosofi “Pohon Pisang” dan prinsip “Memanusiakan Manusia”, Rachmat mengalihkan fokus bisnis Gobel Group ke pasar ekspor untuk tetap menyelamatkan kesejahteraan karyawan dan keberlanjutan perusahaan. Dua tahun setelah dihadang badai krisis ekonomi 1998, Gobel Group melakukan pembaruan kerja sama dengan Matsushita Electric Industrial. Ini menggambarkan keuletan, keterampilan manajemen, didukung visi ke depan dalam menghadapi krisis ekonomi.
Sebelum dan setelah krisis ekonomi, “tunas-tunas” baru Gobel Group terus bertumbuh melalui ekspansi multisektor meliputi penjualan dan pelayanan, makanan dan pelayanan, manufaktur, hingga properti dan infrastruktur yang turut berkontribusi dalam pembangunan Indonesia. Sejalan dengan filosofi “Pohon Pisang”, Gobel Group telah memberi banyak manfaat dengan menaungi lebih dari 18.000 karyawan dan 312 titik pusat layanan yang tersebar di lebih 40 kota besar sebagaimana data website resmi Gobel Group.

Kabar duka datang pada hari Jumat, 10 Juli 2026. Di tengah pengabdiannya untuk negeri dan melanjutkan bisnis perusahaan keluarga yang dirintis sejak tahun 1956, Rachmat Gobel wafat di usia 64 tahun di Rumah Sakit Brawijaya Tebet, Jakarta Selatan, sekitar pukul 03.20 WIB. Untaian ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai tokoh. Nuansa adat Gorontalo mewarnai prosesi pemakaman Rachmat Gobel dan mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta. Ia meninggalkan seorang istri, Retno Damayanti beserta dua orang anak, Nurfitria Sekarwillis Kusumawardhani dan Mohammad Arif Gobel, serta beberapa orang cucu.
Salah satu kisah menyentuh di balik kepergian Rachmat Gobel tatkala pihak keluarga mengundang Aspin Nalole, seorang pedagang pisang asal Gorontalo untuk berziarah secara langsung ke makam almarhum. Sebelumnya, video Aspin, yang akrab dengan panggilan Pak Apin menangis sambil memeluk bingkai foto kebersamaannya dengan almarhum Rachmat Gobel menarik simpati netizen di media sosial.
Aspin Nalole, yang sehari-hari berdagang pisang di Gorontalo, mengenang pertemuannya dengan almarhum dalam sebuah kesempatan. Selain membeli dagangannya, Rachmat Gobel juga memberikan bantuan berupa uang serta berjanji akan memperbaiki gerobak dagangan Aspin. Pihak keluarga Rachmat Gobel pun berkomitmen untuk mewujudkan janji almarhum untuk memperbaiki gerobak dagangan Aspin.
Kisah Aspin Nalole menjadi cerminan nyata filosofi Rachmat Gobel semasa hidupnya, yakni “Memanusiakan Manusia” tanpa pandang kedudukan dan jabatan serta filosofi Pohon Pisang yang memberi manfaat kepada siapa pun. Semasa hidupnya, Rachmat Gobel tak semata mengembangkan bisnis Gobel Group. Mewarisi nilai kepemimpinan ayahandanya Thayeb Mohammad Gobel, ia turut mengabdi dan berkontribusi untuk negeri melalui sejumlah jabatan yang diembannya.
Rachmat Gobel tercatat pernah menjadi Anggota Dewan Komite Inovasi Nasional periode 2010-2014, Menteri Perdagangan RI 2014-2015 pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, Utusan Khusus Presiden RI untuk Jepang, Wakil Ketua DPR RI periode 2019-2024 melalui Partai NasDem, dan Anggota Komisi VI DPR RI periode 2024-2029.
Tak hanya di tingkat nasional, semasa hidupnya Rachmat Gobel juga tetap memberikan perhatian terhadap Provinsi Gorontalo yang merupakan tanah kelahiran dan tanah asalnya. Pada pelaksanaan Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XVII yang dilaksanakan di Kabupaten Gorontalo, 20-25 Juni 2026, Gobel Group turut terlibat dan berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan nasional tersebut.
Bentuk kontribusi Gobel Group yakni meliputi revitalisasi infrastruktur pariwisata daerah, pameran inovasi teknologi ketahanan pangan, hingga komitmen menjadikan Gorontalo sebagai lumbung pangan Indonesia Timur. Dalam hal revitalisasi infrastruktur pariwisata daerah, Rachmat Gobel yang juga selaku Anggota Komisi VI DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Gorontalo secara khusus menata tiga destinasi wisata untuk masyarakat Gorontalo dan para tamu peserta Penas.
Destinasi wisata itu yakni Pentadio Resort berupa pembenahan fasilitas untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung maupun peserta Penas yang datang dari berbagai daerah, Menara Pakaya berupa penataan lampu atraksi, serta revitalisasi Danau Perintis sebagai wisata alam yang nyaman bagi pengunjung.
Kontribusi lain Gobel Group dalam mendukung pembangunan di Provinsi Gorontalo yakni dengan menghadirkan Anggrek Gorontalo International Terminal (AGIT), salah satu lini bisnis di sektor Infrastruktur. AGIT merupakan proyek pelabuhan strategis nasional Kementerian Perhubungan RI dengan kemitraan Gobel Group melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) yang berlokasi di Gorontalo Utara.
AGIT dikembangkan untuk meningkatkan konektivitas logistik, memperkuat aktivitas ekspor, serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi di Indonesia Timur, khususnya di sektor pertanian, perikanan, dan industri pengolahan.
Atas jejak pengabdiannya untuk negeri, Rachmat Gobel pernah dianugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana sebagai penghargaan atas jasa-jasanya terhadap RI dan sebagai Wakil Ketua DPR RI periode 2019-2024. Rachmat Gobel juga pernah diberikan penghargaan Anugerah Dharma Cipta Karsa dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI pada tahun 2014 atas perannya sebagai tokoh promosi warisan budaya dan ekonomi kreatif dan berperan mendorong terbentuknya ekonomi kreatif.

Tongkat Estafet ke Generasi Ketiga
Kepergian almarhum Rachmat Gobel tepat Gobel Group di usia 70 tahun, sekaligus sebagai tongkat estafet kepemimpinan ke generasi ketiga. Selama 7 dekade, kedua figur ini telah membawa Gobel Group sebagai salah satu konglomerasi multisektor terkemuka di Indonesia yang memberi banyak manfaat ke masyarakat sekaligus tempat penghidupan bagi puluhan ribu karyawan.
Satu nama mengarah ke Mohammad Arif Rachmat Gobel, anak laki-laki dari dua bersaudara. Berbekal pengalaman belajar di Australia dan Jepang, ia meniti karier dari bawah hingga diberi kepercayaan mengemban posisi strategis di lingkungan perusahaan Gobel Group. Sebagai Direktur dan Ketua Transformasi Digital Gobel Group, Arif kini diberi tugas menyempurnakan operasional perusahaan melalui percepatan transformasi digital di berbagai lini usaha.
Sepekan kepergian almarhum Rachmat Gobel, ia memimpin apel pagi keluarga besar Gobel Group, Kamis, 16 Juli 2026. Apel itu sebagai bentuk penghormatan dan doa bersama untuk mengenang almarhum Rachmat Gobel sekaligus meneguhkan komitmen meneruskan nilai-nilai yang diwariskan.
“Karena warisan terbesar bukan hanya untuk dikenang, tetapi diwujudkan dalam setiap langkah dan karya bagi masyarakat,” demikian petikan caption dalam unggahan di akun Instagram @gobelgroup. [*/adi]
(Tulisan ini merupakan penyempurnaan tulisan sebelumnya yang berjudul “70 Tahun Gobel Group: “Tunas-Tunas” Bertumbuh, Warisan Filosofi Pohon Pisang yang Tetap Hidup” yang tayang pada 29 Juni 2026. Tulisan ini sekaligus kami persembahkan sebagai bentuk penghormatan terhadap almarhum Bapak Haji Rachmat Gobel)



