WA Channel

Belawa, KABARWAJO.ID – Kepala SDN 408 Ongkoe Kecamatan Belawa, Herman, mengatakan proses belajar mengajar di kelas jauh sekolah itu dengan kondisi gedung berupa papan yang sudah lapuk dan beralaskan tanah sudah berlangsung sejak beberapa tahun.

“Saya kepala sekolah di sini baru dua tahun, dan proses belajar-mengajar di kelas jauh sudah berlangsung lama,” ungkap Herman saat dikonfirmasi KABARWAJO.ID, Minggu (20/4).

Ia menuturkan, tidak ada lagi proses belajar-mengajar di gedung induk SDN 408 Ongkoe yang merupakan bangunan permanen karena akses siswa lebih dekat dengan kelas jauh yang lokasinya berada di daerah perbatasan Kecamatan Belawa dengan Desa Mojong, Kabupaten Sidrap.

“Gedung induk juga sudah terbengkalai karena lama tidak ada proses belajar-mengajar. Selain itu, ada klaim kepemilikan lahan sekolah oleh warga dan mantan kepala sekolah sebelumnya, Pak Syarifuddin, bersedia mewakafkan tanahnya di lokasi kelas jauh,” jelas Herman.

Untuk itu, Herman berharap kelas jauh yang terdiri dari tiga ruang kelas serta satu ruang untuk dewan guru direnovasi untuk kenyamanan proses belajar-mengajar.

“Ada tiga tenaga pengajar, satu ASN, satunya lagi P3K, dan ada honorer sebagai tenaga perpustakaan yang juga bisa sambil mengajar. Jadi totalnya ada empat, termasuk saya sebagai kepala sekolah,” tutur Herman.

Sebelumnya, viral video yang memperlihatkan kondisi gedung SDN 408 Ongkoe berdinding papan yang sudah lapuk dan siswa belajar dengan kondisi memprihatinkan.

Merespons hal itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Wajo, Alamsyah, meninjau langsung kondisi sekolah tersebut, Sabtu (19/4). Ia datang bersama Anggota DPRD Wajo, Apriliani Nurdin.

“Faktanya, itu merupakan kelas jauh dari gedung induk SDN 408 Ongkoe yang berjarak 1 kilometer. Kepala sekolah memutuskan memindahkan proses belajar mengajar ke kelas jauh karena serapan siswa di gedung induk yang kurang,” ungkap Alamsyah saat dikonfirmasi KABARWAJO.ID melalui sambungan telepon.

Gedung induk SDN 408 Ongkoe, Kecamatan Belawa. Foto: Dok. Istimewa

Ia menambahkan, sekolah tersebut berada di daerah perbatasan Kabupaten Wajo dan Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) yang total jumlah siswanya sebanyak 25 orang. Satu gedung diisi dua kelas, dengan siswa mayoritas dari Kabupaten Sidrap.

“Siswanya mayoritas asal Sidrap, karena berbatasan langsung dengan Desa Mojong. Proses belajar mengajar dipindahkan ke kelas jauh karena akses siswa yang lebih dekat daripada di gedung induk,” imbuh Alamsyah.

Menurut dia, lahan yang ditempati gedung sekolah induk yang berupa bangunan permanen banyak klaim kepemilikan yang membuat pihak sekolah tidak nyaman dengan pemanfaatannya.

“Penanganan sementara menunggu anggaran APBD,” ucapnya.

Respons Yayasan Budaya Wajo

Ketua Dewan Pendiri Yayasan Budaya Wajo (YBW) Prof Dr Wahyuddin Latunreng menyatakan pihaknya siap berkontribusi dalam renovasi kelas jauh SDN 408 Ongkoe.

“Jika sekolah kelas jauh itu mau direnovasi dengan konstruksi kayu berlantai semen, Yayasan Budaya Wajo tetap menyumbang Rp 5 juta. Untuk (bantuan) sepeda, batal,” ungkap Wahyuddin Latunreng.

Ia juga mengajak warga untuk turut berkontribusi dan berdonasi bedah sekolah SDN 408 Ongkoe sehingga layak sebagai tempat proses belajar-mengajar.

“Sehingga kelak ada siswa dari sekolah itu menjadi orang hebat. Dana Rp 100 juta cukup untuk menjadikan layak sebagai tempat untuk belajar anak 25 orang tersebut,” pungkasnya.

(Adi PW)