Sengkang, KABARWAJO.ID – Bupati Wajo Andi Rosman mengungkapkan, pelaksanaan Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Nasional dan Internasional yang dilaksanakan di Kabupaten Wajo selama sepekan, 1-7 Oktober 2025, memberikan dampak positif di beberapa sektor.
Tak hanya bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), transportasi, akomodasi, dan perhotelan, gelaran MQKI juga berdampak pada industri kain sutra yang merupakan produk unggulan Kabupaten Wajo.
“MQKI berdampak juga pada penjualan kain sutra. Banyak delegasi yang memborong kain sutra Wajo sebagai oleh-oleh,” kata Andi Rosman saat dikonfirmasi KABARWAJO.ID, Selasa (7/10).
Dalam sambutanya pada malam penutupan MQKI, Senin (6/10), Bupati Wajo mengaku bersyukur dan bangga gelaran musabaqah tingkat nasional dan Internasional digelar di Kabupaten Wajo.
“Sebagai tuan rumah kami merasa bangga dan terhormat. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Ini semua berkat kerja sama dan kolaborasi kita, baik dari tingkat nasional hingga daerah. Sekali lagi terima kasih banyak,” ujarnya.
“Kami juga memohon maaf apabila selama kegiatan masih banyak kekurangan. Di samping itu, besar harapan kami agar seluruh kafilah dari 34 provinsi maupun 10 negara serta para tamu membawa kesan positif sampai ke daerahnya,” lanjut Bupati Wajo.
Sebelumnya diberitakan, gelaran MQKI 2025 di Kabupaten Wajo, sukses menyedot perhatian publik. Selama berlangsung pada 1–7 Oktober 2025, tercatat lebih dari 107 ribu pengunjung memadati arena utama kegiatan di kompleks As’adiyah Sengkang dan sejumlah titik kegiatan pendukung lainnya.
Jumlah pengunjung ini mencakup peserta, kiai, akademisi, masyarakat umum, hingga wisatawan dari dalam dan luar negeri yang datang untuk menyaksikan berbagai cabang perlombaan, seminar, dan expo pesantren. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah pelaksanaan MQK sejak pertama kali digelar.
Panitia pelaksana mencatat, lonjakan pengunjung tidak hanya terjadi pada puncak acara, tetapi juga sepanjang rangkaian kegiatan. Arena utama MQKI setiap harinya dipadati ribuan pengunjung yang antusias menyaksikan lomba-lomba serta Expo Kemandirian Pesantren yang menjadi magnet utama kegiatan.
Direktur Pesantren Ditjen Pendidikan Islam Basnang Said mengapresiasi tingginya partisipasi publik dalam MQKI 2025. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa kegiatan berbasis literasi pesantren kini semakin mendapat tempat di hati masyarakat.
“Lebih dari 107 ribu pengunjung datang ke Wajo. Ini menandakan bahwa pesantren bukan hanya pusat pendidikan Islam, tetapi juga ruang interaksi sosial dan budaya yang hidup di tengah masyarakat,” ujar Basnang saat menutup kegiatan MQKI 2025, Senin (6/10/2025).
Ia menambahkan, antusiasme masyarakat menjadi indikator kuat bahwa pesantren kini dipandang tidak hanya sebagai lembaga pendidikan tradisional, tetapi juga sebagai pusat peradaban dan sumber inspirasi keilmuan.
Selain sebagai ajang kompetisi, MQKI 2025 juga menghadirkan suasana wisata religi dan edukasi yang menarik bagi masyarakat. Area kegiatan di Wajo disulap menjadi ruang publik yang menampilkan kekayaan tradisi pesantren, budaya Islam Nusantara, serta pameran produk unggulan pesantren dari seluruh Indonesia.
Data panitia menunjukkan, pengunjung berasal dari 38 provinsi di Indonesia, serta perwakilan dari 10 negara sahabat, di antaranya Malaysia, Brunei Darussalam, Myanmar, Thailan, Timor Leste dan Kambodia. Kehadiran mereka memperkuat posisi MQKI sebagai forum keilmuan Islam internasional berbasis pesantren terbesar di Asia Tenggara.
“MQKI tidak hanya menghidupkan semangat keilmuan, tetapi juga menggerakkan ekonomi daerah dan membuka ruang dialog antarbudaya. Wajo menjadi saksi hidup sinergi antara ilmu, iman, dan ekonomi umat,” ujar Basnang.
Selain mencatat 107 ribu pengunjung, pelaksanaan MQKI juga memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat setempat. Berdasarkan catatan panitia dan laporan Pemerintah Kabupaten Wajo, perputaran ekonomi selama sepekan kegiatan diperkirakan mencapai Rp20 miliar, termasuk dari sektor perdagangan, transportasi, kuliner, dan penginapan.
Pelaku UMKM, pedagang lokal, hingga industri kreatif pesantren turut merasakan manfaat kegiatan ini. Banyak di antara mereka yang mencatat peningkatan penjualan hingga dua kali lipat selama gelaran MQKI berlangsung.
Kementerian Agama menilai, capaian ini membuktikan bahwa kegiatan keagamaan berskala nasional dan internasional dapat memberikan multiplier effect yang luas bagi daerah penyelenggara, baik dalam aspek ekonomi maupun promosi budaya Islam Nusantara. []



