KABARWAJO.id – Kabar duka datang dari mantan Bupati Wajo Periode 1993-1999, H. Dachlan Maulana. Ia mengembuskan napas terakhir pada Sabtu (9/3/2024) pukul 23.30 WITA.
“Telah berpulang ke rahmatullah, bapak tercinta Dahlan Maulana (mantan Bupati Wajo), Sabtu 9 Februari (revisi: Maret) 2024 pukul 23.30. Semoga diampuni dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya, keluarga yang ditinggalkan diberi keikhlasan dan kesabaran. Aamiin,” tulis politisi Partai Golkar Andi Gusti Makkarodda melalui pesan yang beredar di grup WhatsApp.
Diketahui, selama menjabat sebagai Bupati Wajo, Dachlan Maulana banyak merintis dan melaksanakan program yang menjadi dasar pembangunan Kabupaten Wajo hingga kini.
Salah satu yang digagas dan dirintis Dachlan Maulana saat menjadi Bupati Wajo yakni Islamic Centre Palaguna yang dibangun pada tahun 1996.
Bangunan ini sejak dulu disiapkan menjadi pusat pembinaan dan pengembangan agama Islam di Kabupaten Wajo.
Jejak bangunan fenomenal lainnya yang ditinggalkan mendiang Dachlan Maulana yakni Pasar Sentral Sengkang yang kini menjadi pusat perbelanjaan grosir dan retail di Sulawesi Selatan setelah Makassar.
Pasar ini dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Wajo kerja sama investasi dari pihak swasta PT Makassar Indah. Kala itu, Pasar Sentral dibangun berdampingan dengan terminal yang kini menjadi lokasi Bank BPD Sulselbar.
Bangunan lain yang dibangun di masa Dachlan Maulana sebagai Bupati Wajo yakni menara Masjid Agung Ummul Quraa Sengkang.
Menara masjid dengan 99 asmaul husna itu dibangun sebagian besar dananya merupakan hasil sumbangan masyarakat dan pengusaha Wajo.
Namun kini, menara masjid tersebut telah dirobohkan lantaran dianggap rawan dan berisiko bagi keselamatan pengguna jalan dan warga yang beraktivitas di sekitar Lapangan Merdeka Sengkang.
Pencetus Semangat Yassiwajori dan Peringatan HJW
Dachlan Maulana juga dikenang sebagai pencetus semangat “Yassiwajori”.
Konsep itu didengungkan Dachlan Maulana sebagai bentuk ajakan kepada putra daerah Kabupaten Wajo baik yang tinggal di Wajo maupun yang tersebar di penjuru nusantara untuk memiliki spirit bersama-sama membangun Wajo sebagai tanah kelahiran.
Jejak lainnya, yakni penentuan Hari Jadi Wajo (HJW). Bupati Wajo ke-8 inilah yang menjadi penggagas penetapan Hari Jadi Wajo yang hingga kini diperingati pada 29 Maret setiap tahun.
“Tanggal 23 Januari 1995 diadakanlah seminar di Ruang Batara Kantor Bupati Wajo yang dihadiri kurang lebih 300 orang dari budayawan, cendekiawan, pengusaha, tokoh agama dan generasi muda,” ucap Ketua DPRD Wajo Periode 2019-2024 Andi Alauddin Palaguna saat membacakan sejarah HJW pada momen Hari Jadi Wajo ke-624 yang diperingati di Lapangan Merdeka Sengkang, Kamis (4/5/2023) lalu.
29 Maret disepakati sebagai peringatan kegigihan dan semangat juang La Maddukkelleng beserta rakyat Wajo melawan dan mengusir Belanda pada saat itu. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1741. (bs, litbang kabarwajo/adi)




Tinggalkan Balasan