WA Channel

Almarhum Andi Burhanuddin Unru tercatat sebagai Bupati Wajo dua periode. Pada periode pertamanya di 2009-2014, ia berpasangan dengan Amran Mahmud yang menjadi Wakil Bupati Wajo.

Pasangan dengan akronim “Budiman” ini tercatat sebagai bupati dan wakil bupati Wajo pertama hasil pilkada yang dilakukan secara langsung.

Di periode keduanya masa jabatan 2014-2019, Andi Burhanuddin Unru berpasangan dengan wakilnya Andi Syahrir Kube Dauda.

Di periode pasangan dengan akronim “Asyik” inilah saya berkesempatan menjadi bagian dari tim rilis Humas Pemkab Wajo.

Singkat cerita, seusai pelantikan Andi Burhanuddin Unru-Andi Syahrir Kube Dauda sebagai Bupati dan Wakil Bupati Wajo di Lapangan Merdeka Sengkang, berita terkait pelantikan tersebut hanya berselang kurang dari 1 jam sudah naik tayang di KABARWAJO.com.

Kabag Humas Pemkab Wajo saat itu, Hasri AS, tertegun saat membaca berita pelantikan itu sudah tayang di media online saat dirinya masih nongkrong di sebuah warung kopi sepulang dari acara pelantikan.

Tahun 2014, bisa dibilang portal lokal yang ada di Wajo baru sebatas Wajo Mesra (yang kemudian bertransformasi menjadi Wajo Terkini) dan KABARWAJO.com (yang hadir dengan semangat baru melalui domain KABARWAJO.ID).

Melalui beberapa teman wartawan, Hasri lalu mengajakku bergabung di Humas Pemkab Wajo dan menangani rilis berita.

Sejak saat itu, saya menjadi bagian dari humas dan aktif mengikuti kegiatan Bupati dan Wakil Bupati Wajo maupun kegiatan SKPD.

Hampir lima tahun menjadi bagian dari Humas Pemkab Wajo, menyisakan sejumlah cerita tersendiri. Saya pun sedikit tahu kebiasaan mantan Bupati Wajo Andi Burhanuddin Unru yang akrab disapa Petta Bur saat kedinasan.

Misalnya, ketika ia mengabaikan sambutan tertulis yang dibawanya, maka siap-siap saja sambutannya itu akan lebih dari sejam. Toh, banyak cerita menarik yang disampaikannya.

Hal berkesan, saat saya “iseng” memberitakan insiden bendera Merah Putih terbalik pada pelaksanaan apel di lapangan upacara kantor Bupati Wajo.

Usai apel, Mail yang bertindak sebagai fotografer memperlihatkan hasil jepretannya ke saya.

“Wow, bendera merah putih terbalik. Ini menarik,” ujarku seraya meminta hasil foto tersebut langsung dipindahkan ke komputer.

Beberapa menit, berita selesai dan langsung saya publish di KABARWAJO.COM. Di luar perkiraan, berita bendera Merah Putih terbalik itu viral sampai di Jakarta.

Kabarnya, ada orang penting di Jakarta langsung menelepon Pung Bur ihwal bendera Merah Putih terbalik itu untuk konfirmasi. Teman-teman wartawan lain pun menakut-nakutiku bahwasanya saya pasti akan kena marah.

Keesokan harinya, saya ke kantor Bupati Wajo dengan perasaan was-was. Berdiam diri di ruangan Humas sembari menunggu informasi dari lantai dua yang merupakan ruang kerja bupati.

Lalu, salah seorang teman membawa kabar baik, “Pung Bur tenang-tenang saja, tidak terlihat kalau dia sedang marah,” kata teman tadi.

Beberapa saat kemudian, saya mendengar suara bupati bersama sejumlah pejabat SKPD di tangga depan sementara mengobrol. Sesekali, terdengar tawa lepas di antara mereka.

Saya lalu memberanikan diri mendekat. Pung Bur yang melihat kedatanganku, langsung tertawa lepas sambil berujar, “Bagaimana bendera tidak terbalik, waktu latihan start dari sisi kiri lapangan. Tapi saat apel, pembawa bendera start dari sisi kanan lapangan.”

Syukurlah, “cuaca” cukup baik saat itu. Dan tawa lepas Pung Bur langsung jadi penenang dari rasa waswas kena marah.

(adi.pw)