WA Channel

Maniangpajo, KABARWAJO.ID – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 114 Universitas Hasanuddin di Kelurahan Anabanua, Kecamatan Maniangpajo, Kabupaten Wajo, membuat program pemanfaatan limbah ikan jadi pupuk organik cair untuk mendukung Gerakan Zero Waste dan melakukan penebaran bibit kangkung di KWT Lappo Ase.

Inovasi pemanfaatan limbah ikan ini menjadi langkah nyata dalam mendukung penerapan konsep Zero Waste. Melalui proses fermentasi dengan bantuan mikroorganisme lokal (MOL), limbah ikan yang selama ini dianggap sebagai sampah justru diolah menjadi pupuk organik cair (POC) yang kaya akan unsur hara.

Inisiatif ini tidak hanya mengurangi volume limbah organik, tetapi juga menawarkan solusi ramah lingkungan bagi sektor pertanian dan perkebunan.

“Pemanfaatan limbah ikan dan dijadikan pupuk organik cair ini dapat dibuat oleh semua kalangan masyarakat baik itu siswa, ibu rumah tangga, bahkan para kelompok tani dan peternak sekalipun,” kata Muh Firzan Tambero, mahasiswa Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan program studi Teknologi Hasil Perikanan dalam demonstrasi pembuatan pupuk organik cair tersebut, Sabtu (19/7/2025).

Limbah ikan, yang sering dianggap tidak berguna dan dibuang begitu saja, ternyata memiliki kandungan nutrisi tinggi seperti nitrogen, fosfor, dan kalium, yang sangat dibutuhkan tanaman.

Proses pembuatan pupuk organik cair dari limbah ikan cukup sederhana dan dapat dilakukan oleh masyarakat secara mandiri.

Limbah ikan seperti kepala, tulang, dan jeroan dicampur dengan gula merah, air, dan MOL, kemudian difermentasi selama 7–14 hari. Selain meningkatkan kesuburan tanah, penggunaan pupuk organik cair ini juga membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.

Program tersebut disambut dengan baik oleh para warga di Kelurahan Anabanua, terutama kelompok KWT Lappo Ase. Mereka merasa terbantu terkait masalah ketersediaan pupuk bagi tanaman. Penerapan teknologi sederhana ini menjadi contoh konkret bagaimana limbah organik bisa diolah menjadi produk yang bermanfaat.

Dengan edukasi dan pelatihan yang tepat, masyarakat luas dapat diberdayakan untuk membuat dan memanfaatkan pupuk organik cair ini secara mandiri. []