WA Channel

Gempa bumi berkekuatan 7,5 magnitudo yang disertai tsunami dan likuifaksi melanda wilayah Palu, Sigi, dan Donggala di Sulawesi Tengah pada Jumat petang, 28 September 2018.

Dampak gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi itu merenggut ribuan korban jiwa (yang terdata sekitar 4.340 orang) serta merusak dan menghancurkan ribuan bangunan.

Saya yang kebetulan berada di wilayah Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat (berbatasan langsung dengan Donggala) saat itu merasakan kuatnya guncangan gempa menjelang Magrib tersebut.

Tanah tempat berpijak seolah akan runtuh, dan saya bersama warga lainnya turut mengungsi menjauh dari rumah yang berada di dekat pantai.

Seminggu sebelum gempa dan tsunami, saya sebenarnya sempat melintasi pesisir pantai Palu dan Donggala menuju ke Kabupaten Parigi Moutong yang berada di pesisir Teluk Tomini.

Ceritanya berawal saat salah seorang teman mengajakku menghadiri kegiatan Kemah Budaya Nasional (KBN) IX yang dipusatkan di Bumi Perkemahan Kayu Bura, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

KBN itu diikuti sekitar 3.000 pramuka penggalang mewakili 34 provinsi dari 12 kwartir cabang dan 23 kwartir ranting yang dilaksanakan 16-22 September 2018.

“Kita naik mobil busnya Pemkab Pasangkayu bersama anak-anak Pramuka,” ajak teman semasa SMP di Pasangkayu bernama Ilyas.

Saya yang memang penasaran dengan Kabupaten Parigi Moutong langsung mengiyakan. Tepat 16 September 2018, dengan menggunakan bus milik Pemkab Pasangkayu, rombongan pramuka penggalang peserta Kemah Budaya Nasional IX menuju Parigi Moutong.

Rutenya Pasangkayu, Donggala, Palu, kemudian melintasi jalur Kebun Kopi yang terkenal dengan cerita negeri tak kasat mata Uwentira, hingga tiba di Bumi Perkemahan Kayu Bura, Parigi Moutong.

Sepanjang perjalanan, saya menyempatkan mengeksplor beberapa lokasi yang dianggap menarik.

Di antaranya singgah di Masjid Ar Rahmat Loli Londo Donggala, berfoto di samping tugu kuning Ngapa Uwentira yang disebut-sebut sebagai pintu masuk ke negeri jin, serta mendengar cerita sopir soal penduduk Uwentira yang konon kerap berbaur dengan warga di Palu.

“Yang membedakan, mereka itu (penduduk Uwentira) tidak punya tonjolan di bagian bawah hidung selayaknya kita,” cerita sang sopir yang kerap wara-wiri ke Palu, Pasangkayu, hingga Parigi Moutong.

Tugu kuning Ngata Uwentira.

Saat penutupan perkemahan pada 22 September 2018, saya turut kembali ke Parigi Moutong untuk menjemput rombongan pramuka penggalang perwakilan Kabupaten Pasangkayu.

Dalam perjalanan pulang, saya dan teman sempat kepikiran untuk singgah di Palu selama beberapa hari, namun kemudian urung karena masih ada beberapa urusan di Pasangkayu.

“Tunggu selesai urusanku di Pasangkayu, minggu depan kita ke Palu lagi,” kataku kepada teman saat itu.

Tapi, rencana itu tidak pernah kesampaian. Sesampai di Pasangkayu, kakakku yang baru pulang menunaikan ibadah haji saat itu tidak serta-merta memberikan izin dan mempertanyakan niatku ke Palu.

“Kenapa mau ke Palu lagi, tidak usah pergi-pergi,” ujarnya, saat itu.

Malam harinya, saya lalu menimbang-nimbang antara pergi atau tidak. Saya kemudian menghubungi teman lainnya yang bermukim di Palu untuk mengatur waktu bertemu, namun tidak ada respons.

“Baiklah, saya tidak jadi pergi,” kataku ke diri sendiri.

Seminggu kemudian, tepatnya Jumat petang, 28 September 2018, gempa disertai tsunami dan likuifaksi mengguncang wilayah Palu, Sigi, dan Donggala.

Getaran gempa ini juga dirasakan di sebagian besar provinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, sebagian Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Gorontalo, hingga Sulawesi Utara.

Saya yang saat itu berada di Bambaloka, Kelurahan Baras, Kecamatan Baras, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, yang berbatasan langsung dengan Donggala merasakan kuatnya guncangan gempa.

Bahkan, sempat beberapa hari mengungsi bersama sejumlah warga setempat menjauh dari pantai. Niat untuk liputan korban gempa di Palu dan Donggala pun urung terlaksana saat itu karena terlanjur trauma. []