WA Channel

Sengkang, KABARWAJO.ID – Tradisi pengobatan tradisional di kalangan orang Bugis (Pabbura To Ugi) dengan menggunakan herbal alami ternyata memiliki keselarasan dengan pengobatan medis modern.

Ini diungkapkan dr Muhammad As’ad yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada “Sarasehan Pabbura: Budaya Pengobatan To Ugi sebagai Sistem Kesehatan yang Inklusif dan Berkelanjutan serta Warisan yang Tak Terlupakan” yang dilaksanakan di Garden Coffee, Minggu (5/4) malam.

“Jika kita mencari keselarasan antara pengobatan tradisional Bugis yang kita sebut dengan Pabburata’, baik itu dari pengobatan-pengobatan herbal alami yang ada di sekitar kita, memang memiliki satu garis yang sama. Namun untuk mencari keamanan dari pengobatan tradisional yang biasa digunakan, medis di sini memberikan keamanan dan keefektifan,” ujar As’ad.

“Bagaimana menjaga dosisnya, kegunaannya, dalam hal ini disebut dengan 3T. Yaitu tepat jenis, tepat dosisnya, dan tepat indikasi pengobatannya. Itu yang dijaga. Jadi, memang ada benang merah (pengobatan medis modern) antara pengobatan tradisional Bugis,” lanjut dia.

As’ad menyebutkan, pengobatan-pengobatan herbal alami yang umumnya dilakukan oleh orang Bugis bisa dibuktikan dan mempunyai keselarasan dengan pengobatan medis modern.

“Yang menjadi PR (pekerjaan rumah) bagi anak-anak sekarang mau menjaga budayanya, adalah bagaimana mencari tahu dosis tepatnya, hitung-hitungan dari pengobatan (herbal) tersebut supaya bisa diwariskan dengan tulisan dan nantinya bisa diteliti lebih lanjut untuk keefektifan dan keamanannya,” kata dia.

Terkait dengan baca-baca yang juga menjadi salah satu tradisi pengobatan tradisional Bugis, As’ad menyatakan belum ada pembuktian secara ilmiah dan dari sisi klinis.

“Kalau pengobatan herbal tadi, memang ada pembuktian keselarasan dengan pengobatan medis modern. Ada buktinya, ada ukuran, ada takaran. Kalau soal baca-baca, jampi-jampi, kan itu tidak bisa diteliti secara takaran dan ukuran sehingga tidak bisa dipertanggungjawabkan,” ujar As’ad.

Kendati demikian, dia menilai baca-baca maupun jampi-jampi kecenderungan ke sisi psikologis atau sugesti dari si pasien.

“Sugesti, ya (kemungkinan) itu,” ucap As’ad.

Pabbura sebagai Sistem Pengetahuan

Sementara itu, Pemerhati Budaya Andi Rahmat Munawwar mengatakan sarasehan tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan paradigma alternatif tentang pabbura sebagai sistem pengetahuan, makna pabbura dalam perspektif kebudayaan, serta nilai-nilai yang terkandung dalam pabbura serta pergeseran nilai yang terjadi.

“Dunia medis modern sendiri kini mulai bergerak ke arah yang lebih integratif. WHO melalui Traditional Medicine Strategy 2019-2023 secara resmi mendorong negara-negara anggotanya untuk mengintegrasikan pengobatan tradisional ke dalam sistem kesehatan nasional,” kata Andi Rahmat Munawwar.

“Ini tentu menjadi sebuah pengakuan global bahwa kearifan lokal memiliki tempat yang sah dalam lanskap kesehatan modern,” pungkas Ketua KPU Wajo ini.

Sarasehan Pabbura yang dimoderatori Andi Muhammad Syukur itu diikuti sejumlah mahasiswa, sanggar seni, serta masyarakat umum yang sempat hadir di Garden Coffee. []