WA Channel

Tak hanya menyederhanakan urusan transaksi dan logistik, kehadiran platform digital turut membantu UMKM di daerah memperluas jangkauan pemasaran. Berkat transformasi digital, kini banyak UMKM naik kelas.

——-

HATI Athirah remuk. Kepindahannya dari Bone ke Makassar sekitar tahun 1950 bersama sang suami Hadji Kalla untuk mengembangkan usaha, malah menjadi awal keretakan rumah tangganya. Saat Athirah hamil tua anak keempat, dia mendengar kabar Puang Aji – sapaan Hadji Kalla – diam-diam menikah lagi dengan wanita lain. Sadar akan hal itu, Hadji Kalla berusaha membujuk sosok perempuan yang telah menemaninya dari awal merintis bisnis di Bone bahwa tidak ada yang berubah meski dia memutuskan menikahi perempuan lain.

Namun, Athirah terlanjur kecewa. Apalagi, kabar poligami itu justru didengarnya dari orang lain. Juga, tanpa seizin dirinya. Meski merasa dikhianati, Athirah berusaha tegar. Tak ingin larut dalam kesedihan, dia memilih pulang ke Bone dengan membawa serta keempat anaknya. Nuraini Kalla, Jusuf Kalla, Zohrah Kalla, dan Salman Kalla yang masih balita.

Di Bone, Athirah berusaha bangkit secara mandiri. Terinspirasi dari cerita ibunya, Mak Kerah, tentang sarung sutra (lipa sabbe) yang sangat berharga dan kerap dijadikan mas kawin, Athirah belajar menenun. Dia kerap ke Sengkang, Wajo, yang berjarak 67 kilometer dari Watampone untuk mendapatkan bahan baku berupa benang sutra. Perlahan, hasil tenun sutra yang dijual dari rumah ke rumah itu banyak diminati. Uang hasil penjualan kain sutra dia belikan emas di pasar yang kemudian disimpan di dalam kotak perhiasan.

Kelak, emas yang disimpannya itu membantu Hadji Kalla dari kebangkrutan. Hiperinflasi yang melanda Indonesia tahun 1963, berdampak pada usaha Hadji Kalla di Makassar. Saat tidak mampu membayar gaji pegawai, Hadji Kalla pulang ke Bone dan menceritakan kesulitan yang dialami pada istri pertamanya. Dengan berbesar hati, Athirah meminta Ucu’ atau Jusuf Kalla remaja mengambil kotak perhiasan yang selama ini disimpannya dan diserahkan ke suaminya untuk membantu membayar gaji pegawai.

Penggalan kisah tersebut merupakan potongan adegan film “Athirah” yang dirilis tahun 2016, menceritakan tentang kisah ibunda Jusuf Kalla. Film yang diproduseri Mira Lesmana dan disutradarai Riri Riza ini, berlatar belakang tahun 1950 hingga 1963 yang diangkat dari novel karya Alberthiene Endah dengan judul yang sama. Film ini menggambarkan kegigihan seorang perempuan Bugis yang bertahan dari badai rumah tangga dengan menenun lipa sabbe yang kemudian dijualnya dari rumah ke rumah. Sebuah potret Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di masa awal-awal kemerdekaan.

Athirah, yang diperankan Cut Mini. Film yang dirilis tahun 2016 ini berkisah tentang perjuangan Ibunda Jusuf Kalla, Athirah, yang bertahan dari badai rumah tangga dengan berjualan kain sutra (lipa sabbe) yang ditenun secara tradisional. Foto: Dok. Istimewa/Tangkapan Layar

Lipa Sabbe Warisan Leluhur

Bagi masyarakat Bugis, kain tenun sutra atau lipa sabbe merupakan warisan leluhur yang tak lekang oleh zaman. Kain tenun yang telah berusia ratusan tahun ini tetap lestari hingga kini melalui tangan-tangan terampil menenun perempuan Bugis yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu sentra industri tenun sutra yakni di Desa Pakkanna, Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Desa ini masyhur dengan sebutan “Kampung Sutra”, berjarak enam kilometer dari pusat ibu kota kabupaten. Dari kolong rumah panggung khas masyarakat Bugis, aktivitas menenun dengan alat tradisional yang dikenal dengan tennung bola-bola dilakukan ibu-ibu rumah tangga hingga gadis remaja di sela-sela kesibukan mengurus rumah tangga serta pekerjaan domestik lainnya.

Salah seorang perajin kain sutra, Megawati (55), menuturkan, keterampilan menenun telah diwariskan di keluarganya secara turun-temurun. Dari nenek ke ibunya, dan kini dia sendiri telah menekuni kerajinan itu sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.

“Sudah turun-temurun menenun (kain sutra) kalau warga di sini (Desa Pakkanna). Saya sudah menenun sejak masih SD dan tamat (sekolah) sekitar tahun 1986,” kata Megawati, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Menurut Megawati, aktivitas menenun tak sekadar melestarikan warisan leluhur, tetapi juga memenuhi kebutuhan ekonomi domestik oleh ibu-ibu rumah tangga. Menopang perekonomian keluarga, yang mana suami umumnya bekerja sebagai petani atau nelayan di Danau Tempe.

“Sehari bisa selesai (menenun) dua meter, bisa juga lebih kalau sedang tidak banyak kegiatan di luar rumah. Kami di sini digaji, tinggal menenun saja. Bahan baku dan motif, itu toko yang tentukan,” kata Megawati, sambil menyebut salah satu toko kain sutra yang juga berada di kawasan “Kampung Sutra Pakkanna”.

Bukan hanya Megawati, aktivitas menenun di kolong-kolong rumah panggung dilakukan hampir sebagian besar ibu-ibu rumah tangga dan remaja putri di Desa Pakkanna. Menenun menjadi bagian dari keseharian mereka, sembari bekerja sama dengan pemilik galeri dan toko sutra setempat untuk memasarkan hasil tenunan.

Megawati, salah seorang penenun sutra tradisional khas Wajo di Desa Pakkanna, Kecamatan Tanasitolo. Foto: Sapriadi/kabarwajo.id

Ikbal, pemilik toko Aminah Akil Silk menuturkan, usaha berjualan kain sutra merupakan warisan keluarga yang telah dijalankan sejak masa kakek buyutnya, dan kini dilanjutkan oleh generasi penerus.

“Usaha ini sudah dirintis sejak 1950-an oleh kakek buyut kami. Sekarang kami teruskan dan bekerja sama dengan para penenun,” kata Ikbal, saat ditemui di tokonya.

Dia menuturkan, penjualan dilakukan baik secara langsung dengan berjualan di toko maupun melalui platform digital seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, hingga e-commerce. Terkadang, turis asing datang berwisata langsung ke Desa Pakkanna dan membeli suvenir dari kain sutra.

Adapun produk kain sutra yang dijual beragam, mulai dari bahan tenun, sarung, bahan kemeja, rok, hingga gaun. Sarung sutra yang dibuat dari benang sutra lokal dihargai mulai Rp1 juta, sedangkan sarung sutra yang dibuat dari benang impor India dibanderol mulai Rp200 ribu.

Dari Zaman Kolonial hingga Platform Digital

Merunut ke belakang, menurut sejarawan dan pegiat literasi asal Kabupaten Wajo Andi Rahmat Munawar, perdagangan sarung sutra khas Wajo ke Nusantara sudah dilakukan sejak tahun 1670 dengan kapal pinisi. Pelayaran ke wilayah-wilayah lain di Nusantara itu dilatarbelakangi menguatnya pengaruh VOC di Sulawesi bagian selatan setelah mengalahkan Kesultanan Gowa dalam Perang Makassar yang berakhir dengan penandatanganan Perjanjian Bungaya tahun 1667. Dalam pelayarannya dengan kapal pinisi, orang-orang Bugis Wajo sekaligus mengembangkan perdagangan.

“Mulai tahun 1670, itu sudah banyak orang-orang Wajo yang pergi berlayar hingga ke tanah Bare’. Tanah Bare’ ini merujuk Kalimantan, Jawa, Sumatera, hingga Malaysia serta Singapura yang dulunya masih bernama Tumasik. Salah satu komoditas yang dibawa berlayar, yaitu lipa sabbe,” ungkap Andi Rahmat Munawar, Jumat, 28 Agustus 2026.

Disebutkan, pedagang-pedagang Bugis Wajo yang kembali dari pelayarannya membawa sejumlah komoditas penting, termasuk benang sutra yang diperoleh melalui perdagangan dengan pedagang asal Tiongkok.

“Dalam sebuah lontara bilang (catatan harian) menuliskan seperti ini: Pole tana Bare, na engka anakoda poleang wennang cella sibawa wennang pute (Dari tanah Bare’, ada nakhoda yang datang membawa benang berwarna merah dan benang berwarna putih),” jelasnya.

Lontara bilang tersebut menegaskan adanya hubungan dagang antara pedagang Bugis Wajo dengan pedagang asal Tiongkok yang mereka temui di pelabuhan-pelabuhan kawasan Selat Malaka dan Sumatra. Komoditas kain sutra yang dibawa oleh para pedagang Bugis Wajo tidak semata-mata untuk kepentingan perniagaan, tetapi juga memiliki fungsi sosial budaya sebagai mahar dalam pernikahan lintas etnis serta menjadi persembahan diplomatik kepada raja atau bangsawan di wilayah yang mereka singgahi.

H Badi, pemilik Toko Losari Silk yang sudah tiga dekade menjalani usaha penjualan kain tenun sutra Sengkang. Foto: Sapriadi/kabarwajo.id

Haji Badi, salah seorang pelaku usaha industri tenun sutra Sengkang mengisahkan, pada era 1960-an, proses pemasaran kain tenun sutra Wajo diangkut dengan kuda dari wilayah kecamatan menuju Pasar Impa-Impa yang kala itu menjadi salah satu pusat perdagangan sarung sutra di Kabupaten Wajo.

“Saya masih ingat, dulu Pasar Impa-Impa selalu ramai setiap hari. Ada los khusus untuk penjual kain sutra. Zaman itu, masih nateke annyarang (diangkut pakai kuda) dari kampung ke pasar,” kenang Haji Badi.

Dia menambahkan, para pedagang juga pernah menjajakan sarung sutra dari rumah ke rumah ke berbagai daerah dengan menggunakan motor legendaris Yamaha RX King. Seiring perkembangan zaman, pola penjualan kain tenun sutra Wajo bertransformasi.

Wahyuni, karyawan toko di “Kampung Sutra” Desa Pakkanna mengatakan, dia telah beberapa kali mengirimkan kain sutra ke berbagai wilayah di Indonesia melalui layanan ekspedisi. Orderan itu datang melalui penjualan di beberapa platform media sosial, seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan e-commerce. Pengiriman dilakukan ke daerah-daerah seperti Tangerang, Nunukan (Kalimantan Utara), Maluku, Manado, hingga Papua.

“Juga pernah kirim ke Malaysia. Bukan hanya kain sutra, pembeli juga pesan jas tutup dan baju Bodo (baju adat Bugis),” kata dia.

Hal senada diungkapkan Andi Indra Kurniawan, pemilik Toko Sinar Sutra Sengkang. Selain berjualan secara langsung di Pasar Sentral, dia juga memaksimalkan berbagai platform media sosial sebagai sarana pemasaran digital. Mulai dari Facebook, Instagram, TikTok, dan Shopee.

“Saya mulai jualan di Shopee, sudah berjalan 9 bulan. Memang masih baru. Tujuan berjualan secara online tentunya ingin menjangkau customer di luar daerah yang selama ini tidak terjangkau melalui penjualan langsung di toko,” ungkap Andi Indra.

Diakuinya, awal-awal memulai berjualan secara online, dirinya hampir menyerah. Kendati demikian, Andi Indra menyatakan dirinya terus belajar mengembangkan bisnis penjualan kain sutra melalui platform digital.

“Awal-awal jualan (online), kami juga hampir menyerah. Tantangannya, melawan kemalasan saya sendiri untuk tetap terus bergerak dan bertindak mencari solusi dalam setiap masalah yang dilalui. Tantangan terberatnya, hanya kemalasan dan itu harus diubah,” ujarnya.

Untuk memaksimalkan penjualan online, dua orang karyawan ditugaskan Andi Indra untuk memaksimalkan pemasaran melalui platform digital. Di samping melayani orderan, mereka juga melakukan live shopping di TikTok. Di toko miliknya, terpajang kain tenun sutra dengan berbagai motif serta baju bodo yang juga banyak diminati pembeli dari luar daerah.

“Selain sarung sutra, baju bodo juga banyak dipesan customer,” ungkapnya.

Bale Rakko, Naik Kelas Berkat Digitalisasi

Produk khas asal Kabupaten Wajo lainnya yang mulai dilirik yakni ikan kering atau bale rakko. Ikan kering khas Wajo ini diproduksi oleh pelaku UMKM yang umumnya ibu-ibu rumah tangga di pesisir Danau Tempe. Selanjutnya dijual di pasar-pasar tradisional.

Salah satu pelaku UMKM Bale Rakko, Nike Ardillah (35) mengatakan, dirinya mulai menggeluti usaha tersebut sejak tahun 2016. Ikan yang dibeli dari nelayan selanjutnya dikeringkan dengan cara dijemur hingga durasi tiga hari.

“Saya mulai di tahun 2016. Awalnya kerja sendiri, mulai dari membeli langsung ikan ke nelayan, membersihkan ikan lalu menjemur langsung selama tiga hari,” kata Nike Ardillah kepada KABARWAJO.ID ditemui Sabtu sore, 29 Agustus 2026.

Nike Ardillah (35), pelaku UMKM Bale Rakko atau ikan kering khas Kabupaten Wajo. Berkat platform digital, kini dia banyak menerima orderan dari berbagai daerah. Foto: Sapriadi/KABARWAJO.ID

Tahun 2025, dia memutuskan menjual secara online dengan memanfaatkan sejumlah platform digital seperti Facebook, Instagram, TikTok, hingga e-commerce. Usaha ikan kering yang awalnya dikerjakan sendiri, kini Nike Ardillah memberdayakan warga sekitar dalam membantu pengolahan hingga pengemasan.

“Sekarang sudah punya karyawan, sekitar 20-an orang. Ada yang bertugas membersihkan ikan sebelum dijemur, ada yang mengawasi proses penjemuran, hingga pengemasan,” imbuhnya.

Dia tak menampik makin banyak orderan setelah memutuskan berjualan secara online dengan memanfaatkan platform digital. Menurut Nike, ikan kering khas Wajo itu diorder dari berbagai daerah, di antaranya Morowali (Sulawesi Tengah), Kupang (Nusa Tenggara Timur), Manado, Kendari hingga Jayapura.

“Ada juga reseller dari daerah lain yang memesan langsung. Seperti dari Makassar, Pangkep, dan Bone. Mereka ini umumnya order dalam jumlah banyak untuk dijual kembali,” ungkapnya.

Jenis ikan yang diproduksi menjadi ikan kering beragam. Mulai dari mujair, ikan gabus, nila, serta ikan khas Danau Tempe, bungo.

“Yang paling banyak diminati itu ikan Bungo, karena memang khas Wajo. Ikan kering dikonsumsi seperti cemilan dan juga lauk. Kayak kerupuk. Masa simpannya lama, sampai 1 tahun,” ujar Nike Ardillah.

Hadirkan Program Akselerasi Produk Lokal

Seiring perkembangan teknologi, wajah baru ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ditandai dengan adanya digitalisasi ekonomi dan transformasi UMKM. Hal ini diiringi pertumbuhan jutaan UMKM berbasis teknologi dan aktivitas perdagangan yang kini bergeser ke ruang digital. Dengan kehadiran beragam platform digital, UMKM di daerah-daerah pun berkesempatan naik kelas dan menjangkau pemasaran hingga ke penjuru daerah maupun mancanegara.

Shopee sebagai salah satu platform e-commerce terkemuka turut memberi dukungan terhadap transformasi digital UMKM. Bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan, Shopee Indonesia meluncurkan Program Akselerasi Produk Lokal pada Kamis, 13 Agustus 2026. Program ini menjadi inisiatif Shopee dalam mendukung UMKM untuk memperkuat daya saing produk di ekosistem digital. Hal ini juga sejalan dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 19 Tahun 2026.

Shopee Indonesia dan Kementerian Perdagangan RI meluncurkan Program Akselerasi Produk Lokal yang dihadiri Menteri Perdagangan RI Budi Santoso, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Iqbal Shoffan Shofwan, dan Ketua Umum Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) Budi Primawan. Foto: Dok. Shopee Indonesia

“Shopee merespons dengan cepat peraturan ini dengan meluncurkan Program Akselerasi Produk Lokal, yang di dalamnya ada berbagai fasilitas dan program dukungan untuk mendorong daya saing usaha lokal agar produk-produk lokal diutamakan sehingga semakin menjadi pilihan utama konsumen, dan agar semakin dikenal di dalam negeri hingga bisa menembus pasar ekspor,” kata Menteri Perdagangan Budi Santoso dikutip melalui siaran pers, Kamis, 13 Agustus 2026.

Sementara Deputy Director of Public Affairs Shopee, Radynal Nataprawira, menyatakan dukungan promosi dalam bentuk voucher oleh Shopee Indonesia selama periode Januari hingga Mei 2026 memberikan dampak nyata dalam membantu meningkatkan minat beli konsumen dan memperbesar peluang transaksi.

“Berangkat dari efektivitas tersebut, Shopee menghadirkan Voucher Akselerasi Usaha Lokal sebagai bentuk dukungan tambahan bagi penjual dengan 100 persen produk lokal agar dapat berkembang lebih berkelanjutan,” ungkap Radynal dalam keterangan persnya.

Disebutkan, melalui Program Akselerasi Produk Lokal tersebut, Shopee ingin menghadirkan dukungan yang semakin relevan bagi UMKM dalam perkembangan usaha, mulai peningkatan penjualan dan keterampilan digital dengan hadirnya Kampus UMKM Shopee Kelas Online, membuka akses ke pasar global, meningkatkan efisiensi operasional, transparansi pengelolaan program melalui Pengelolaan Program Saya, hingga perlindungan HAKI melalui Brand IP Portal.

(Penulis : Sapriadi)